Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026

Paskah, Pilihan Untuk Bersatu dan Solider kepada Sesama

Oleh Pdt Midian KH Sirait, MTh
- Minggu, 20 April 2014 23:06 WIB
612 view
Paskah, Pilihan Untuk Bersatu dan Solider kepada Sesama
“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Korint 15:14).
Kita meyakini bahwa momentum Paskah yang jatuh tgl 20/4, memberikan secercah optimisme, sekalipun pada saat ini rasa kemanusiaan kita sedang terusik, oleh adanya ancaman bom dan teror, bahkan kekerasan lainnya. Juga didalamnya bencana tsunami yang baru-baru ini terjadi di Jepang yang telah menelan nyawa dan korban ribuan bahkan puluhan ribu manusia. Maksudnya, pada saat ini, nilai kemausiaan akan menjadi wacana penting sewaktu kita menyaksikan keadaan dunia menunjukan ketidakberuntungan, bencana alam dan dampak buruk globalisai yang langsung atau pun tidak langsung, berimbas kepada masyarakat kita.

Setiakawan dengan saudara-saudara yang menderita
Gereja-gereja dan umat Kristen Indonesia dapat belajar banyak dari penderitaan dan kebangkitan yang telah dijalani Yesus. Iman Paskah memberi makna, bahwa Yesus memiliki komitmen tinggi terhadap pembaruan kemanusiaan. Ia rela dan bersedia mengambil alih penderitaan yang mestinya dijalani manusia menjadi bagian dari sejarah hidupNya dan tanggung jawabNya. Efek dari penggambaran sengsara Yesus selayaknya menjadi simbol yang menawarkan undangan untuk setiakawan dengan saudara-saudara yang menderita yang menjadi korban.

Dengan demikian, Paskah (kebangkitan dan kemenangan) Kristus adalah dasar iman gereja dan seluruh anggota jemaat Kristus. Tiap orang Kristen terpanggil untuk melakukan dan menyaksikan perubahan hidupnya. Kristus yang lahir dalam hidupNya memberikan buah-buah nyata. Pembaharuan batin dan hidup merupakan suatu kesaksian nyata yang mampu menerobos dinding kekerasan.

Belajar dari penderitaan, hentikan kekerasan
Belajar dari penderitaan, kesengsaraan dan kematian yang harus dijalani Yesus demi tergenapinya missi penyelamatanNya itu, bukan kelemahan, kekalahan ataupun kegagalan. Ini dibuktikan dengan kebangkitanNya dari kubur di hari Paskah; kalau Yesus benar-benar berhenti atau dihentikan oleh kematianNya, memang misi penyelamatanNya boleh dikatakan tidak lengkap dan bahkan gagal. Dalam pernyataan teologi, Jumat Agung mengingatkan kita, penderitaan bukan kata akhir, meski Yesus harus menjalani hal itu. Proses pengadilan Yesus tersebut, Yesus telah menjadi korban dari keadaan di mana fanatisme sempit dan kelicikan pada pemuka agama, ambisi penguasa, serta emosi massa yang terhasut dan tak terkendali, secara bersama-sama telah melahirkan vonis pidana mati yang sewenang-wenang dan tidak adil itu. Di sana kayu salib tergantung selama tiga jam, memberi sinyal kepada kita bahkan untuk saat ini untuk Kristen diingatkan untuk terus berupaya untuk menghentikan kekerasan. Hal ini ditandai dengan makin maraknya bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Tema konflik yang muncul ke permukaan ditndai dengan tindak kekerasan. Bumi penuh dengan aroma kekerasan.

Tetapi syukur kepada Tuhan, karya Yesus tidak berhenti hanya sampai salib di Jumat Agung. Dengan kematian dan selanjutnya kebangkitanNya itu, dinyatakanlah betapa besar kasih, pengorbanan dan pengampunan yang adalah juga menifestasi dan wujud kemahakuasaanNya yang melampaui segala kuasa dan keperkasaan yang bersifat mansusiawi dan duniawi.

Sambutlah Paskah Kristus Yesus
Rasul Paulus menegaskan hal ini dalam suratnya kepada jemaat Korintus dengan mengatakan, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Korintus 15:14). Tak salah rasanya, kalau dalam suasana penuh rasa syukur dan sukacita yang menggempita, dalam menyambut Paskah umat Kristen Indonesia dan seluruh dunia memasuki hari raya Paskah, hari peringatan kebangkitan Kristus dari kematian. Syukurlah dalam hal ini penderitaan, kesengsaraan dan kematian yang dijalani Yesus mempunyai makna penebusan bagi manusia, karena manusia sendiri tidak mampu melakukannya, maka melalui penderitaan, kesengsaraan dan kematianNya, Yesus menggantikan manusia yang oleh dosa-dosanya seharusnya menerima hukuman berupa penderitaan, kesengsaraan dan kematian itu.

Dari penjelasan di atas ini, maka Paskah tahun 2014 ini menginspirasikan dan memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kepada makna kebangkitan Kristus pada masa kini di dalam sejarah kehidupan kita. Paskah yang dipahami sebagai kebangkitan Kristus dari kematian, mendorong kita untuk mewujudkan keadaan yang kondusif dan damai. Kita percaya bahwa Yesus Kristus telah hidup dari kematian, kini Dia menciptakan kemanusiaan baru, kemanusiaan yang adil dan yang memiliki tanggung jawab dalam mengukir masa depan.

Paskah adalah simbol dan materi menangnya kebenaran Allah atas kebatilan manusia. Paskah adalah menangnya kehidupan atas kematian; paskah adalah menangnya kepentingan bersama umat manusia atas egoisme dan kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok sendiri. Paskah adalah menangnya pilihan kata hati atas pilihan karena suap dan bujuk rayu kesenangan materialisme.

Paskah berarti happy end dari cerita penderitaan yang dipilih oleh Yesus Kristus. Kebangkitan adalah kemenangan atas kuasa kematian sekaligus proklamasi kemenangan atas kuasa doa; “maut telah ditelan dalam kemenanganmu? Hai maut di manakah sengatmu?” kemenangan hidup atas kematian yang ditandai dan dimateraikan oleh kebangkitan Yesus Kristus, memaknai setiap pilihan yang diambil dan ditempuh oleh setiap orang percaya.

Fokus Salib dan Paskah
Akhirnya, fokus salib itu adalah dialamatkan kepada manusia dan kemanusiaan akan mendorong untuk menghentikan hukum yang menindas yang pada gilirannya akan memampukan kita membangu kesejahteraan, kebudayaan dan pengetahuan yang luhur, mengurangi kemiskinan, keterbelakangan dan pengangguran.

Sedangkan nilai dan makna Paskah berarti Kristus adalah sumber damai dan pendamaian. Maka setiap orang Kristen dituntut untuk hidup berdamai dengan sesamanya. Berdasarkan prinsip inilah  gereja tidak menyetujui  tindak kekerasan  semacam itu hanya akan menghasilkan kehancuran dan kebinasaan. Orang Kristen terpanggil untuk menyaksikan perubahan hidupnya. Kristus yang lahir dalam hidupNya memberikan buah-buah nyata, pembaharuan batin dan hidup merupakan suatu kesaksian nyata yang mampu menerobos dinding kekerasan. Amin. (Penulis  Praeses HKBP Distrik XI Toba Hasundutan tinggal di Balige/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru