Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026
Renungan

Menerima Yesus Sebagai Raja

Oleh : Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh
- Minggu, 13 April 2014 21:12 WIB
708 view
Menerima Yesus Sebagai Raja
Kita telah memasuki Minggu Masa Pra-Paskah setelah Minggu Masa Epifani (Tuhan telah datang muncul memperlihatkan diri). Masa Pra-Paskah ini berlangsung sampai lima hari Minggu. Selama Masa Pra-Paskah kita bagaikan diajak ikut rombongan Yesus dalam perjalanan-Nya yang terakhir menuju Yerusalem. Hari Minggu yang menyusul yaitu yang keenam adalah Hari Minggu Palem untuk mengenang sambutan orang banyak yang melambai-lambaikan daun palem pada waktu Yesus memasuki Yerusalem (Lih.Yoh.12:13). Pada Minggu Palem biasanya gereja dihias dengan ranting-ranting Palem. Ada kelaziman di mana umat datang dengan membawa setangkai daun palem. Menarik untuk diperhatikan bahwa menurutĀ  Wahyu Yohanes kelak semua orang percaya juga melambaikan daun palem ketika berkumpul di depan takhta Kristus(lih.Why.7:9).

Dalam kisah Yesus memasuki Yerusalem ada kemuliaan dan keagungan. Di dalam Mat.21:8 mengatakan"Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan." Ada yang berjalan di depan Yesus, ada yang berjalan di belakang Yesus, semuanya berseru:"Hosana bagi Anak Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosanna di tempat yang mahatinggi!"."Hosana", artinya:"Selamatkanlah kami, kami mohon!" Yesus masuk ke ibukota, dan disambut sebagai raja! Bahkan, lebih dari sekedar raja!Yaitu sebagai Mesias- Raja Ilahi yang datang untuk menyelamatkan mereka, yang akan sekali untuk selama-lamanya mengusir penjajah Roma dan mengembalikan kejayaan Takhta Daud! Tidak ada seksi Pengerahan Massa yang menggerakkan"orang banyak yang sangat besar jumlahnya" itu. Semuanya berlangsung dengan spontan. Dari segala penjuru orang datang, berkumpul,menghamparkan baju, melambai-lambaikan daun palem, berteriak hosanna! Dengan spontan. Dengan tulus. Sebab yang masuk Yerusalem itu adalah Mesias yang telah begitu lama dinanti-nanti.Penyelamat! Sebab itu, teriak mereka adalah hosanna! Selamatkanlah kami, kami mohon! Dapat kita bayangkan betapa agungnya, mulianya, semaraknya suasana pada waktu itu? Namun demikian toh ada sisi yang lain. Ada dimensi yang lain yang mesti kita lihat juga. Yaitu: tidak Cuma keagungan dan kemuliaan, tidak cuma mubarak dan semarak, yang ada ketika Yesus masuk Yerusalem.

Yesus masuk Yerusalem, dan disambut sebagai raja. Tapi Yesus tahu dan murid-murid terdekat-Nya tahu, apa artinya masuk Yerusalem itu. Sebab sebelumnya dalam Mateus 20:18-19, Yesus sendiri telah mengatakan, "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangunkan"
Yesus masuk Yerusalem, disambut sebagai raja. Tetapi apa? Ia naik keledai betina yang masih muda. Transportasi rakyat jelata. Tak ada kegagahan. Tak ada keperkasaan. Tak ada kecemerlangan. Yang ada ialah kesederhanaan. Lebih tepat kerendahan, kehinaan.

Raja naik keledai. Hal ini tidak kebetulan memilih cara ini. Tindakan ini punya makna yang lebih mendalam daripada sekadar simbolis. Yesus mau memberikan sebuah alternatif.

Dunia kita sekarang ini, apalagi di politik, atau di dunia bisnis. Ada nasihat: kalau Anda mau terjun ke politik atau bisnis, tanggalkan dan tinggalkan moral Anda di rumah! Dunia kita hanya memberi tempat kepada yang kuat, yang pintar, yang kaya, yang berkuasa. Tetapi bagaimana dengan yang 70% umat manusia yang jelata, lemah, miskin dan bodoh? Kalian yang raja, yang kuat, yang pintar, yang kaya, yang berkuasa!Cobalah turun dari kereta-kereta kencanamu, dari kuda-kuda putihmu, dari kantor-kantormu yang ber-AC,tinggalkan komputer-komputermu, sekretaris-sekretarismu-cobalah naik keledai. Itulah tunggangan rakyat jelata. Artinya:rasakanlah bagaimana berada di tempat rakyat jelata. Dengar ratapan mereka! Kenalilah keluh-kesah dan kebutuhan mereka. Pekakanlah hatimu terhadap amanat penderitaan mereka! Dan wahai, berbuatlah sesuatu untuk mereka, demi mereka, bersama mereka!

Yesus masuk ke Yerusalem dengan memilih cara dan gaya seperti raja. Tetapi bukan raja yang pergi berperang. Oleh karena itu, Ia tidak menunggang kuda. Tetapi keledai. Binatang lambang perdamaian dan kasih sayang. Juga ketika kematian telah begitu dekat terbayang, Yesus masih mengingat orang lain. Dari atas keledai-Nya itu, Ia se-akan-akan berkata kepada penduduk Yerusalem:"Mungkin selama ini kamu hanya mendengar tentang Aku. Kini Engkau melihatnya sendiri. Masih belum bersedia kah kalian menerima Aku sebagai Raja? Demi keselamatanmu sendiri? Lihatlah, Aku tidak datang dengan pedang di tangan. Aku naik keledai. Aku datang menawarkan perdamaian dan kasih sayang! Kesempatanmu tak banyak lagi!"
Ia juga datang kepada kita dengan undangan yang sama. Mengulurkan tangan perdamaian dan kasih sayang. Maukah kalian menerima-Ku sebagai Raja?

Raja satu-satunya dalam hidupmu?
Hari-hari antara Minggu Palem dengan Paskah disebut Minggu Kudus. Dalam Minggu Kudus kita memperingati Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi. Tidak adanya lilin yang dinyalakan selama Minggu Kudus ini menolong umat merasakan suasana duka. Lalu besoknya pada waktu hari masih subuh tiba-tiba kesunyian berubah menjadi sorak-serai Paskah.(c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru