Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 15 April 2026
RENUNGAN

Nasehat Hidup di Tengah-tengah Keberagaman

* (1 Petrus 2: 11-12) Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
- Minggu, 09 Desember 2018 21:54 WIB
1.160 view
Nasehat Hidup di Tengah-tengah Keberagaman
"Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka" (1 Petrus 2:11-12).

Sekedar untuk mengingatkan bahwa pada saat ini kita sedang merayakan minggu Advent kedua, artinya, inilah minggu masa penantian menjelang perayaan natal (masa kelahiran). Biasanya, meski gereja dalam konteks minggu Advent namun di berbagai kalangan warga jemaat dan gereja sudah merayakan natal. Nah, meskipun hal itu dilakukan oleh orang Kristen dan gereja bukan berarti kita mengabaikan perayaan Advent. Mengapa? Nats renungan kita pada minggu ini mencoba akan menjawabnya, kita menyambut Tuhan dengan hidup baik.

Surat rasul Petrus sebagai dasar nats renungan hari ini berisikan tentang nasehat bagaimana seharusnya kita hidup di tengah-tengah keberagaman dan di negeri orang lain. Perlu kita ketahui di jaman surat ini ditulis oleh rasul Petrus di mana kondisi keKristenan kurang kondusif meski saat itu Kerajaan Romawi dibawah kepemimpinan konstantinAgung menetapkan agama Kristen sebagai agama resmi di wilayah kerajaan Romawi.

Apa gerangan tekanan terhadap keKristenan pada saat itu? Pertama, Rasul Petrus menulis sebuah nasehat yang luar biasa kepada para pendatang dan perantau (ay. 1a). Memang dalam konteks aslinya, Petrus menulis surat ini dan ditujukan kepada para pendatang yang tersebar di berbagai kota di wilayah kekaisaran Romawi (1 Petrus 1:1). Mereka ini adalah orang-orang percaya yang tersebar ke berbagai daerah karena penganiayaan dan pengusiran karena iman mereka. Tentu saja mereka merasakan kedukaan atau rasa sakit hati karena harus pergi dari daerah mereka ke daerah baru, mereka hidup sebagai seorang pendatang dan perantau di daerah yang baru tersebut.

Kedua, supaya kita menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang melawan jiwa kita (ay.1b). Petrus mengingatkan bahwa dalam kehidupan kita ada suatu "perjuangan" atau "perlawanan" yang nyata dan terus menerus antara keinginan daging dan juga keinginan jiwa. Tentu saja hal ini hanya akan ada di dalam diri orang percaya, karena orang di luar Kristus adalah orang-orang yang masih hidup di dalam daging dan mereka akan memiliki kecenderungan untuk mengikuti keinginan daging mereka. Namun orang percaya memiliki kuasa untuk mengubah jiwa mereka menjadi jiwa yang diingini oleh Tuhan, sehingga akan selalu ada peperangan tersebut. Jika jiwa (yang telah disucikan dan dikuduskan Tuhan) yang menang maka orang tersebut lulus untuk menjadi anak-anak Allah, tetapi jika daging yang menang, berarti orang tersebut gagal memenuhi standar orang percaya.

Ketiga, supaya kita memiliki cara hidup yang baik di tengah-tengah para penduduk asli (ay. 12a). Sebagai pendatang dan perantau, tentu saja kita akan menjadi sorotan dan pusat perhatian dari para penduduk asli apabila kita memiliki cara hidup yang tidak baik.Menurut nasehat rasul Petrus supaya orang Kristen jangan menjadi cemohan, jangan karena ulah segelintir orang sehingga menganggap bahwa semua orang Kristen adalah tidak baik. Mereka akan menganggap kita sebagai perwakilan dari seluruh orang Kristen di seluruh dunia. Ini adalah beban yang memang harus kita sadari. Kita punya tanggung jawab untuk senantiasa memuliakan Tuhan melalui kehidupan yang baik. Kita dituntut membuat orang lain agar turut memuji dan memuliakan Tuhan ketika mereka melihat perbuatan baik kita (ay. 12c).

Keempat, supaya kita tidak membuka celah yang memungkinkan orang lain memfitnah kita (ay. 12b). Tentu saja ketika kita datang sebagai perantau di daerah yang baru, tidak semua orang akan suka kepada kita. Mungkin saja ada orang yang tidak suka dengan kehadiran kita, kemudian mereka berusaha mencari cara untuk menjatuhkan kita. Mereka bisa saja memfitnah kita dari kelemahan-kelemahan kita. Oleh karena itu kita harus menjaga diri kita agar tidak ada kelemahan dalam diri kita yang bisa dimanfaatkan oleh lawan-lawan kita. Kalaupun ada, kita haruslah tetap setia dan hidup dalam kesalehan di hadapan Tuhan dan di hadapan sesama manusia.

Saudara seiman dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Refleksi apakah yang dapat kita petik dari nats renungan hari ini? Nasehat rasul Paulus ini begitu relevan untuk kita pedomani ketika kita akan dan sedang merayakan natal dalam suasana advent saat ini. Hedaklah perayaan advent dan natal yang kita lakukan dapat menjadi teladan terhadap diri kita dan terhadap sesama kita dengan cara hidup dalam kebaikan dan senantiasa berbaik hati sebagaimana Allah mengasihi kita. Amin.!(c)
Editor
:
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru