Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 17 Juli 2026

Freddy Elbaiady Bangun ‘Jembatan’ Islam-Kristen di Mesir

- Minggu, 21 Januari 2018 19:45 WIB
577 view
Freddy Elbaiady Bangun ‘Jembatan’ Islam-Kristen di Mesir
Dr Freddy Elbaiady
Kairo (SIB) -Freddy Elbaiady adalah dokter Mesir berusia 46 tahun.  Melalui Salam Medical Center (SMC) di El-Qanatir, sebelah utara Kairo, ia membangun jembatan antara warga Kristen dan Muslim, yang berjalan dengan baik bahkan di saat krisis hingga kini.

Katja Dorothea Buck, ilmuwan yang menekuni ilmu politik dan agama, terutama kekristenan di Timur Tengah, menuliskan kisah tentang Elbaiady dan membagikannya di oikoumene.org.

Freddy Elbaiady bukan seorang dokter biasa. Ia mempunyai banyak profesi dan jabatan. Ia adalah ahli radiologi yang dihormati di Kairo, yang mengelola sebuah pusat kesehatan di kota asalnya, El-Qanatir. Ia juga anggota dewan gereja setempat, dan terlibat dalam pergumulan gereja Injili dalam kapasitasnya sebagai salah satu anggota Dewan Tertinggi Gereja-gereja Protestan di Mesir.

Publik lebih luas juga mengenal sosoknya. Pada tahun 2013, ia menerima tawaran untuk bergabung di parlemen ketika Ikhwanul Muslimin yang mendominasi parlemen pada waktu itu menawarinya, sebagai satu dari sedikit anggota Kristen.

Program berita TV acap mengundangnya untuk berdiskusi mengenai koeksistensi antaragama, peran gereja-gereja di Mesir dan politik pada umumnya. Tidak seorang pun meragukan ia memiliki pengaruh dan prestise. Tetapi, begitu pembicaraan mulai menyangkut kehidupan pribadinya, ia berubah menjadi orang yang pelit bicara.

Kantornya di Salam Medical Center (SMC) di El-Qanatir sangat sederhana. Bukan hanya dekorasinya, tetapi juga perabotannya. Tidak ada meja besar, tidak ada perabot kulit untuk menerima tamu. Freddy Elbaiady menerima tamu dan pengunjung di sebuah ruangan kecil. Di bagian belakang ada meja pemeriksaan untuk konsultasi.

Elbaiady sendiri sebetulnya bekerja di sebuah rumah sakit swasta besar di Kairo. Di tempat itu ia memimpin departemen radiologi. Seusai bertugas di rumah sakit itu, ia melanjutkan bekerja di SMC sekitar pukul sore, hingga lewat tengah malam, bahkan sering sampai dini hari. "Saya masih bisa tidur nyenyak kok," katanya.

Awal Kampung Halaman
Freddy Elbaiady mendirikan SMC pada usia 25 tahun. Ia mencari cara untuk memperkuat koeksistensi orang Kristen dan Muslim di kampung halamannya di El-Qanatir. Gereja Presbyterian setempat, tempat ayahnya, Dr Safwat Elbaiady, melayani sebagai pendeta pada saat itu, memberinya beberapa ruangan untuk mengawali kegiatannya.

Elbaiady mulai merawat pasien yang tidak memiliki uang untuk mendapatkan akses perawatan kesehatan yang layak. Ia juga meyakinkan rekan kerja untuk menjadi relawan beberapa jam saja di SMC, menyisihkan waktu seusai pekerjaan utama yang digaji.

El-Qanatir adalah kota kecil berpenduduk 50.000 orang di utara Kairo. Di kota itu Sungai Nil terbelah menjadi dua, membangun delta subur. Di desa, hidup sekitar 400.000 orang lebih. Kehidupan di sana keras, umumnya bekerja di ladang.

Banyak tantangan yang dihadapi orang-orang yang lahir di El-Qanatir dan wilayah yang seperti itu. Tidak banyak orang yang mampu menjangkau pendidikan berkualitas tinggi. Demikian juga, perawatan kesehatan sangat sulit diakses. Rumah sakit pemerintah memiliki dana sangat terbatas, dan karena itu menawarkan pilihan perawatan yang sangat terbatas. Sebaliknya, rumah sakit swasta menawarkan perawatan berkualitas tinggi, namun dengan biaya yang tidak terjangkau bahkan oleh 90 persen dari populasi nasional.

Pusat Kesehatan Perdamaian
SMC memberlakukan aturan berbeda. Setiap orang diperlakukan istimewa, tidak peduli ia sanggup membayar ataupun tidak. Banyak pasien bahkan tidak bisa membayar satu sen pun.

SMC mampu menutupi biaya operasional sehari-hari. Namun, untuk menutupi biaya konstruksi, perluasan dan program tambahan, SMC bergantung pada sumbangan. SMC bukan hanya pusat medis, kata Elbaiady. "Ini adalah Pusat Kesehatan Perdamaian, tempat di mana umat Kristen dan Muslim berkumpul.
Kebanyakan pasien adalah Muslim, sama seperti 65 dokter. Mereka melayani orang miskin dengan komitmen. Visi pembangunan perdamaian antargama yang dipromosikan dengan baik telah mendapat dukungan internasional dari banyak organisasi internasional."

Proporsi orang Kristen di sekitar El-Qanatir adalah lima persen, lebih rendah daripada rata-rata nasional yang sepuluh sampai 15 persen. Gereja Protestan di situ hanya gereja kecil, dengan hanya 40 anggota. Mereka beribadah di sebuah ruangan kecil yang sederhana di belakang klinik.

Jalan kecil menghubungkan tempat itu ke halaman sekolah yang berdekatan. Bagi Elbaiady itu adalah "rumahnya". Di tempat itu ia dibesarkan, di tempat itu ia pergi ke sekolah. Kini ia adalah anggota dewan gereja setempat yang dipilih, yang terkadang naik mimbar, berkhotbah di ibadah utama di hari Minggu. (sh.com/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru