Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026

Paskah: Spirit Gereja Melawan Koalisi Herodian

Oleh Pdt Estomihi Hutagalung, MTh
- Minggu, 20 April 2014 23:08 WIB
1.025 view
Paskah: Spirit Gereja Melawan Koalisi Herodian
Paskah tahun ini dirayakan umat Kristen di Indonesia dalam realitas sosial yang marak dengan politik koalisi. Para pemimpin politik saling bersilaturahmi, giat bergerilya mencari teman koalisi guna mencari peluang kerjasama, kesepakatan dalam memenuhi syarat pencalonan presiden.

Sebab, pasca proses demokrasi elektoral legislatif, versi lembaga survey, tidak ada partai yang memenuhi presidential threshold, 20% kursi di DPR atau 25% suara sah nasional. Dengan demikian, tidak ada partai yang berdiri sendiri untuk mengusung calon presidennya.

Maka, koalisi mutlak dilakukan dengan segala implikasinya termasuk adanya syahwat menghempang capres lawan politik guna memuluskan langkah politik sendiri. Sehingga politik koalisi berwajah pragmatis, sebagaimana diungkapkan Koordinator Investigasi Fitra, "Koalisi itu cenderung koruptif. Dan koalisi itu selalu mengorbankan rakyat kecil. Koalisi adalah produk demokrasi Indonesia yang sudah sakit" (Suara Pembaruan Minggu 13/04).

Koalisi sebagai salah satu cara merebut dan mempertahankan kekuasaan, dapat bersifat koruptif. Pada makna demikian, kekuasaan bersifat menindas. Jika ada yang menentang, maka hukum pengucilan, bahkan politik mematikan harus dilakukan. Sebagaimana dialami Yesus Kristus dalam menghadapi koalisi Herodian, perselingkuhan ekonomi, politik dan agama yang dipraktekkan ahli Taurat, Imam Yahudi, Farisi, di bawah kekuasaan Herodes sebagai penguasa Pax Romana.

Koalisi Politik Herodian
Kecuali Yesus, tidak ada tokoh politik atau pemimpin agama yang berani secara terang-terangan berhadapan dengan kebijakan ekonomi, politik dan agama di wilayah Palestina. Dalam kondisi demikian, masyarakat Yahudi sebagai bagian dari wilayah jajahan, Pax Romana, sangat merindukan kehadiran tokoh mesianis yang diharapkan mampu menumbangkan rezim penguasa.

Dan dalam konteks sosial politik demikianlah Yesus hadir dan mendefenisikan ulang kekuasaan sebagai alat untuk menyadarkan makna beragama dalam realitas konteks politiknya, melayani orang susah, memberdayakan orang buta, menyembuhkan orang sakit, memberi makan lima ribu orang, membuat mujizat air menjadi anggur bahkan membangkitkan Lazarus dari kematian.

Blusukan dan aksi sosial Yesus telah membangkitkan harapan mesianik sebagaimana diwarisi dalam ajaran iman Yahudi. Suatu ekspektasi politik akan hadirnya seorang tokoh yang menciptakan realitas kerajaan Allah yang penuh damai dan sejahtera.

Rakyat miskin dan golongan ekonomi rendah di Palestina, setelah peristiwa mujizat tersebut, menginginkan Yesus sebagai tokoh politik dan menjadi pemimpin yang berkuasa guna menggulingkan rezim Herodes Antipas sebagai symbol hidup penindas.

Harapan politik demikian telah menimbulkan gejolak dan mengganggu stabilitas politik kekuasaan Pax Romana. Kehadiran dan pemaknaan kekuasan oleh Yesus dianggap factor pemicunya. Maka untuk mematikan langkah Yesus, harus ada koalisi antara simbol-simbol agama, nilai tradisi dan struktur yang melegitimasinya.

Pada titik demikian, maka Pontius Pilatus, seorang prokurator atau gubernur yang ditunjuk pemerintah kolonial Roma, pemimpin struktur pemerintahan Yerusalem, berkoalisi dengan Herodes Antipas yang bertindak selaku komprador bangsa kolonial Roma lalu berselingkuh dengan peran ahli-ahli Taurat, Imam Yahudi sebagai variabel yang mutlak dimainkan.

Maka ekonomi, agama dan politik berselingkuh, terjadi koalisi pragmatis dan memengaruhi masyarakat dan pemimpin agama dan politik untuk memonis Yesus sebagai orang yang bersalah, yang telah mengganggu stabilitas sosial yang menjungkirbalikkan meja politik agama dan ekonomi dan memengaruhi cara berpikir dan cara bertindak masyarakat serta menghujat Allah.

Sebab dalam dictum politik Yahudi diyakini bahwa tidak ada kejahatan yang tak terampuni selain kejahatan atas nama agama, karena menghujat agama dan Allah. Dengan demikian, hukuman penistaan agama menjadi taruhannya dan Yesus berada pada keputusan untuk dihukum gantung dan mati di kayu salib sebagai tanda penghinaan. Tetapi Yesus dibangkitkan Allah. Itulah Paskah.

Perlawanan Gereja
Keberadaan gereja sebagai suatu persekutuan orang kudus, communion sanctorum (Bonhofer), di dunia harus didasarkan pada tindakan Allah yang dilandasi atas kasih Allah (Leonardo Boff). Kesadaran demikian mendorong gereja untuk menyadari posisinya sebagai media yang memanggil dan mempersekutukan setiap orang dengan Allah.

Sehingga gereja tidak boleh tertutup tetapi harus membuka diri serta secara proaktif berkomunikasi, terlibat aktif dan berkoalisi dalam dunia. Koalisi, kerjasama Allah dengan gereja, dengan orang-orang beriman mengharuskan gereja bekerjasama dengan dunia dan untuk memperbaiki dunia menjadi kudus dan sempurna.

Tetapi, gereja harus menghadapi (melawan) adanya praktek politik yang Herodian, perselingkuhan agama, ekonmi dan politik walau harus mati sekalipun sebagaimana Yesus melakukannya. Dan itulah spirit Paskah bagi gereja. Opsi politik demikian adalah salah satu bentuk perlawanan gereja tanpa kekerasan terhadap praktek kotor koalisi Herodian.

Praktek perlawanan dan koalisi tersebut harus didasarkan pada tugas panggilan gereja sebagai tubuh Kristus yang memberdayakan setiap orang untuk melek politik, melek ekonomi dan agama sehingga diberdayakan dan mampu memaknai realitasnya.

Sebab harus diakui, sebagaimana dicatat Benedict Anderson bahwa gerakan politik di Indonesia sampai masa kini selalu dipengaruhi perselingkuhan agama dan politik serta ekonomi.

Implikasi kesadaran demikian akan mendorong orang Kristen yang duduk sebagai pejabat negara, pemimpin politik, legislator (yang baru terpilih) menyadari diri sebagai bagian dari tubuh Kristus (gereja) yang tidak boleh larut dalam realitas Indonesia yang menampilkan wajah kekerasan agama,korupsi sangat besa. Tetapi orang Kristen harus menerangi kegelapan dan menggarami realitas yang rusak.

Dengan adanya koalisi demikian, gereja tidak boleh terhisab ke dalam dunia, walau berada di dunia tetapi tidak boleh sama dengan dunia. Sehingga pada titik itulah gereja telah menyatakan salah satu tugasnya yaitu menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah guna melawan koalisi politik herodian. SELAMAT PASKAH. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru