Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 17 Juli 2026

Bedah Buku ?dari Parau Sorat ke Mancanegara? Karya Pdt Dr PWT Simanjuntak

* Berisi 157 Tahun Kekristenan di Tano Batak
- Minggu, 30 September 2018 20:04 WIB
1.927 view
Bedah Buku ?dari Parau Sorat ke Mancanegara? Karya Pdt Dr PWT Simanjuntak
SIB/Victor Ambarita
BEDAH BUKU : Bedah Buku ?Dari Parau Sorat ke Mancanegara? karya Ephorus HKBP ke- 11 Pdt Dr PWT Simanjuntak di Lantai 4 Gedung, Bakmi GM, Sarinah, Jakarta, Senin malam, (24/9). Dari Kiri: Pdt Baharuddin Silaen MSi, Prof DR MR Matondang, Prof DR Mutiara Sib
Jakarta (SIB)  -Di usianya yang tidak lagi muda, Ephorus HKBP ke-11 Pdt Dr PWT Simanjutak (83) menerbitkan buku  157 tahun kekristenan di Tano Batak dan sekitarnya yang diberi judul "Dari Parau Sorat ke Mancanegara".

"Saya memilih judul buku ini 'Dari Parau Sorat ke Mancanegara' dalam rangka membahas pertumbuhan dan perkembangan Pekabaran Injil (PI) di Tano Batak dan sekitarnya," kata Pdt PWT Simanjuntak, saat Bedah Buku 'Dari Parau Sorat ke Mancanegara' di Lantai 4 Gedung Bakmi GM, Sarinah, Jakarta, Senin, (24/9) malam. 

Hadir sebagai pembedah buku tersebut adalah Prof. Dr. MR. Matondang, Prof. Dr. Payaman Simanjuntak, Prof. Dr. Mutiara Sibarani dan Pdt. Baharuddin Silaen MSi.

Pdt PWT Simanjuntak menjelaskan sejarah PI sebenarnya telah dimulai  tahun 1824 meskipun mengalami kegagalan dan baru berhasil pada tahun 1861 dengan ditahbiskannya dua orang batak pertama (Simon Siregar dan Yakobus Tampubolon) oleh Misionar Van Asselt di Parau Sorat, Sipirok.

"Dari desa kecil Parau Sorat itulah meluas dan berkembang terus menjadi gereja yang bernama Batak mission hampir di seluruh Tano Batak. Kemudian mekar menjadi beberapa gereja seperti HKBP ke hampir di seluruh nusantara, Singapura, Malaysia dan Amerika," beber dia.

"Dari dua orang di Parau Sorat menjadi jutaan orang dan eksis sebagai gereja sampai ke mancanegara," tambah dia.

Menurut PWT Simanjuntak dengan segala kekurangannya yang rentan konflik serta terkesan sebagai gereja suku yang eksklusif pada satu sisi dan kelebihannya menjadi berkat bagi masyarakat sekitar dan kemuliaan bagi Tuhan, Raja Gereja. Meski begitu selalu siap melayani seperti Yesus Kristus yang datang untuk melayani tanpa kecuali, dengan motto "Ekklesia Reformata Semper Reformanda".

"Perubahan dan perbaikan yang terus-menerus itulah menyemangati saya untuk menulis buku ini sebagai bahan diskusi dan solusi mengenai pertumbuhan dan perkembangan PI di Tano Batak dan sekitarnya," kata PWT Simanjuntak yang menulis buku ini sebagai ungkapan syukur di ulang tahun yang ke-83 (16 Juli 1983) dan 60 tahun tahbisan kependetaan (Gereja Bolon Pematang Siantar 22 Juni 1958).

Dalam bedah buku tersebut, Pdt Baharuddin Silaen MSi, mengulas tampilan sampul buku yang sangat bagus dan menarik. "Pun, judul buku 'Dari Parau Sorat Ke Mancanegara' sangat menarik, singkat, padat, menarik dan provokatif. Judul ini menggugah dan membuat penasaran orang," kata mantan wartawan SIB yang kini menjadi Pemimpin Redaksi Suara HKBP ini. 

Penulis, lanjut Baharuddin, memberikan masukan yang sangat bagus namun sangat minim mengulas tentang Parau Sorat. "Padahal banyak orang ingin tahu Parau Sorat itu dimana. Apakah masih ada Parau Sorat. Lalu, kenapa empat penginjil pertama kali datang ke Parau Sorat dan bukan ke tempat lain, bagaimana dengan kondisi Parau Sorat sekarang dan apakah masih ada warga kristen di Parau Sorat. Apakah masih ada sekolah disana yang didirikan Van Asselt," imbuh dia. 

Sementara Prof Payaman Simanjuntak, mengutarakan buku berjudul "Dari Parau Sorat ke Mancanegara' ini terkesan mengulas perkembangan HKBP yang lebih menonjol. Yakni perkembangan HKBP dari Parau Sorat ke Rura Silindung, Humbang, Toba Samosir, Dairi, Medan dan sekitarnya, Jakarta, baru parserahan HKBP di Indonesia, Singapura, Malaysia California, Colorado, New York dan Fontana. Sayangnya (HKBP) tidak ada di Jerman," kata dia. (J03/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru