Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Oktober 2026
Tajuk Rencana

Bencana dan Solidaritas Kita

- Sabtu, 27 Desember 2014 10:57 WIB
364 view
Bencana - tsunami Aceh baru saja diperingati. 10 tahun berlalu, bencana terbesar yang pernah terjadi di negeri ini, menelan korban ratusan ribu orang, baik meninggal maupun hilang. Tidak terhitung kerugian material kala itu. Masih teringat, di mana-mana korban bergelimpangan mayat dan pengungsi.

Sejak itu, pemerintah berjuang melakukan perbaikan. Bersamaan dengan perdamaian dengan GAM, pemerintah membangun Aceh dengan bantuan banyak pihak. Secara internasional saja, 5 miliar dollar Amerika digelontorkan khusus untuk Aceh waktu itu. Belum lagi kerjasama bilateral dan donor internasional. Sebuah projek kemanusiaan skala besar.

Aceh juga menjadi projek eksperimentasi kemampuan banyak pihak. Para intelektual berpacu bersama para aktifis untuk memerangi berbagai masalah yang muncul. Entah itu masalah penyakit, gangguan psikologis, bahkan membangun shelter yang tahan gempa juga dibangun dengan ide-ide mengadaptasi lingkungan yang sarat gempa. Waktu itulah diketahui  bahwa rekahan yang muncul di palung bawah laut Aceh ternyata adalah tumbuhan yang merupakan bagian dari ring of fire gunung api. Hal itu memberikan pengetahuan baru betapa labilnya kawasan Indonesia ini.

Tetapi yang patut dikenang adalah aksi solidaritas spontan masyarakat kala itu. Tanpa diminta, begitu mendengar jatuhnya banyak korban jiwa, masyarakat segera mengirimkan bantuan baik material, tenaga, pakaian maupun makanan. Semuanya tanpa pamrih dikirimkan kepada mereka yang membutuhkan.
Aksi-aksi bantuan masyarakat ditampung media massa, media cetak dan elektronik. Juga ditampung berbagai lembaga dan institusi. Semuanya tanpa dikomando, melakukan tugasnya, memberikan apa yang diperlukan untuk menolong saudara-saudaranya yang menderita di Aceh.

Itulah solidaritas sebagai anak bangsa. Dan itu pulalah modal kita. Modal untuk kebersamaan bahwa kita memiliki kesatuan dalam memandang sesama, dan karena alasan itulah kita adalah bagian yang sama. Kita menjadikan semua  saudara tanpa pada perbedaan.  Maka tidak heran, jika bencana menimpa Aceh dukanya terasa sampai ke Merauke.

Kita harus memupuk kebersamaan ini. Kebersamaan bahwa persoalan yang dihadapi  rekan sebangsa dan setanah-air adalah persoalan kita juga. Kita harus menjadikan hal ini sebagai kesempatan bagi aksi solidaritas tanpa pamrih.

Belakangan berbagai bencana terus menerus terjadi di negeri ini. Banjir terulang kembali di Aceh juga di Bandung. Tanah longsor terjadi di Banjarnegara. Belum lagi bencana lain yang akan datang. Kita harus bersiap berbagi dan menjadikan diri kita sebagai warga bangsa yang satu. Kita harus mempersiapkan diri untuk membagikan apa yang ada pada kita untuk menjadi milik orang yang menderita. Itulah inti dari solidaritas nasional yang kita jadikan sebagai modal tadi.

Sifat ini harus dipupuk. Negeri ini harus menjadikan solidaritas  dan kebersamaan sebagai sebuah ciri khas kita tanpa membeda-bedakan satus ama lain.

Tanpa memandang secara individualisme dan konsumerisme yang dapat menggerus solidaritas kita sebagai bangsa tak bisa dipungkiri, Aceh merupakan memori keberhasilan solidaritas maupun kebersamaan kita. (***)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru