Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Oktober 2026

Dari Masalah Baterai hingga Larangan Penerbangan

* Garuda, Lion Air, Citilink, Sriwijaya Air Larang Penggunaan Galaxy Note 7
- Kamis, 15 September 2016 15:16 WIB
544 view
Dari Masalah Baterai hingga Larangan Penerbangan
Galaxy Note 7: Dari masalah baterai hingga larangan penerbangan.
Jakarta (SIB)- Samsung Galaxy Note 7 menjadi buah bibir pencinta gadget Tanah Air bahkan dunia, setelah mengalami ledakan baterai. Terhitung hingga 1 September 2016, halaman resmi Samsung menyebut telah terjadi 35 kasus ledakan di berbagai negara.

Mengetahui hal tersebut, pihak Samsung pun menarik kembali unit Galaxy Note 7 yang telah terjual di kawasan tertentu. Di Indonesia, konsumen yang telah melakukan pre-order terpaksa harus membatalkan pemesanan dengan jaminan uang kembali.

Namun insiden ledakan yang terjadi akibat Galaxy Note 7 tidak berhenti sampai di situ. Pada 7 September 2016, seorang pria asal Australia mengalami kebakaran kecil di kamar hotelnya akibat ledakan Galaxy Note 7. Ia diketahui meninggalkan smartphone barunya tersebut dalam keadaan sedang diisi daya.

Saat ia tertidur, diketahui bahwa Samsung Galaxy Note 7 yang sedang diisi daya tersebut mengeluarkan percikan api dan dalam sekejap mengakibatkan kebakaran. Ia kemudian harus menanggung biaya ganti rugi kamar sebanyak USD1.400.

Kasus lain yang juga terjadi akibat ledakan baterai Galaxy Note 7 menimpa seorang pria di Florida, Amerika Serikat. Akibat ledakan tersebut, ia mengalami kerugian materiil karena satu unit mobil Jeep miliknya juga terbakar bersama smartphone itu.

Saat itu diketahui bahwa pria bernama Dornacher tersebut sedang mengisi daya Galaxy Note 7 di dalam mobil. Ia mengaku bahwa stop kontak di dalam rumahnya sedang bermasalah. Beruntung, istri dan anak Dornacher yang semula berada di dalam mobil telah keluar sebelum ledakan terjadi.

Mengetahui mobilnya terbakar, ia kemudian langsung menelefon pihak pemadam kebakaran. Beruntung, sebelum menjalar lebih luas, pemadam kebakaran bisa mematikan kobaran api di mobil Jeep Dornacher.

Buntut dari insiden ledakan, beberapa maskapai penerbangan kemudian memberlakukan larangan bagi penumpangnya untuk mengaktifkan Galaxy Note 7. Hal itu diungkap pada Kamis 8 September 2016 waktu setempat. Federal Aviation Administration (FAA) mengatakan bahwa penumpang dilarang mengaktifkan, mengisi daya, dan juga membawa perangkat tersebut ke dalam bagasi.

Beberapa perusahaan penerbangan kemudian mulai memberlakukan aturan yang dibuat oleh badan regulasi penerbangan Amerika Serikat tersebut. Tercatat bahwa maskapai American, Delta, United, Singapore Airlines, Qantas Airways, hingga Air France KLM juga menerapkan hal yang sama.

Di Indonesia, beberapa penerbangan, seperti Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, dan menyusul Lion Air, juga diketahui telah mengimbau penumpangnya untuk tidak menggunakan Galaxy Note 7.

Tak tinggal diam, Samsung menjelaskan bahwa ledakan yang terjadi pada Galaxy Note 7 berasal dari baterai yang dipasok oleh Samsung SDI. Baterai yang overheating (panas) terjadi akibat anoda dan katoda (aliran negatif dan positif) yang mengalami masalah korsleting.

Baru-baru ini, pihak perusahaan kembali mengimbau kepada konsumen yang telah memiliki Galaxy Note 7 untuk segera menukarnya dengan unit terbaru. Melalui halaman resminya, Samsung menjelaskan bahwa penukaran bisa dilakukan di toko pengguna membeli Galaxy Note 7 atau menghubungi call center.

Melalui pernyataan resminya, DJ Koh, President of Mobile Communication Bussiness Samsung Electronic mengatakan bahwa saat ini pihaknya bertindak untuk memastikan keselamatan konsumennya dan meminta pengguna untuk segera mengganti perangkat yang telah dibeli dengan yang baru.

"Prioritas utama kami adalah memastikan keamanan pelanggan. Kami meminta pengguna untuk mematikan Galaxy Note 7 dan menukar mereka secepatnya. Kami sedang mengirimkan perangkat pengganti sehingga mereka akan tersedia melalui program penukaran senyaman mungkin dan sesuai dengan peraturan," ungkap Koh.

Meski begitu, Samsung sendiri masih belum memberikan informasi kapan perangkat pengganti tersebut akan mulai tersedia. (Okz/d)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru