Gubernur: Soal Perbedaan Data Covid-19 Tak Perlu Diributkan

* Lebih Penting Kesehatan Rakyat

112 view
Gubernur: Soal Perbedaan Data Covid-19 Tak Perlu Diributkan
Foto: SIB/Danres Saragih
WAWANCARA: Gubernur Sumut Edy Rahmayadi saat memberikan keterangan kepada wartawan, Senin (13/9) di Pendopo Rumah Dinas Gubernur Sumut, Medan.
Medan (SIB)
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengatakan soal terjadinya perbedaan data Covid-19 sebenarnya tak perlu terlalu diributkan. "Perkara laporan itu ada beda sedikit tak usah diributkan, yang penting rakyat kita sehat," tegas Edy Rahmayadi kepada wartawan di Pendopo Rumah Dinas Gubernur Sumut, Senin (13/9).

Edy juga menyampaikan laporan kebenaran dari data tersebut dapat dilihat secara sederhana dari sisi pengeluaran dana yang dikeluarkan, di mana dana yang dianggarkan untuk penanganan bagi setiap pasien Covid-19 menurutnya berkisar Rp 5 juta. "Kalau dana kita sedikit keluar berarti pandemi Covid-19 sudah berkurang," ujar Edy.

Dalam kesempatan tersebut Edy Rahmayadi membantah tudingan Wali Kota Medan Bobby Nasution yang menyatakan Pemprov Sumut enggan memberikan data Covid-19. Diakuinya data yang tidak sinkron akan berpengaruh, karena itu model digital yang harus diakses oleh Jakarta. Perbedaan data Covid-19 terjadi lantaran masih ada salah paham di tingkat kabupaten/kota. Namun begitu ke depan akan terus diperbaiki dan dievaluasi.

Edy menambahkan, data Covid-19 di Pemprov Sumut dibuat dari bawah ke atas atau dari masing-masing kabupaten/kota. Kemudian akan dilaporkan ke Kementerian Kesehatan RI.

“Sebenarnya data itu dari bawah ke atas bukan dari atas ke bawah, karena Pemprov juga mengambil data dari bawah. Harusnya tak seperti itu. Pemprov mengambil data mulai tingkat desa, lingkungan kota yang diakumulasikan di tingkat kabupaten/kota.

"Dari pusat itu masih pakai PCR antigen. kemudian dimasukkan ke data. Tetapi lebih cenderung di kabupaten/kota yang dimasukkan adalah yang swab PCR untuk labfor bukan antigen, jadi dia berbeda. Menurut orang-orang di daerah itu kalau sudah antigen dia dinyatakan reaktif, dia ditindaklanjuti dengan swab PCR. Sehingga kalau itu dilaporkan menjadi double, inilah yang sering berbeda," sebut Edy mencoba memberikan gambaran mengenai pendataan Covid-19 yang tak sinkron bisa terjadi di Sumut.

Edy berpendapat masalah tersebut seharusnya dikomunikasikan dengan baik, bukan malah saling menyalahkan. Ia menyebut data Covid-19 di Sumut selama ini tak pernah dibuat hanya dari Pemprov, melainkan kolaborasi antara Pemprov dan pemerintah kabupaten/kota.

Karena itu, gubernur berjanji akan memberikan data Covid-19 kepada Bobby selaku Wali Kota Medan. Persoalan itu menurutnya hanya karena komunikasi.

Sebagaimana sebelumnya diberitakan berbagai media massa, Wali Kota Medan Bobby Nasution menyebutkan pendataan penanganan Covid-19 di Medan masih kacau lantaran buruknya koordinasi Pemprov Sumut. Alhasil Pemko Medan harus melakukan pendataan ulang dengan cara manual. (A13/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com