Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 Juli 2026

Pemuda Gereja Harus Cerdik Seperti Ular, Tulus Seperti Merpati

- Minggu, 30 Oktober 2016 14:00 WIB
540 view
Pemuda Gereja Harus Cerdik Seperti Ular, Tulus Seperti Merpati
SIB/Dok
Pembicara Seminar "Refleksi 88 Tahun Sumpah Pemuda Quo Vadis Pemuda Gereja" yang diadakan PEWARNA di Grha Bethel, Jakarta, Jumat (28/10). Dari Kiri: Sahat Philip Sinurat, Lidya Natalia, Leo Nababan dan Rolas Sitinjak.
Jakarta (SIB) - Pemuda gereja mesti cerdik seperti ular, tulus seperti merpati. Juga, pemuda jangan berpangku tangan. Agar sukses, pemuda gereja harus siap pikul salib dan mampu menjadi garam dan terang dunia dimanapun ditempatkan.

"Kalau mau sukses, maka pemuda harus bisa menjadi garam dan terang. Pun, sebagai pengikut Yesus Kristus, kaum muda yang mau menjadi politisi maka dia sepatutnya menjadi politisi yang benar. Katakan ya jika ya, katakan tidak jika tidak, sebab di luar itu adalah dosa," kata Politisi Senior Golkar Ir Leo Nababan, yang menjadi keynote speaker dalam seminar refleksi 88 Tahun Sumpah Pemuda, "Quo Vadis Pemuda Gereja" yang diadakan oleh Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) di Grha Bethel, Jakarta, Jumat,  (28/10).

Selain Leo Nababan, pembicara lainnya yang hadir adalah Sekjen Vox Point Lidya Natalia, Ketua DPD DKI Taruna Merah Putih dan Ketua Umum PP GMKI Sahat Philip Sinurat.

Leo melanjutkan dirinya tidak sependapat penggunaan istilah minoritas dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara ini. "Tidak ada minoritas di negara demokrasi ini. Sebab sejatinya demokrasi itu adalah bicara soal kualitas," tegas mantan akitivis GMKI ini.

Sementara Sekjen Vox Point Lidya Natalia, mengatakan sumpah pemuda yang dicetuskan pada tahun 1928 ini memang mesti terus digaungkan. "Semangat sumpah pemuda ini begitu jujur, cerdas dan lugas. Tak heran jika sumpah pemuda dirayakan hingga saat ini," urai dia.

Sedangkan Ketua DPD DKI Taruna Merah Putih Rolas Sitinjak menekankan sebagai generasi penerus, pemuda harus berani tampil di garda terdepan bersuara ketika ada ketidakadilan di negeri ini. "Sebab itu, revolusi mental dikalangan pemuda juga fundamental untuk dilakukan pada saat ini sehingga terbentuk karakter pemuda yang tangguh," kata dia.

Menjawab pertanyaan "Quo Vadis Pemuda Gereja", Ketua Umum GMKI, Sahat Philip Sinurat, mengemukakan pemuda gereja tidak perlu kemana-mana. Pemuda gereja cukup berada di tengah-tengah bangsa ini memberikan kontribusi nyata untuk perubahan bangsa dan negara yang lebih baik.

"Melakukan perubahan dan menjadi jawaban tidaklah susah. Kita dapat mengawalinya dengan menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman lintas agama, suku dan golongan di sekitar kita. Tidak ada lagi persoalan perbedaan yang memisahkan kita untuk bergerak bersama," terang dia.

Sebelum seminar, diadakan ibadah yang dipimpin oleh Ketua Umum Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pdt Dr Japarlin Marbun. Dalam kotbahnya, Pdt Japarlin Marbun mengatakan pentingnya figur pemimpin yang bisa dijadikan teladan bagi kaum muda.

"Terutama pemuda perlu keteladanan dalam hal perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, kesuciaan dan kekudusan," tandas dia. (G03/ r)






SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru