Tersenyum, Tak Perlu Khawatir

Oleh Upa Madyamiko Gunarko Hartoyo

166 view
br_ruy/Pixabay
Ilustrasi
Kadang kala kita akan berada pada satu titik saat dimana hal hal yang sedang kita lakukan menimbulkan kekhawatiran. Dalam agama Buddha, khawatir adalah salah satu bentuk penderitaan. Penderitaan dalam filosofi Buddhis mencakup segala macam bentuk ketidakbahagiaan. Seperti kekhawatiran, depresi, kemarahan, penyesalan. Apa pun, betapapun halusnya, yang mencegah kita menjalani kehidupan yang bahagia.

Dalam ajaran Sang Buddha diuraikan akar dari penderitaan dan kekhawatiran adalah kemelekatan. Umat Buddha memandang segala sesuatu dalam hidup sebagai ilusi - yang bermakna tidak ada yang memiliki keberadaan konkret. Apa yang kita anggap kokoh dan permanen sebenarnya hanya ada untuk saat ini. Pada akhirnya dalam beberapa bulan, tahun, atau dekade-segala sesuatu yang timbul itu akan lenyap.

Karena kita melihat segala sesuatu sebagai sesuatu yang kokoh dan permanen, kita cenderung untuk menganggap serius kehidupan. Akibatnya, kita menjad iterikat pada situasi hidup kita dan mengkhawatirkannya. Karena ketidaktahuan kita, kita khawatir tentang banyak hal.

Bukan hanya kemelekatan yang membuat kita khawatir, tetapi juga fakta bahwa orang-orang terus tertarik pada hal-hal yang menyebabkan penderitaan tersebut. Misalnya, kita mungkin telah tahu bahwa pikiran mengkhawatirkan sesuatu menyebabkan kita menderita, tetapi kita masih terus memikirkannya kembali, padahal kekhawatiran tidak mengubah apa pun yang terjadi di masa lalu dan kemungkinan besar kekhawatiran kita tidak akan terjadi di masa mendatang.

Kita mungkin tahu bahwa pertemanan dengan seseorang beracun, tetapi kita tetap memberikan teman itu kesempatan lagi dengan harapan akan berubah menjadi lebih baik. Kita mungkin tahu bahwa makanan, minuman atau obat-obatan tertentu tida baik dan akan menyebabkan kita menderita, tetapi kita tetap mengonsumsinya. Fakta bahwa kita memutuskan untuk mengabaikan hal-hal ini, menyebabkan penderitaan. Dan karena ketidaktahuan kita maka kita khawatir tentang banyak hal.

Pada dasarnya ada dua jenis masalah, masalah di dalam dan di luar. Kita harus memahami bahwa masalah kita tidak ada di luar diri kita, tetapi merupakan bagian dari pikiran kita yang mengalami perasaan tidak menyenangkan. Ketika mobil kita, misalnya, memiliki masalah, biasanya kita mengatakan "Saya punya masalah", tetapi kenyataannya itu adalah masalah mobil itu dan bukan masalah kita.

Masalah mobil adalah masalah luar, dan masalah kita, yaitu perasaan tidak enak kita sendiri, adalah masalah batin. Kedua masalah ini sangat berbeda. Kita perlu menyelesaikan masalah mobil dengan memperbaikinya, dan kita perlu menyelesaikan masalah kita sendiri dengan mengendalikan keterikatan kita pada mobil.

90% hal yang kita khawatirkan berada di luar kendali kita, jadi tidak ada gunanya khawatir. 10% lainnya dapat kita kendalikan jadi lakukan sesuatu alih-alihmengkhawatirkan. Salah satu ajaran Buddha adalah: Rahasia kesehatan bagi pikiran dan tubuh bukanlah berduka atas masa lalu, mengkhawatirkan masa depan, atau mengantisipasi masalah, tetapi hidup di saat sekarang dengan bijaksana dan bersungguh-sungguh.

Bagaimana cara menghilangkan rasa khawatir menurut Buddhisme. Pahami bahwa khawatir tidak akan menyelesaikan apa pun. Semua orang khawatir. Konflik di tempat kerja, ujian sekolah yang perlu dijalani, semuanya bisa menjadi alasan untuk khawatir.

Perbedaan antara berpikir dan mengkhawatirkan adalah bahwa berpikir mengarah pada solusi, sementara kekhawatiran berada pada rangkaian pikiran yang tak berujung yang terus melintas di benak kita. 'Bagaimana jika ...?' 'Bayangkan itu ...?'

Kekhawatiran tidak mengarah pada solusi atau wawasan baru. Kekhawatiran berlebihan dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan kesuraman serta membutuhkan banyak waktu dan energi.

Ambil pemandangan dari jauh dan dapatkan pandangan murni tentang hidup. Cobalah untuk membatasi diri dalam hidup pada esensi dari apa yang kita anggap penting. Caritahuapaartihidupbagi kita, dan fokuslah padahal tersebut. Ketika kita memfokuskan perhatian dan energi pada beberapa poin, kita akan jauh lebih baik dan mendapatkan lebih banyak dari hidup.

Jadi, jika kita ingin merasakan kendali tanpa stres, lihat kedalam, bukan keluar. Terimalah bahwa kita tidak bisa mengendalikan segalanya. Ini akan membantu kita tetap tenang ketika segala sesuatunya berjalan berbeda dari yang direncanakan.

Semuanya bersifat sementara. Kita berhak atas hidup di tangan kita sendiri. Hidup adalah waktu yang tidak terbatas yang disajikan kepada kita dalam ruang yang sangat luas dan subur yang penuh dengan kemungkinan dan peluang.

Jangan biarkan hidup berlalu sambil mengkhawatirkan masa depan. Fokus dan nikmati saat ini.

Jangan khawatir, tersenyumlah dan berbahagialah! (c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com