Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026

Mempersiapkan “Bahtera” Bukan "Tahta" Menuju Zaman Baru

Oleh Pdt Jansen Simanjuntak MTh, MM
- Minggu, 06 Juli 2014 22:31 WIB
418 view
Mempersiapkan “Bahtera” Bukan
Pada zaman Nabi Nuh, Alkitab dengan tegas menunjuk realitas bahwa bumi itu telah rusak dihadapan Allah dan penuh dengan kekerasan ... sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Terjadi beragam tindak kekerasan, sewenang-wenang dan mungkin saja berlaku hukum rimba – siapa kuat dia menang. Terhadap suasana itu, Allah lantas merancang karya keselamatan bagi dunia beserta segala isinya. Allah bertindak memusnahkan semua, kecuali para pilihannya. Nabi Nuh tampil menjadi figur utama, kontroversial dan memiliki keunggulan khusus. “Nabi Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang se zamannya; dan Nabi Nuh itu hidup bergaul dengan Allah” (Kejadian 6 : 9); ‘Nabi Nuh adalah pemberita kebenaran’ (2 Petrus 2 : 5).

Nabi Nuh, atas kehendak Allah, mempersiapkan bahtera, terbuat dari kayu. Selama proses pengerjaan Nabi Nuh tentu dikecam oleh berbagai kalangan. Namun ia berketetapan hati “melakukan semua itu tepat seperti yang diperintahkan Allah” (Kejadian 6 : 22). Ia di tengah hiruk-pikuk egoisme dan ketidak pedulian sosial Nuh bangkit dan berani melawan arus. Demikian halnya kondisi di negara kita akhir-akhir ini, kita mencermati kesimpulan penelitian para ahli. Dari 46 kali peristiwa kerusuhan selama pemerintah reformasi, tersingkap bahwa kepercayaan terhadap lembaga negara merosot. Namun suara gelisah itu pun wajar saja, terfokus pada upaya pemulihan fungsi negara sebagai “bahtera” menuju zaman baru. Karena , selama ini, negara yang diharapkan sebagai “Bahtera” ternyata berubah “menjadi kenderaan tahta Firaum”. Hingga akhirnya kita tak kunjung bisa menuju pelabuhan yang diharapkan bersama.

Dalam konteks itu, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden  Rabu, tanggal 09 Juli 2014, kiranya dapat disebut sebagai Kairos untuk menata ulang “bahtera bangsa” kita. Yakni dengan mekanisme pengelolaan negara oleh pemerintah yang legitimate dan representatif. Oleh karena itu pemilihan presiden dan wakil presiden menjadi momentum demi perbaikan insitusi politik bagi tatanan kehidupan yang lebih demokratis menuju zaman baru. Maka asas penyelenggaraan Jurdil dan Luber harus benar-benar diwujudnyatakan.

Ciri zaman baru bangsa kita, sesungguhnya dilandasi dengan ketaatan pada Allah. Bercermin pada hikayat Nabi Nuh, kita harusnya membenci kekerasan dan kesewenang-wenangan. Tapi mengkehendaki terciptanya kondisi kehidupan yang solider. Cakupan hidup solider bukan hanya soal perasaan senasib saja, tetapi juga terutama tindakan kepentingan yang mampu menekuni hidup pribadi tanpa terpengaruh oleh aneka suara gelisah. Nabi Nuh tidak turut pada sistem kemasyarakatan yang bobrok dan bangkrut tapi justru ia melakukan protes sosial dengan cara yang unik yaitu mempersiapkan bahtera.

Menyambut semua itu, sama sekali, bukanlah hendak membesar-besarkan Nabi Nuh sebagai pahlawan keagamaan. Sebab pasti  Allah tidak memelihara dunia berdasarkan jasa-jasa manusia siapa pun itu. Allah tidak “melepaskan pekerjaan tanganNya (Mazmur 138 : 8). Hanya saja “bahtera Nuh” itu tampil sebagai saran khas dalam Sejarah keselamatan bangsa-bangsa beserta lingkungan hidupnya. Karena menurut kesaksian Alkitab, “bahtera Nuh” bukan tujuan akhir dan tidak secara terus-menerus mengarungi air bah. Melainkan, sesuai amanat Allah, berlabuh untuk memulai suatu komunitas manusia baru, menurut zaman baru.

Posisi Negara kita serta merta dengan perangkat pemerintah, barangkali juga, dapat dianologikan dengan bahtera itu. Sedangkan momentum Pemilu, kiranya dipahami, sebagai rancangan kinerja bagi mekanisme pengelolaan Negara. Atau dengan kata lain, merupakan upaya untuk mempersiapkan bahtera. Alur perenungan sedemikian, kiranya semakin penting dan aktual untuk diperhadapkan dengan kondisi kehidupan bangsa kita. Bersama secara adil dan beradap. Dengan demikian, melalui pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, kita sebagai bangsa berada dalam tatanan rencana keselamatan Allah.

Oleh sebab itu, saya akan mengajak masyarakat gunakanlah hak pilih saudara-saudara dengan baik dan tepat. Jangan sia-siakan kesempatan. Dengan menggunakan hak pilih yang tepat  kita ikut berperan membangun bangsa ini lima tahun ke depan, jangan menjadi penonton yang apatis, jangan memburuk-burukkan orang lain, jagalah ketertiban sehingga tercipta pemilu damai dan bermartabat. Tuhan Yesus memberkati kita semua, Amin. (c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru