Pesawat tak berawak atau drone besutan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kabarnya akan melakukan penyelidikan pada Bulan Saturnus, Titan. Bulan Saturnus ini diklaim memiliki gravitasi yang rendah dan atmosfer tebal, sehingga drone Dragonfly dapat mengunjungi semua situs di Titan selama beberapa tahun.
Dragonfly akan menggunakan dua rotor yang ditempatkan di masing-masing sudutnya untuk terbang dari satu wilayah Bulan ke Bulan berikutnya, kemudian mengisi daya saat mendarat menggunakan Multimission Radioisotope Thermoelectric Generator (MMRGT) yang dibawanya. Ini artinya dragonfly dapat terbang mengelilingi Titan selama bertahun-tahun.
Di Titan, methane dan ethane mengalir seperti sungai dan membuat lautan. Hal ini dianggap unik oleh para ilmuwan, maka dari itu mereka akan mengeksplorasi kimiawi yang akan berujung pada sebuah kehidupan. Atsmosfer tebal juga mendukung untuk melancarkan misi ini.
"Ini adalah tempat yang sangat kaya, tentu dapat dijelajahi dengan drone tersebut. Atmosfer memberikan kita kemampuan untuk melakukan perjalanan ini di Titan," kata Project Principal Investigator, Elizabeth Turtle kepada Space.com yang dikutip dari Dailymail, Sabtu.
Sebelumnya, Cassini Huygens milik NASA dan European Space Agency telah tiba di Titan pada 2004, ia menemukan sebuah dunia di mana metana turun ke permukaan menjadi danau dan lautan yang kaya organik.
Selama dekade terakhir, pengorbitan tersebut bahkan mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang permukaan Titan, termasuk berbagai lingkungan dengan potensi untuk memiliki evolusi kimiawi serupa dengan Bumi. Proyek Titan terbaru NASA ini kabarnya akan mengorbit pada pertengahan 2020, dan akan tiba di tahun 2030.
(Okz/l)