Jeremi Wilson Hutajulu Sabet Medali Perunggu di Kejuaraan Karate Kejatisu Cup
Pematangsiantar (harianSIB.com)Jeremi Wilson Hutajulu Atlet KKI (Kushin Ryu M Karatedo Indonesia) asal Kabupaten Toba berhasil menyabet med
Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI-P My Esti Wijayati, dan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI-P Mercy Chriesty Barends, menangis saat mendengar Fadli tetap mempertanyakan penggunaan diksi "massal" dalam kasus pemerkosaan 1998.
Air mata My Esti tumpah saat menginterupsi penjelasan Fadli yang meragukan data dan informasi soal pemerkosaan massal 1998, hingga membandingkannya dengan kasus kekerasan seksual massal di Nanjing dan Bosnia.
"(Mendengar) Pak Fadli Zon ini bicara kenapa semakin sakit ya soal pemerkosaan. Mungkin sebaiknya tidak perlu di forum ini, Pak, karena saya pas kejadian itu juga ada di Jakarta, sehingga saya tidak bisa pulang beberapa hari," kata My Esti, dengan suara bergetar, Rabu , dikutip dari kompas.com
Menurut My Esti, penjelasan Fadli yang teoretis dan tak menunjukkan kepekaan justru menambah luka bagi mereka yang menyaksikan dan mengalami langsung situasi mencekam pada masa itu.
"Ini semakin menunjukkan Pak Fadli Zon tidak punya kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi korban pemerkosaan. Sehingga menurut saya, penjelasan Bapak yang sangat teori seperti ini, dengan mengatakan Bapak juga aktivis pada saat itu, itu justru akan semakin membuat luka dalam," ujar dia.
Fadli pun menyela pernyataan Esti dan menegaskan bahwa dirinya tidak menyangkal peristiwa tersebut. "Terjadi, Bu. Saya mengakui," ucap Fadli.
Namun, respons itu tidak cukup meredam emosi My Esti, yang kembali menegaskan bahwa penjelasan Fadli justru mengesankan keraguan penderitaan para korban.
"Itu yang kemudian Bapak seolah-olah mengatakan..." ucap My Esti, sebelum kembali terdiam karena emosi.
"Jadi, tadi Pak Fadli Zon sudah menjelaskan bahwa beliau sebenarnya mengakui perkosaan itu ada, tetapi ada diksi 'massal' itu yang beliau pertanyakan," kata Lalu.
Setelahnya, Mercy pun ikut bersuara sambil menangis.
Dia menyampaikan betapa menyakitkannya menyaksikan negara seolah kesulitan mengakui sejarah kelam, padahal data dan testimoni korban sudah dikumpulkan sejak awal Reformasi.
"Pak, saya ingin kita mengingat sejarah kasus Tribunal Court Jugun Ianfu. Begitu banyak perempuan Indonesia yang diperkosa dan menjadi rampasan perang pada saat Jepang. Pada saat dibawa ke Tribunal Court ada kasus, tapi tidak semua, apa yang terjadi? Pada saat itu pemerintah Jepang menerima semua," tutur Mercy.
"Ini pemerintah Jepang, duta besarnya itu sampai begini terhadap kasus Jugun Ianfu. Kita paksa sendiri. Kenapa begitu berat menerima ini? Ini kalau saya bicara, ini kita sakit, Pak. Saya termasuk bagian juga yang ikut mendata itu testimoni, testimoni sangat menyakitkan kita bawa itu testimoni dalam desingan peluru," sambung dia.
Mercy juga menyinggung kesaksian para korban kekerasan seksual dari Maluku, Papua, dan Aceh yang didokumentasikan setelah 1998.
Menurut dia, pengakuan atas peristiwa-peristiwa itu tidak bisa dibatasi pada perdebatan definisi atau diksi semata.
"Bapak bilang TSM (terstruktur, sistematis, dan masif). Bapak bilang tidak terima yang massal. Pak, kebetulan sebagian besar itu satu etnis. Kita tidak ingin membuka sejarah kelam, tapi ini satu etnis," tegas Mercy.
"Bapak bisa baca itu testimoni yang kami bawa. Ini minta maaf sekali, sangat terganggu, apa susahnya menyampaikan? Satu kasus saja sudah banyak, lebih dari satu kasus tidak manusiawi. Minta maaf!" seru Mercy.
"Saya minta maaf kalau ini terkait dengan insensitivitas, dianggap insensitif. Tapi saya, sekali lagi, dalam posisi yang mengutuk dan mengecam itu juga," ucap Fadli.
Dia menegaskan tidak bermaksud mereduksi atau menegasikan peristiwa kekerasan seksual pada 1998.
Namun, dia menekankan pentingnya pendokumentasian yang akurat dan ketelitian dalam penggunaan istilah massal.
"Saya kira tidak ada maksud-maksud lain dan tidak sama sekali mengucilkan atau mereduksi, apalagi menegasikannya," kata Fadli.
Diberitakan sebelumnya, pernyataan Fadli Zon yang meragukan peristiwa pemerkosaan 1998 berlangsung secara massal menuai gelombang kritik dari berbagai pihak, termasuk anggota DPR dan aktivis masyarakat sipil.
Koalisi Masyarakat Sipil bahkan mendesak Fadli meminta maaf kepada para korban dan menghentikan proyek penulisan ulang sejarah yang dinilai berpotensi menyingkirkan kebenaran sejarah. (*)
Pematangsiantar (harianSIB.com)Jeremi Wilson Hutajulu Atlet KKI (Kushin Ryu M Karatedo Indonesia) asal Kabupaten Toba berhasil menyabet med
Asahan (harianSIB.com)Anggota DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung mendadak turun ke daerah pemilihannya di Kisaran, Kabupaten Asahan, Senin (1
Sergai (harianSIB.com)Kilang Padi Tani Jaya yang berada di Desa Lubuk Dendang, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai), meng
Tebingtinggi (harianSIB.com)AP (30) alias Angga, seorang dari dua terduga pelaku pencurian sepeda motor (Curanmor) ditangkap warga Dusun Pon
Deliserdang (harianSIB.com)Kawasan eks gudang PTPN II di Simpang Helvetia Pasar V, Jalan Kapten Sumarsono, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan
Medan (harianSIB.com) Ketua Komando Bela Tanah Air (Kombat) Kota Medan Samsir Pohan mengapresiasi kinerja 100 hari Kombes Jean Calvijn S
Tebingtinggi (harianSIB.com) Ribuan warga masyarakat Kota Tebingtinggi mengikuti acara doa dan dzikir bersama Sekaligus punggahan dalam
Medan (harianSIB.com)Tim karate Satuan Brimob Polda Sumatera Utara yang tergabung bersama Tim Inkanas Sumut berhasil menunjukkan performa me
Sibolga (harianSIB.com)Personel Polres Sibolga melaksanakan patroli pada malam hari, Senin (16/2/2026) khususnya di tengah kondisi hujan leb
Tapteng (harianSIB.com)Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Tengah menyiapkan bahan pangan Posko Pengungsi Gedung Serbaguna atau GOR Panda
Tapteng (harianSIB.com)Bencana longsor kembali melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Senin (16/2/2026). Akibatnya, jalur MedanSibolga via Ramp
Tapteng (harianSIB.com)Cuaca ekstrem kembali melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Senin (16/2/2026) sore. Sedikitnya enam kecamatan dilaporkan