Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 27 Oktober 2026

Mewujudkan Kuala Tanjung Menjadi Pemain Utama di Selat Malaka

- Sabtu, 30 Mei 2015 10:39 WIB
1.027 view
Mewujudkan Kuala Tanjung Menjadi Pemain Utama di Selat Malaka
Setiap tahun ada 50 juta teus kontainer yang bergerak di Selat Malaka. Namun, Indonesia belum menjadi tujuan utama bongkar muat dengan jumlah teus yang cukup besar setiap tahunnya. Mereka lebih memilih ke pelabuhan negara Singapura, yang posisinya berdekatan dengan Sumut.

Dari 50 juta teus kontainer yang lintas di Selat Malaka, pelabuhan Belawan hanya mendapat 1 juta teus, Tanjung Priok 7 juta teus, Batam 300.000 teus, dan Surabaya 4 juta teus. Indonesia secara keseluruhan mendapat jatah 15 juta teus. Singapura memperoleh 30 juta teus dan Malaysia dengan perlabuhan Port Kelang 5 juta teus.

Melihat potensi tersebut, saat ini PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I mulai membangun dan mengembangkan Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batu Bara, Sumut. Kuala Tanjung dinilai sangat strategis menampung bongkar muat kontainer yang lalu-lalang di jalur pelayaran Selat Malaka. Pada tahun 2019, pelabuhan yang dekat dengan Sei Mangke ini diharapkan bisa menampung 2 juta teus kontainer dan menjadi hub port Barat Indonesia.

Untuk mewujudkan impian tersebut, Pelindo I membangun Pelabuhan Kuala Tanjung dalam  tiga tahapan. Tahap pertama yaitu pengembangan multi purpose terminal dengan kapasitas 500 ribu teus yang saat ini progres di lapangan sebesar 2%. Fisik pembangunan akan selesai Desember 2016 dan siap dioperasikan di kuartal I-2017. Untuk membangun terminal ini, Pelindo I butuh dana sebesar Rp 4 triliun. 

Pada tahap II pengembangan kawasan industri. Di sini Pelindo I membutuhkan akuisisi lahan sehingga membutuhkan dana hingga Rp 5 triliun. Sedangkan tahap III akan dibangun Terminal Petikemas. Untuk terminal petikemas ini,  Pelindo I membutuhkan dana yang cukup besar hingga 4 miliar dolar AS. Diharapkan pada tahun 2019 seluruh pembangunan fisik pelabuhan selesai dan Kuala Tanjung dapat menampung bongkar muat kontainer hingga 2 juta teus per tahun.

Memang butuh dana yang tak sedikit untuk mewujudkan Kuala Tanjung menjadi pemain utama di Selat Malaka. Jika ini bisa diwujudkan, maka roda ekonomi di Sumut akan bergerak kencang. Banyak sektor yang akan mengalami efek domino saat Pelabuhan Kuala Tanjung menerima 2 juta teus kontainer setiap tahunnya. Ribuan bahkan ratusan ribu lowongan kerja akan terbuka lebar.

Hal itu juga akan menghidupkan lalu lintas laut dari dan ke Sumut di kawasan pantai Timur yang selama ini sudah menurun. Apalagi dengan beroperasinya kawasan industri Sei Mangke, Kabupaten Simalungun, dipastikan sangat terbantu dengan peningkatan kapasitas pelabuhan Kuala Tanjung tersebut. Ini sekaligus menjadi solusi makin terbatasnya lahan untuk pengembangan terminal peti kemas di Belawan.

Pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung sangat sinkron dengan konsep pembangunan ekonomi maritim yang didengungkan pemerintahan Jokowi-JK.  Semua pihak diharapkan mendukung perwujudkan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai hub port Barat Indonesia. Dana besar yang diperlukan sebanding dengan manfaat yang akan diperoleh.

Pemerintah perlu mendorong lembaga pembiayaan dalam negeri untuk membantu. Begitu juga untuk pembebasan lahan, pemerintah daerah harus terlibat untuk mencegah spekulan bermain. Pelindo I butuh dukungan seluruh stakeholder untuk mewujudkannya. (**)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru