Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 23 Maret 2026

Diplomat Muda Yang Membanggakan

Redaksi - Minggu, 04 Oktober 2020 09:56 WIB
1.263 view
Diplomat Muda Yang Membanggakan
Foto: thebluediamondgallery.com
Ilustrasi Diplomat 
Di tengah kekhawatiran akan Covid-19 di dalam negeri, muncul kabar menggembirakan sekaligus membanggakan dari Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York AS baru-baru ini. Seorang wanita muda yang bertugas sebagai diplomat Indonesia di PBB, Silvany Austin Pasaribu dengan lantang membungkam pernyataan PM Vanuata, sebuah negara di Pasifik yang menuding Indonesia melakukan pelanggaran HAM di Papua dan Papua Barat.

Boru Batak, diplomat muda asal Sorkam Tapanuli Tengah itu secara tegas mengatakan bahwa tak baik Vanuata sebagai negara yang belum menandatangani konvensi internasional tentang penghapusan diskriminasi rasial mendikte Indonesia mengenai isu HAM di Papua. Dunia (PBB) sejak 1945 sudah mengakui bahwa Papua itu bagian dari Indonesia, kenapa masih ada negara lain yang mencampuri urusan dalam negeri Indonesia ?

Sebagaimana diketahui, sampai saat ini masih ada negara yang mengusik keberadaan Papua sebagai bagian dari negara Indonesia. Bukan rahasia lagi bahwa mereka tergiur melihat Papua yang kaya dengan sumber daya alam yaitu tambang emas dan tembaga di Timika serta kekayaan alam lainnya, yaitu hutan dan potensi wisata.

Mereka mempersoalkan kurangnya kepedulian HAM dan pembangunan yang dilakukan RI ke provinsi yang berbatasan dengan negara Papua New Guinea (PNG) itu. Mereka menuding Indonesia melakukan pelanggaran HAM di Papua. Hal tersebut sudah berulangkali dibantah pemerintah dan dibuktikan dengan tingginya perhatian Presiden Jokowi ke Papua. Bahkan sejak menjadi presiden, Jokowi sudah 13 kali berkunjung ke Papua dan berdialog langsung dengan masyarakat untuk mengetahui masalah, kondisi dan apa yang dibutuhkan mereka.

Masyarakat Papua juga sudah merasakan pemerataan pembangunan, seperti jalan tol trans Papua yang membuka keterisoliran dan pemberlakuan BBM satu harga yang cukup spektakuler di era pemerintahan Presiden Jokowi. Selama ini karena sulitnya transportasi, harga premium bisa mencapai Rp 50.000/liter, kini harga di pelosok Papua sudah sama dengan di Medan, Jakarta dan daerah lainnya.

Selain itu juga Presiden secara langsung sudah melakukan kemudahan pengurusan sertifikat tanah dan membagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat. Selain itu masih banyak lagi pembangunan yang sudah dilakukan pemerintah sebagai bentuk perhatian kepada provinsi yang terletak di kepulauan Pasifik itu.

Dengan fakta-fakta tersebut maka tidak ada alasan menyatakan Indonesia tidak peduli dan melakukan pelanggaran HAM di Papua sebagaimana tudingan PM Vanuata. Sehingga dunia (PBB) juga mendukung Indonesia terkait Papua.

Dengan tampilnya diplomat muda kita di PBB memberikan penjelasan rinci tentang Papua tentu sangat membanggakan. Kita tidak menyangka bahwa diplomat muda kita ternyata punya harapan ke depan dalam berdiplomasi di dunia internasional. Tidak memalukan, tetapi membanggakan.

Harapan kita potensi anak-anak muda kita di tengah pandemi Covid dan resesi ekonomi ini juga bisa muncul menangkap peluang berusaha sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Apalagi saat ini merupakan eranya teknologi digital dan sekaligus juga eranya anak-anak muda karena mayoritas merekalah yang menguasainya.

Sehingga diharapkan anak-anak muda kita menularkan kemampuan teknologi digital kepada para pelaku UKM, sehingga bisa memanfaatkannya dalam berusaha. Jadilah kreatif dan berikan masukan kepada pemerintah bagaimana membina para pengusaha kecil dan menengah untuk memanfaatkan teknologi digital ini dalam pengembangan usahanya.

Jadilah anak-anak muda yang membanggakan, menguasai teknologi untuk pengembangan potensi dirinya, bukan hanya untuk bermain game. (*)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru