Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 19 Januari 2026

Kayu Gelondongan Pascabanjir Jadi Bukti Degradasi Fungsi Hutan di Sumatera

Redaksi - Selasa, 30 Desember 2025 13:03 WIB
425 view
Kayu Gelondongan Pascabanjir Jadi Bukti Degradasi Fungsi Hutan di Sumatera
(harianSIB.com/Dok)
Tumpukan kayu gelondongan terbawa arus banjir di wilayah Sumatera.

Medan(harianSIB.com)

Tumpukan kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dinilai menjadi bukti nyata terjadinya degradasi fungsi hutan. Material kayu tersebut diduga kuat berasal dari erosi parah, aktivitas pembalakan liar berskala besar, penebangan ilegal, hingga praktik pencucian kayu (wood laundering).

Hutan sejatinya berfungsi mengatur tata air. Kanopi pepohonan mampu menahan sekitar 15–25 persen air hujan agar tidak langsung jatuh ke tanah. Selain itu, pori-pori akar pohon memiliki daya serap yang sangat besar, mulai dari puluhan hingga ribuan liter air.

Guru Besar Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara, Muhammad Basyuni, menilai tumpukan kayu gelondongan merupakan indikator awal kerusakan ekosistem yang bersifat sistemik dan tidak terbantahkan.

Ia mengungkapkan, banyak kayu gelondongan yang ditemukan berasal dari pohon endemik Tapanuli, yang mengindikasikan adanya rantai pasok kayu ilegal yang terorganisasi.

Baca Juga:
"Harusnya sungai itu membawa air yang jernih, ternyata membawa material-material yang tidak pernah dibayangkan oleh masyarakat, seperti pasir, batu, dan kayu-kayu gelondongan yang jumlahnya banyak dan tersusun rapi," ujar Basyuni dalam sebuah webinar, Sabtu (27/12/2025).

Basyuni juga mengkritik narasi "anomali cuaca" yang kerap disebut sebagai penyebab utama banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menurutnya, siklon tropis Semyar hanya berperan sebagai pemicu, bukan penyebab utama bencana.

Ia menegaskan, deforestasi dan kegagalan tata ruang justru menjadi faktor amplifikasi yang mengubah peristiwa alam menjadi bencana besar.

"Ada anomali siklon Semyar yang disalahkan. Jadi, sebenarnya kalau secara jujur itu tidak ilmiah," tuturnya.

Daya rusak banjir bandang, lanjut Basyuni, justru membuka fakta bahwa kehilangan tutupan hutan di ketiga provinsi tersebut telah melampaui ambang batas aman. Jika tutupan hutan masih memadai, curah hujan tinggi hanya akan menyebabkan sungai meluap, bukan banjir bandang destruktif.

Mengutip data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), deforestasi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat selama periode 2016–2025 mencapai sekitar 1,4 juta hektare dan terjadi hampir merata di ketiga wilayah.

"Menyalahkan cuaca saja itu bukan sesuatu yang bijak," tegas Basyuni.(**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait

Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/theme/detail.php on line 406
komentar
beritaTerbaru