Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Oktober 2026

Nuklir Mulai Tersingkirkan oleh Energi Terbarukan

- Kamis, 13 Oktober 2016 19:25 WIB
167 view
Nuklir Mulai Tersingkirkan oleh Energi Terbarukan
Komisi Federal Pengawasan Energi (FERC) dan Dinas Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) melaporkan penggunaan energi nuklir untuk pembangkit listrik saat ini merosot secara tajam dibandingkan dengan sumber-sumber energi terbarukan.

Di dalam jurnal Monthly Energy Review terbaru, EIA melaporkan bahwa pada paro pertama tahun 2016, sumber energi terbarukan biofuel, biomassa, geotermal, energi hidro, energi matahari, dan angin, telah memberikan sumbangsih sebanyak 5,242 kuadriliun BTU dari produksi energi domestik di AS.
Sumber energi ini sudah termasuk wujud energi berupa panas, likuid, dan listrik. Sebagai perbandingannya, energi nuklir hanya memberikan sumbangan sebanyak 4,188 kuadriliun BTU.

Itu berarti energi terbarukan telah mengalahkan energi nuklir yang hanya berproduksi tak lebih dari 25 persen saja.

Sementara itu, di dalam jurnal terbaru Energy Infrastructure Update, FERC menyatakan bahwa kapasitas pembangkit terpasang di AS yang tergabung dalam skala utilitas (seperti lebih besar dari 1 megawatt) energi hidro, angin, matahari, biomassa, dan geothermal telah meningkat hingga 215,82 gigawatts atau 18,39 persen dari total kapasitas pembangkit. Sementara kapasitas terpasang energi nuklir hanya 107,06 gigawatt atau 9,12 persen.

"Kesimpulannya, kapasitas pembangkit energi terbarukan saat ini sudah lebih dari dua kali dari energi nuklir," tulis FERC.

Walau begitu, energi listrik yang dibangkitkan reaktor nuklir secara aktual pada rentang waktu 7 bulan pertama pada 2016 telah mengisi 19,9 persen dari total pembangkit energi listrik.

Angka ini masih cukup besar dibandingkan pembangkit dari sumber-sumber energi terbarukan yang hanya memberikan kontribusi 15,8 persen.
Namun, perhitungan ini tak memasukkan listrik yang dihasilkan oleh sumber-sumber pembangkit energi listrik tenaga surya yang terpasang di atap perumahan.

Energi nuklir di AS telah memberikan kontribusi besar pada pembangkit listrik namun belum menunjukkan penambahan secara berarti sepanjang dekade ini.

Pada 2006 hanya memberikan kontribusi sebanyak 19,4 persen, sementara energi terbarukan perlahan namun pasti mengalami kenaikan dari 9,5 persen dan kini menjadi 15,8 persen sejak 10 terakhir.

"Tren peningkatan ini akan berlanjut di tahun-tahun mendatang," tulis EIA. Menanggapi laporan FERC dan EIA tersebut, pengamat energi terbarukan dari ITS Surabaya, Suntoyo, mengatakan sebaiknya pemerintah Indonesia segera mewujudkan pembangunan energi terbarukan. "Negara maju sudah meninggalkan nuklir," katanya. (KJ/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru