Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026
Memakai Dogma Trinitatis di Gereja

Mana yang Lebih Kuat Perkalian Atau Penambahan ?

Oleh: Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh
- Minggu, 13 Juli 2014 15:17 WIB
401 view
 Mana yang Lebih Kuat Perkalian Atau Penambahan ?
Kita butuh dikagumi. Kita butuh dicintai. Butuh dipelihara. Butuh dijaga. Disembuhkan. Dipulihkan. Dikasihi. Dikasihani. Selanjutnya, kita butuh ditemani. Butuh diterima. Diampuni. Didamaikan. Didampingi. Dimengerti. Ditolong. Diakui. Disambut. Dihargai. Dirangkul. Kita pun butuh dibimbing. Butuh dihibur. Dibesarkan hati. Diarahkan. Dibisiki. Ditopang. Diberi petunjuk. Diberi masukan. Diberi pegangan. Diberi kebebasan.

Semua itu merupakan kebutuhan kita. Bagaikan sudah menyelami semua kebutuhan kita itu, Tuhan lalu memenuhi kebutuhan itu satu persatu. Kita butuh dikagumi. Maka Tuhan pun mengagumi kita sehingga pada awal Alkitab sudah tertulis bahwa kita dinilai ”sungguh amat baik” (Kej.1:31). Kita butuh dihibur. Maka pada akhir Alkitab tercatat bahwa Tuhan pun ”menghapus segala air mata” (Why.21:4). Ratusan pengarang Alkitab bersaksi bahwa Tuhan memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Tuhan menemani si A, mendamaikan si B.Tuhan membisiki si C, dan seterusnya. Begitu banyak yang Tuhan perbuat. Kita sulit membayangkannya. Ada kemungkinan bahwa sesuatu yang terlalu banyak jadi membingungkan dan akhirnya diremehkan. Karena begitu banyak yang Tuhan perbuat, mungkin kita jadi sulit memahaminya.

Untuk menolong agar kita bisa memahami kepelbagaian pekerjaan Tuhan, gereja abad-abad pertama bergumul dan mengembangkan sebuah ajaran. Setelah banyak pertimbangan, gereja abad-abad pertama merumuskan bahwa Allah memenuhi kebutuhan kita dengan ‘cara berada’, yaitu Allah Bapa, Putra, dan Allah Roh .

Sebagai Allah Bapa, Ia menciptakan, memelihara, dan memulihkan kita. Bukankah tiap hari Tuhan masih menciptakan kita? Tiap hari jutaan sel dalam tubuh kita rusak. Lalu tiap hari pula Tuhan memulihkan tubuh  kita dengan menciptakan jutaan sel pengganti. Jadi jika tidur, justru di situlah Tuhan bekerja untuk memulihkan kita.

Sebagai Allah Putra, Ia mengampuni, mendamaikan, dan menemani kita. Ia memahami dan menyelami suka duka kita. Ia ikut menderita takkala kita menderita. Ia turut menangis dengan kita.

Sebagai Allah Roh, Ia meneduhkan hati kita. Di tengah kebingungan kita, Ia menenteramkan. Ia membisiki hati nurani kita. Ia menuntun pikiran kita. Ia mengatur tutur kata kita. Ia memberi pegangan kepada kita. Ia membesarkan hati kita. Ia mengarahkan langkah-langkah jalan kita. Ia menolong kita dikala kita berdoa. (Roma 8:26).

Tuhan yang tunggal itu bekerja menolong kita dengan ‘tiga cara berada’. Sebagai Allah Bapa, yaitu Tuhan di atas kita. Sebagai Allah Putra, yaitu Tuhan di tengah-tengah kita. Sebagai Allah Roh yaitu Tuhan di dalam kita. Allah yang satu hadir dengan tiga cara berada. Allah hanya satu. (Ul.6:4), namun memainkan tiga peran. Tiga cara itu saling berbeda, namun tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Oleh karena itu cara berada Allah itu bukan ditambahkan melainkan dikalikan. Bukan 1+1+1, melainkan 1x1x1= 1.

Rumusan ajaran atau dogma itu lahir setelah beberapa abad digumuli melalui banyak doa dan diskusi. Dogma itu disebut TRINITATIS. Allah yang tunggal menyelamatkan kita dengan tiga cara berada. Di dalam diri Allah yang tunggal terdapat kebersamaan tri cara berada.

