Terkoneksi dengan internet, bermain di dunia maya serta berelasi di media sosial, itulah ciri penting kehidupan masa kini, khususnya generasi yang disebut sebagai kelompok milenial. Realitas kehidupan dunia telah memasuki fase gelombang ketiga sebagaimana "nubuatan" Alvin Toffler pada tahun 1980 yaitu era internet of things yang ditandai dengan kecanggihan teknologi informasi yang membuat dunia sebagai komunitas global elektronik.
Media sosial sebagai anak kandung teknologi informasi, telah sampai pada titik puncak pengaruhnya dalam peradaban masa kini. Dunia berpijak kehidupan manusia menjadi berubah yang ditandai dengan mudahnya pola relasi yang mampu menembus batas wilayah negara, geografis atau batas lainnya. Dengan adanya "google" sebagai mesin pencari informasi kebutuhan atas temuan konektivitas internet menandai puncak pengaruh teknologi informasi dimaksud.
Pada akhirnya, realitas kehidupan ditandai akan pentingnya smartphone dengan segala aplikasinya seperti Instagram, WhatsApp, Facebook, Twitter dan sosial media lainnya. Pola komunikasi sosial, pemaknaan hidup telah berpindah dari pola tatap muka ke dalam layar smartphone yang selalu ada dalam genggaman. Smartphone menjadi salah satu sarana terpenting dalam menunjang eksistensi hidup termasuk pada pemaknaan bergereja masa kini dengan segala implikasinya.
Disrupsi Mindset Gereja
Jika demikian halnya, telah terjadi gap generasi, gap peradaban antara lahirnya Injil pada peradaban yang ditandai sentuhan fisik dan tatap muka dengan peradaban masa kini sebagai era internet of things. Kondisi demikian berpotensi besar pada adanya benturan pemahaman, benturan peradaban. Oleh karenanya, disrupsi mindset itulah salah satu implikasi terpenting dalam memaknai tugas panggilan gereja "zaman now" sehingga tidak terjerembab pada jebakan kenyamanan dogmatisme.
Gereja dalam memaknai cara beradanya harus mengedepankan pentingnya perubahan pola pikir, pola komunikasi, pola adaptasi pada realitas setiap zaman. Gereja masa kini didorong untuk mengoneksikan Injil yang lahir dalam konteksnya sehingga berjejaring dengan pola hidup anggota jemaat masa kini. Atau dalam bahasa teologi tradisionalnya, gereja harus mampu "menyeberangkan Injil" yang lahir pada konteks zamannya sehingga "berinkarnasi" pada realitas konteks berpijaknya masa kini. Allah yang Maha Kuasa di Surga, turun ke bumi, menjadi sama dengan manusia.
Gereja harus mampu memahami pola perilaku hidup masa kini yang ditandai adanya smartphone yang digenggam sebagai media pendukung dalam menjalani kehidupan. Maka pada titik inilah gereja memaknai cara beradanya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Gereja harus mengadopsi pola pelayanan dengan layar smartphone, menggunakan media sosial guna "menyeberangkan Injil" dalam menjalin relasi, meneguhkan persahabatan dengan anggota jemaat dalam realitas berpijaknya. Dengan media sosial, gereja dapat memengaruhi, mengajari, mengonstruksi pemikiran, pemahaman umat Tuhan guna mewujudkan imannya dalam realitas berpijaknya.
Media Sosial Tuhan Yesus
Dengan demikian, media sosial gereja; Instagram, Facebook, WhatsApp, Line dan media sosial lainnya, harus selalu berkonten, bermuatan Injil Yesus Kristus, teladan hidup orang beriman sebagaimana dalam ajaran Alkitab. Pada Alkitab inilah kita mengetahui apa status, dengan siapa chating, apa yang diucapkan, bagaimana perasaan kesal, sukacita, maupun kemarahan Yesus. Pada kitab ini jugalah kita mengetahui caci maki, hasutan, bullying, bahkan drama kematian di kayu salib dan kebangkitan-Nya sebagai anak domba Paskah.
