Tanpa Masker, Varian Delta Menular Hanya Butuh 1 Menit


1.020 view
Tanpa Masker, Varian Delta Menular Hanya Butuh 1 Menit
Foto: harianSIB.com/Victor Ambarita
Dialog Produktif: Dialog Produktif Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional bertajuk “Mengurangi Risiko Kematian Akibat Varian Baru” secara daring Rabu (4/8/2021).
Jakarta (harianSIB.com)

Virus Covid-19 Varian Delta tingkat penularannya cukup tinggi dan memiliki masa inkubasi lebih pendek serta karakter yang cepat menempel pada sel tubuh manusia.

Demikian dikatakan Kasubbid Tracing Satgas Covid-19 dr Koesmedi Priharto SpOT MKes pada Dialog Produktif KPCPEN (Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional) bertajuk "Mengurangi Risiko Kematian Akibat Varian Baru' secara daring, Rabu (4/8/2021).

“Varian Delta memang mudah menular dan mendominasi lebih dari 76% yang ditemukan di Indonesia. Namun demikian, seperti virus pada umumnya, virus Covid-19 akan dapat dikalahkan oleh daya tahan tubuh manusia yang kuat,” kata dia.

Virus Covid-19, lanjut Koesmedi, memiliki karakter penularan head-to-head yakni manusia dengan manusia, tanpa melibatkan perantara makhluk hidup lain. Karena itu, dengan perbaikan perilaku manusia, angka penularannya dapat ditekan.

“Dengan perilaku baik dan sehat dari masyarakat didukung vaksinasi dan pengaktifan 3T dari pemerintah, semoga penularan virus ini dapat dikendalikan,” tegas dia.

Sementara Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Ede Surya Darmawan, SKM, MDM menyebut, bahwa penelitian menunjukkan varian Delta dapat menular hanya dengan satu menit interaksi tanpa masker, sehingga harus diwaspadai.

“Percepatan vaksinasi sebagai upaya mencegah penularan dan mengurangi risiko sakit berat juga kematian, terus dilaksanakan. Ini adalah tantangan bagi Indonesia sebagai negara dengan populasi besar dan karakteristik geografis luas serta beragam,” imbuhnya.

Sedangkan Plt Direktur RSUD Aji Muhammad Parikesit Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur Dr Martina Yulianti SpPD, FINASIM - M.Kes (MARS) menjelaskan, cakupan pemberian vaksin di daerah masih rendah, terutama karena kendala pasokan vaksin.

Menurut Martina, derasnya arus informasi yang menyesatkan di kalangan masyarakat, juga masih menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas di lapangan. Menghadapi banyaknya pasien dalam waktu bersamaan, para tenaga kesehatan bekerja sama dengan pemerintah daerah berusaha semaksimal mungkin memberikan penangan terbaik bagi masyarakat.

“Rumah sakit atau pengobatan adalah benteng terakhir, menjadi hilirnya. Yang tak kalah penting adalah pencegahan di bagian hulu. Sesuai amanat pemerintah, kami juga telah melaksanakan kegiatan untuk memutus mata rantai penularan,” paparnya.

Masyarakat didorong untuk sukarela melakukan testing dan bila hasilnya positif segera melaporkan kontak eratnya agar dapat ditelusuri. Selama menunggu keluarnya hasil tes, pasien maupun kontak erat sebaiknya langsung melakukan isolasi dan karantina sebagai tindak pencegahan penularan. Merujuk pada aturan WHO, isolasi dan karantina adalah selama 14 hari. Penguatan kualitas isolasi mandiri di masyarakat juga masih diperlukan.

Ede Surya menegaskan, Hanya tenaga kesehatan yang dapat memutuskan apakah pasien dapat melakukan isolasi mandiri atau perlu dirujuk ke isoter dan rumah sakit.

“Upaya pelaksanaan PPKM berhasil menurunkan positivity rate varian Delta di Indonesia, namun angkanya masih berkisar pada 20%. Targetnya, sesuai standar WHO adalah 5%. Karena itu, masih memerlukan perjuangan semua pihak untuk bekerja sama mengurangi laju penyebaran virus Covid-19 sekaligus menurunkan angka kematian,” tuturnya.(*)

Penulis
: Victor Ambarita
Editor
: Robert/Bantors
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com