Apakah dengan rumusan itu kita menjadi mengerti misteri Tuhan? Apakah penjelasan itu memuaskan akal kita? Tidak! Ajaran Tritunggal tidak bisa memuaskan logika. Misteri hakikat Allah tidak bisa dipecahkan oleh rumusan atau dogma apa pun. Pengakuan bahwa Alah yang satu hadir dengan tiga cara berada dirumuskan bukan sebagai dalil ilmiah, melainkan sekedar sebagai pegangan iman. Apakah pegangan iman ini bisa dibuktikan dengan ayat-ayat Alkitab? Juga tidak! Ayat-ayat Alkitab bukan ditulis untuk dijadikan bukti, melainkan sebagai kesaksian bahwa Allah yang satu bekerja dengan cara berbeda-beda.

Kita tidak usah membela atau membuktikan pengakuan Tritunggal ini, melainkan mensyukurinya sebagai sebuah berkat. Tiap hari MInggu gereja mensyukuri dogma itu dengan berkat rasuli yang berbunyi,”Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Kor.13:13). Kita pun mensyukurinya dengan merayakan hariMinggu Pentakosta, lalu seminggu setelah itu dengan hari Minggu Trinitatis. Gereja mempergunakan ‘tahun gereja’ atau ‘tahun liturgi’ sebagai ‘kurikulum’ pengajaran gereja melalui liturgi minggu. Tahun gereja dimulai dengan Masa Adven (Latin: adventus = kedatangan) yang terdiri dari empat minggu sebelum tanggal 25 Desember. Masa adven bermaksud ganda, yaitu menciptakan suasana penantian untuk menyambut kedatangan Yesus sebagai bayi dan kedatangan Yesus sebagai ’Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati” (Kis.10:42). Sesudah itu tibalah masa Natal. Masa Natal berlangsung selama dua minggu sampai hari Epifania (Yunani:epiphania= pernyataan) pada tanggal 6 Januari dimaksudkan untuk mensyukuri  awal pernyataan Allah dalam diri Yesus. Sesudah itu menyusul Masa Pra-Paskah yang berlangsung selama lima minggu. Selama Masa Pra-Paskah kita  bagaikan diajak ikut rombongan Yesus dalam perjalanan-Nya yang terakhir menuju Yerusalem. Hari Minggu yang menyusul yaitu keenam adalah Hari Minggu Palem untuk mengenang sambutan orang banyak yang melambai-lambaikan daun palem pada waktu Yesus memasuki Yerusalem (lih.Yoh.12:13). Hari-hari antara Minggu Palem dengan Paskah disebut Minggu Kudus. Dalam Minggu Kudus kita memperingati Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Besoknya Minggu Paskah. Tujuh minggu sesudah Paskah disebut Minggu-minggu Paskah. Pada hari Kamis menjelang hari Minggu yang ketujuh adalah hari Kenaikan Tuhan. Sembilan hari setelah itu kita merayakan Pentakosta. Sembilan malam yang ada antara Kenaikan dan Pentakosta disebut Nivena yang ditandai dengan ibadah pribadi yang bersuasana teduh. Hari Minggu segera setelah Pentakosta disebut Minggu Trinitatis untuk merayakan sifat tritunggal Allah.

Tujuan tahun gereja adalah agar kita belajar melihat dan memahami  karya Kristus sebagai sebuah kesatuan yang utuh. Dengan mengikuti tahun gereja kita melakukan napak-tilas atau menempuh ulang penampakan historis Yesus dari masa Adven sampai Kenaikan sampai Minggu Kristus Raja. Dengan tahun gereja kita terhindar dari praktik ibadah yang terpenggal-penggal.

Sejak abad 4 atau 5 liturgi dan tahun gereja menjadi alat Pendidikan Agama Kristen yang menolong umat memahami bahwa ibadah bukanlah usaha kita melainkan pemberian Allah dalam rangka sejarah keselamatan. Pakar liturgika James White menuliskan dalam Introduction to Christian Worship:”The liturgical year both underscores the futility of our efforts and exults in God’s victories for us.”

Tiap hari Minggu kita beribadah. Tetapi kita tidak bosan dan berputar-putar di situ juga sebab tiap minggu kita maju lagi, terbawa oleh arus pekerjaan Allah yang terus bersinambung dan  anugrah Kristus yang terus mengalir. Karya Penyelamatan Tuhan, bukan ditambahkan tetapi dikalikan.

Allah yang tunggal bertindak dengan tiga cara berada sebagai Allah Bapa, Allah Putra, dan Alah Roh. Oleh sebab itu, gereja sepanjang masa bersorak dan bernyanyi (Nyanyian Rohani N0.3):

Hormat bagi Allah Bapa

Hormat bagi Anak-Nya

Hormat bagi Roh Penghibur

Ketiganya Yang Esa

Haleluya, haleluya

Ketiganya Yang Esa. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru