MenPAN-RB: 16 Calon Eselon I Gagal Gegara Pasangan Buka Medsos Tokoh Radikal


357 view
MenPAN-RB: 16 Calon Eselon I Gagal Gegara Pasangan Buka Medsos Tokoh Radikal
Foto/SINDOnews
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa tantangan ASN cukup berat dan kompleks. 

Jakarta (SIB)

MenPAN-RB Tjahjo Kumolo mengungkapkan hampir lebih dari 16 ASN gagal menjadi eselon I karena rekam jejak digital suami atau istri yang kerap memantau tokoh radikal di media sosial. Tjahjo mengatakan hal-hal berbau terorisme dan radikalisme merupakan bentuk ancaman bangsa.


"Masalah radikalisme, terorisme. Ini saya bikin stres, dua tahun MenPAN-RB dalam sidang TPA, hampir di atas 16 calon eselon I yang sudah hebat, profesor, doktor, mulai dari bawah naik, ikut TPA, gagal jadi eselon I gara-gara kelakuan istrinya atau suaminya," kata Tjahjo dalam acara peningkatan pelaksanaan reformasi birokrasi yang diselenggarakan Kemenko Polhukam di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (1/12).


"Istrinya kalau malem kerjanya buka medsos tokoh-tokoh radikal, tokoh-tokoh teroris. Gagal. Pokoknya yang berbau terorisme, radikalisme, itu ancaman bangsa," lanjutnya.


Tjahjo menuturkan, dalam menyeleksi ASN pihaknya harus berani mengambil sikap untuk menentukan siapa lawan dan siapa kawan. Dia mengatakan pengawasan juga dilakukan terhadap keluarga ASN, baik dari eselon I maupun II yang berbau radikal.


"Kita harus berani bersikap siapa kawan siapa lawan. Adalah perorangan, kelompok, dan golongan yang dia terang-terangan atau sembunyi-sembunyi menyebar masalah radikalisme teroris. Termasuk di eselon II eselon I, keluarganya yang berbau ini, atau suka buka medsos, didrop," ujarnya.


Tjahjo menuturkan setiap bulan selalu terbit SK pemberhentian terhadap ASN yang terpapar radikalisme. Hal itu kata Tjahjo dilihat berdasarkan rekam jejak digitalnya.


"Karena bukti aplikasi, rekam jejak media di HP-nya semua bisa terdata dengan baik. Di tantangan pertama. Hampir setiap bulan kami mengeluarkan SK ASN yang kita berhentikan karena terpapar radikalisme terorisme," ujarnya.


Tjahjo menjelaskan, sebelum melakukan penyadapan dan mengecek rekam jejak digital ASN serta keluarga, pihaknya membuat surat perizinan. Dia mengatakan pengecekan rekam jejak digital dilakukan, dari menyaring dan mengecek akun media sosial pribadi ASN.


"Otomatis izin dong ada perizinan kami membawa surat. Eh kamu mau saya angkat jadi eselon I akan kami cek rekam jejakmu selama ini. Rekam jejak digital sampai mati kan nggak akan hilang makanya hati-hati kalau orang mau jadi pejabat siapapun rekam jejak digital jangan sampai ini," ucapnya.


"Ya medsos kita saring, bener nggak medsos asli atau tidak. Sekarang gampang orang badan siber polisi bisa nangkap orang dalam tempo satu menit bisa siapa yang memfitnah siapa yang membuat berita hoax," imbuhnya. (detikcom/d)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com