Kerukunan dan toleransi antar umat beragama perlu dijaga dan dilestarikan. Kerukunan dan toleransi yang terus terjaga dalam kehidupan beragama akan dapat menciptakan kedamaian di muka bumi. Bangsa Indonesia sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah dan santun, bahkan predikat ini menjadi cermin kepribadian bangsa kita di mata dunia internasional.
Indonesia adalah negara yang majemuk, bhinneka dan plural. Kerukunan umat beragama adalah hal yang sangat penting untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup di negeri ini. Indonesia terdiri dari beberapa suku, etnis, bahasa dan agama namun terjalin kerja bersama guna meraih dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia kita.
Kerukunan antar umat beragama, yaitu suatu bentuk kerukunan yang terjalin antar masyarakat yang memeluk agama berbeda-beda. Kerukunan umat beragama adalah salah satu point yang sangat peting dalam kehidupan sosial. Dimana harus adanya sinergi antar umat beragama dalam menjaga keutuhan kerukunan umat beragama.
Secara sosiologis, pluralisme agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda.
Pemazmur di dalam Alkitab, menyebut manfaat hidup rukun itu, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!“ (Maz. 133:1).
Dalam Mazmur ini yang merupakan suatu nyanyian ziarah, suatu nyanyian refleksi kehidupan pribadinya, Daud melukiskan kerukunan terjadi apabila sesama saudara hidup bersama secara rukun. Kerukunan itu adalah sesuatu yang sangat baik dan indah. Kebaikan dan keindahan itu dilukiskan sebagai minyak di atas kepala dan embun yang turun ke atas gunung-gunung.
Bagi Pemazmur hanya melalui kerukunan di antara sesama kita baru Tuhan mencurahkan berkatnya. Jadi kerukunan merupakan syarat utama bagi Tuhan mencurahkan berkat. Bila kita tidak dapat hidup rukun dengan sesama kita, maka kita tidak mungkin mengharapkan berkat Tuhan turun ke atas kita.
Dengan demikian, kerukunan merupakan suatu ciri penting dalam suatu persekutuan. Kerukunan menunjukkan adanya suasana harmonis dan damai yang tercipta diantara sesama kita dalam suatu persekutuan atau organisasi. Kerukunan menciptakan kondisi untuk masing-masing pihak dapat berkembang secara baik berdasarkan potensi yang ada di dalam dirinya.
Semangat kerukunan sebagaimana dimaksudkan oleh pemazmur tersebut di atas, sesungguhnya sebuah gelora pemulihan hubungan, tentunya di dalamnya terdapat jiwa atau nafas kerukunan yang sejati. Kerukunan yang sejati, bahasa lain dari “kasih Allah†yang telah diterima dan diajarkan kepada umat pilihanNya. Sebagai anak Tuhan atau umat pilihan Allah seharusnya membagikan nafas dan jiwa kerukunan ini kepada semua manusia.
Kerukunan hanya dapat tercipta ketika semua pihak yang berbeda dapat duduk bersama, berdialog bersama orang lain, saling mencurahkan hati dan perasaan untuk saling menerima meski berbeda. Sejarah mencatat, kerukunan inilah yang menciptakan atmosfir sorga di tengah-tengah keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Kata ini diakui sebagai bagian integral dari budaya moral bangsa kita. Kita agungkan dan promosikan diantara bangsa-bangsa di dunia sebagai ciri dari bangsa Indonesia.
Oleh sebab itu, sebagai bagian dari komponen bangsa yang besar, kita sebaiknya mengambil langkah nyata guna mengembalikan bangsa ini ke jalur yang benar. Kerukunan juga bagian dari tiang penyangga kejayaan kita, di mana para pemeluk agama yang berbeda hidup berdampingan dengan harmonis.
Jika kita bertumpu dan bercermin pada Yesus, adalah sangat dimungkinkan menjadi abdi Allah yang mengalami dan menyaksikan persistensi kuasa kasih dan anugerah di dalam kita kepada sesama kita. Karena manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kepekaan akan waktu dan sejarah, serta memiliki dorongan untuk memiliki hidup yang bernilai. Nilai kemanusiaan kita didapat ketika kita bisa menerima kelemahan dan kelebihan orang lain. Dari dalam diri manusia pada umumnya dorongan egoisme, mau menang sendiri, melihat kepentingan sendiri tanpa melihat kepentingan bersama yang lebih besar.
Tuhan Yesus bersedia melepaskan segala atribut kebesarannya untuk turun dan merendahkan dirinya agar Ia melalui pengorbanan diriNya dapat merukunkan kembali kita dengan Allah Bapa kita. Yesus merupakan berkat Allah yang terbesar yang dicurahkan kepada kita. Yesus telah berkorban bagi kita. Yesus telah merukunkan kita dengan Bapa sehingga kita menjadi layak disebut anak-anak Allah.
Yang pasti semua pihak tentu sama-sama bertekad untuk mewujudkan dan menterjemahkannya dalam perilaku secara benar. Mustahil ada pemulihan hubungan antara Allah dan manusia tanpa pemulihan hubungan antar manusia itu sendiri. Sebab pulihnya hubungan antara Allah dan manusia ditandai dengan pulihnya hubungan antar manusia.
Jadi kerukunan yang akan menciptakan perdamaian ini bukan sekedar karunia tetapi juga tanggung jawab. Kerukunan dengan orang lain bukan anugerah tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan, digumuli dan diwujudkan. Disinilah kita menemukan tanggung jawab orang percaya sebagai “terang dan garam duniaâ€. Dalam Matius 5:9, berbunyi berbahagialah mereka yang membawa damai, karena akan disebut anak-anak Allah. Dalam ayat ini terdapat signal atau isyarat yang jelas bahwa orang percaya harus menebar benih-benih kasih dengan sesama umat beriman lainnya menuju kedamaian dan kerukunan hidup yang sesungguhnya.
Kita tidak boleh hanya menantikan anugerah kerukunan tercipta tanpa usaha kita. Sebagaimana Kristus datang membawa damai. Ia telah mengupayakan damai tersebut. Kita dipanggil untuk mengusahakan damai dalam kiprah kita di gelanggang partai politik di negeri ini. Sebab memang “terang Allah†harus menembus setiap wilayah hidup. Semua umat beragama di dunia untuk membangun kerukunan antar umat beragama melalui spiritualitas dialogal.
Akhirnya, marilah kita juga, setelah kita mengaku percaya, kita mau hidup rukun dengan sesama kita. Bersedia dan belajar menghormati orang lain, sama seperti kita ingin orang lain menghormati kita. Kerukunan dan kedamaian hanya dapat tercipta baik di dalam hati kita maupun di antara kita bila kita mau dan bersedia mengorbankan sebagian dari ego kita, kesombongan kita, dan kebanggaan kita untuk bisa menerima orang lain masuk dalam hidup kita.
Kepada semua komponen bangsa yang harus bahu membahu berkonsolidasi sinergi membangun negara yang tangguh. Bila kita sebagai anak-anak Tuhan berperan serta mewujudkan kerukunan tersebut maka kita telah turut menggenapi doa Tuhan Yesus: Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga. Amin.
(Penulis Praeses HKBP Distrik XI Toba Hasundutan, tinggal di Balige/q)