Karena seluruh kehidupan Yesus sudah diungkapkan dalam Alkitab, maka untuk chating, untuk menunjukkan "like, permohonan, sukacita" maka umat beriman harus melakukan teladan Yesus dalam kehidupan setiap hari. Status di media sosial haruslah menampilkan kemauan untuk menuruti kehendak Tuhan Yesus. Rajin membaca Alkitab, berkomunikasi dalam doa dan nyanyian rohani. Beribadah di gereja dalam membangun komunitas bersama-sama orang percaya.
Maka, pola pengajaran gereja melalui media sosial, adalah cerminan dari keteladanan hidup Tuhan Yesus semasa hidup-Nya melayani di dunia. Sehingga umat Tuhan ketika membaca media sosial gereja adalah juga membaca media sosial Tuhan Yesus. Dengan media sosial, umat beriman dapat melihat, membaca Instagram, Twitter Tuhan Yesus. Dengan ibadah atau doa, jemaat dapat "chating" dengan Tuhan Yesus dan "meng-up date status".
Itu juga berarti bahwa gereja harus memanfaatkan kemajuan teknologi dengan menyeberangkan cerita Alkitab ke dalam layar smartphone sehingga berjejaring dengan kehidupan konteks jemaat. Pola pengajaran terhadap anak-anak Sekolah Minggu sudah dapat menggunakan YouTube. Demikian juga dengan remaja dan pemuda, gereja harus menyediakan ruang bagi generasi millenial ini dalam mengelola, media sosial (Instagram, FB, WA, Line, Twitter dst).
Dengan metode demikian, gereja bukan hanya menyediakan ruang mengembangkan talenta, kreatifitas, sehingga dengan bebas para remaja dan pemuda gereja dapat terlibat dan berekspresi dalam berkomunikasi, meneguhkan relasi sebagai komunitas gereja. Pola pendampingan gereja demikian, juga mampu meneguhkan spiritualitasnya guna membentuk identitas personal dalam komunitasnya sehingga mampu membedakan mana kehendak Allah (Roma 12). Para remaja dan pemuda gereja mampu menolak konten pornografi, berkata tidak pada hoaks.
Media Sosial Sebagai Sarana
Perubahan teknologi digital berlangsung begitu cepat sehingga dengan sangat kuat memengaruhi pola hidup, karakter, pilihan kata, perilaku setiap orang termasuk anggota jemaat. Media sosial menjadi sarana dalam mengorganisasi diri bagi setiap orang pada realitas berpijaknya guna mewujudkan niat bersosialisasi, keinginan mengglobal.
Tetapi harus disadari bahwa tidak ada yang salah dengan kemajuan teknologi sebagaimana peringatan Alvin Toffler mengenai era internet of things yang ditandai dengan kecanggihan informasi elektronik. Dan tidak ada yang salah jika para remaja, pemuda gereja bahkan anggota jemaat menjadikan smartphone dengan jejaring media sosialnya sebagai bagian penting dari kehidupan. Demikian juga dengan gereja tidaklah menjadi bagian dari kesalahan jika membuat dogma, aturan demi menjaga meneguhkan iman jemaat dalam realitas berpijaknya.
Maka titik krusialnya adalah pemahaman yang berimplikasi pada disrupsi mindset. Gereja dalam memaknai cara beradanya haruslah memahami perubahan zaman sehingga gereja tidak terjerembab pada dogmatisme, menuhankan dogma. Demikian juga dengan para remaja, pemuda dan anggota jemaat secara umum, haruslah memahami adanya potensi negatif dari kemajuan teknologi, dampak negatif dari keterpesonaan hidup pada media sosial, potensi melupakan Tuhan pada ketergantungan akan kecanggihan teknologi.
Sehingga, setiap orang beriman harus menyadari bahwa peradaban smartphone, kemajuan teknologi media sosial, hanyalah sebagai alat dalam penginjilan. Hal itu menjadi sarana untuk mendukung dan mewujudkan panggilan iman umat Tuhan dalam realitas berpijaknya masing-masing. Dengan kesadaran demikian, maka gereja telah berada pada panggilannya menjadi garam dan terang bagi dunia. Semoga. (d)