BNPT Ungkap Tahanan Terorisme di Lapas Berpaham Salafi-Wahabi

* Direktur Pencegahan BNPT Ngaku Pernah Terpapar Paham Radikal

122 view
Foto: dok. Screenshot YouTube TVNU
Direktur pencegahan BNPT Brigjen R. Ahmad Nurwakhid
Jakarta (SIB)
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen R Ahmad Nurwakhid mengungkap tahanan terorisme di lapas BNPT ataupun di tahanan kepolisian berpaham Wahabi dan Salafi. Dia menuturkan semua teroris berpaham radikal, intoleran, dan bersikap eksklusif.

"Saya akan berbicara tentang pola radikalisme dan terorisme itu sendiri. Jadi semua terorisme yang ada di dalam tahanan kami di Densus, di BNPT, maupun di lapas-lapas untuk konteks Indonesia semua berpaham Salafi Wahabi," ujar Ahmad Nurwakhid dalam acara webinar 'Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial' yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3).

Akan tetapi, dia menuturkan tidak semua orang yang berpaham Ssalafi Wahabi menjadi teroris. Ia menyebut orang yang berpaham Salafi Wahabi jihadis-lah yang biasanya tergabung dengan jaringan terorisme.

"Tapi tidak semua Salafi Wahabi otomatis menjadi terorisme. Karena ada Salafi Wahabi dakwah, ada Salafi Wahabi yang mengikuti sistem demokrasi, ada Salafi Wahabi jihadis. Nah, Salafi Wahabi jihadis itu lah yang menjadi kombatan yang tergabung dalam Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansharut Daulah, Jamaah Ansharut Khilafah, dan jaringan terorisme yang ada di Indonesia maupun di dunia," kata Ahmad.

Oleh karena itu, ada dua hal yang dilakukan Polri dalam memberantas terorisme, yaitu penegakan hukum oleh Densus 88 terhadap aksi terorisme serta melakukan pencegahan terhadap masyarakat yang belum terpapar paham radikalisme dengan melakukan kontra-radikalisasi, kontra-ideologi, kontra propaganda dan deradikalisasi.

"Strateginya adalah kontra-radikalisasi yang diisi oleh kontra-ideologi, kontra-propaganda, dan kontra-narasi ini ditujukan terutama bagi mereka yang sudah terpapar dari kadar rendah dan menengah, sudah mulai dari antipemerintahan yang sah, intoleransi, eksklusif, antibudaya lokal, antitradisi dan kearifan lokal, dan sebagainya melalui format moderasi beragama," imbuhnya.

Kemudian pemerintah juga melakukan upaya deradikalisasi bagi para tersangka terorisme, terdakwa, terpidana, narapidana, mantan narapidana terorisme yang masih dalam pengawasan, dan yang belum moderat. Deradikalisasi untuk mengurangi kadar radikalisme.

Lebih lanjut Ahmad juga mengutuk keras tindakan aksi bom bunuh diri yang dilakukan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan. Ahmad menyebut aksi terorisme tidak terkait dengan agama mana pun.

Menurut dia, sosok pelaku bom bunuh diri Makassar itu awalnya bersikap lemah lembut, tetapi berubah saat bertemu dengan paham radikal.

"Termasuk yang dilakukan Lukman ini, Lukman ini orang baik, orang sabar pelaku yang ngebom di Makassar, tetapi karena dia berkenalan dengan ideologi Salafi Wahabi yang membid'ahkan, menyesatkan budaya tradisi tradisi lokal keagamaan barzanji, Yasinan, tahlilan, setelah kenal dengan seorang wanita yang kemudian jadi istrinya, maka berubah karakternya maka berubah sikapnya, berubah wataknya, yang tadinya hatinya sabar lembut berubah menjadi keras dan akhirnya menjadi teroris," ujarnya.

Pernah Terpapar
Pada webinar tersebut, Brigjen R Ahmad Nurwakhid mengaku pernah terpapar paham radikal hingga membuatnya hampir berangkat ke Afganistan. Seperti apa ceritanya?

"Memang saya juga pernah terpapar paham radikal, sampai saya juga mau berangkat ke Afganistan," kata Ahmad Nurwakhid.

Ahmad Nurwakhid bercerita awal mula dia terpapar paham radikal ketika mendengar ceramah-ceramah dengan paham Salafi Wahabi di salah satu masjid di Solo. Sejak saat itu, ia mulai sering menghadiri kajian.

"Meskipun saya dilahirkan di lingkungan NU dan kemudian di sekolah Muhammadiyah sudah dikenalkan doktrin-doktrin al-wala wal-bara, setelah saya jadi Kapolsek di Solo Banjarsari kami sering mendengarkan ceramah di Al Mu'min Ruki di situlah berkenalan dengan Salafi Wahabi takfiri, akhirnya kami sering idat, sering liqo," ujar Ahmad Nurwakhid.

Ia menyebut, pada sekitar 1995-1996, pemerintah saat itu belum mewaspadai soal terorisme. Kemudian, setelah peristiwa bom Bali pada 2002, negara baru memiliki UU Terorisme sehingga Ahmad mulai berpaling dari paham radikal.

"Baru setelah 2002, ketika terjadi bom Bali negara baru peduli tentang radikalisme, alhamdulillah saya sudah mulai sadar, transisi sampai ketemu ideologi pengganti. Tercabutnya ideologi takfiri yang berawal dari pemahaman atau mazhab Salafi Wahabi takfiri tadi itu akan hilang jika terganti dengan ideologi Islam yang kaffah," ungkap Ahmad.

"Yang tadinya Islam dipahami sebagai iman Islam dan jihad, iman Islam dan khilafah. Maka harus tergantikan secara benar, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Iman, Islam, dan akhlakul kharimah tadi yang dijelaskan oleh KH Said Aqil Siroj," sambungnya. (detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com