Judul di atas adalah Thema Orientasi Pelayanan HKBP 2019, yang dikutip dari Injil Matius 25 : 40 yaitu sebuah kata-kata akhir dari Tuhan Yesus. Dan sesudah Ia mengucapkan kata-kata itu Ia berangkat. Tidak ada kata-kata lain lagi yang terdengar dari mulutNya. Yang ada, sebagai lanjutan dari kata-kataNya ini, ialah perbuatan-perbuatan yang kita sebut sengsara : Getsemani (Piala penderitaan yang Ia harus minum sampai habis ), pemeriksaaan di muka Kayafas, Herodes dan Pontius Pilatus, penyesahan,jalan salib, Golgata (penyaliban ).
Kata-kata yang akhir ini adalah rangkuman dari pengajaranNya, dari perjanjianNya kepada umat manusia, khususnya kepada murid-muridnya, sebelum Ia berpisah dengan mereka. Antara mereka dengan Dia telah ada suatu "hubungan khusus". Mereka telah Ia pilih menjadi murid-muridNya. Mereka telah Ia bebaskan dari penjara, dosa dan maut. Kepada mereka Ia telah menganugerahkan pengampunan, penyembuhan dan hidup. Ketelanjangan mereka di hadapan Allah Ia tutup dengan kasih dan keadilanNya. Segala sesuatu yang mereka butuhkan Ia sediakan : mereka tak kekurangan suatu apa ( Maz. 23).
Kepada murid-muridNya inilah Ia khusus tujukan kata-kataNya yang akhir. Mereka adalah orang-orang yang mencintaiNya, orang-orang yang mengakuiNya sebagai Tuhan dan Juruselamat, orang-orang yang merupakan jemaatNya di dunia ini. Tetapi justru orang-orang ini anggota-anggota jemaatNya yang ketika mendengarNya berkata-kata tentang kemiskinanNya, kelaparanNya, ketelanjanganNya, penderitaanNya, heran dan bertanya : "Tuhan, bilamanakah Tuhan lapar dan haus, dan kami mengetahuinya, tetapi kami tidak memberi Tuhan makan dan minum? Bukankah tidak pernah? Dan bilamanakah Tuhan menderita dan telanjang dan kami mengetahuinya, tetapi kami tidak menolong dan memberi pakaian kepada Tuhan? Bukankah tidak pernah? Sungguh, kami tidak pernah mendengar, bahwa Tuhan meringkuk dalam penjara dan hidup sebagai perantau yang tidak mempunyai tumpangan. Kalau kami mengetahuinya, tentu kami telah berusaha untuk menolong Tuhan. Sayang sekali Tuhan tidak memberitahukan kepada kami. Itu bukan kesalahan kami. Itu sebenarnya kesalahan Tuhan sendiri !".
Supaya kita kemudian jangan sampai menyesal dan mempersalahkan diri sendiri, Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-muridNya dalam rupa apakah Ia akan berada di antara mereka. Ia katakan, bahwa Ia akan berada di antara mereka sebagai orang yang hina, yang miskin, yang lemah, yang tertindas, yang menderita, orang seperti yang banyak kita lihat dalam masyarakat kita : di gubuk-gubuk, di bawah kolong jembatan, di pinggir-pinggir kali, di tempat-tempat pelacuran, di rumah-rumah sakit, di panti-panti asuhan, di rumah-rumah penjara, dan lain-lain. Ia tidak selalu atau barangkali samasekali tidak berada dalam gedung-gedung gereja mewah. Tetapi Ia selalu berada di muka dan di sekeliling gedung-gedung gereja yang mewah itu sehingga apabila murid-muridNya, anggota-anggota jemaat keluar dari situ, mereka segera dapat melihatNya : berdiri atau duduk mengemis, mengharapkan belaskasihan mereka, sama seperti Lazarus yang miskin di depan rumah orang yang kaya. Kita dikelilingi oleh Allah, dimana saja kita berada dan kemana saja kita pergi : Allah yang miskin, yang lapar, yang menderita, yang merintih, dan berteriak kepada kita.
Dalam Gereja-gereja kita, kita banyak berkata-kata tentang "Presensia" atau kehadiran Allah. Kita katakan bahwa Ia hadir dalam Ibadah Jemaat, Ia hadir dalam pemberitaan atau khotbah, Ia hadir dalam pelayanan Sakramen, khususnya dalam perayaan perjamuan, dan lain-lain. Semuanya itu benar. Tetapi kehadiran Allah dalam kebaktian, dalam pemberitaan Firman, dalam perayaan perjamuan dan sebagainya itu, seperti yang dikatan oleh ahli-ahli theologia, hanyalah tanda, meterai dan referensi. Kehadiran di situ adalah sumber kekuatan bagi anggota-anggota jemaat untuk sesudah itu, sesudah kebaktian, pemberitaan Firman, perayaan perjamuan dan lain-lain, keluar dan pergi ke sana, di mana Tuhan hadir atas jalan yang lain. Ibadah, liturgia, sakramen, dogma, ajaran, theologia semuanya ini hanya mempunyai hak hidup sebagai cara kepergian kepada Kristus yang hadir di tempat-tempat, di mana ada kemiskinan, kelaparan, penyakit, penderitaan. Kalau tidak demikian, maka semuanya itu hanyalah usaha untuk kepentingan dan kenikmatan diri sendiri. Karena itu tidak ada gunanya. Akan ditolak pada hari penghakiman.
"Tuhan, kami tidak pernah melihat Tuhan lapar, atau haus atau sakit atau telanjang atau berada dalam penjara……". Itulah alasan yang biasa kita lemparkan kepada Tuhan. Kita tidak pernah melihat Dia…….Sebab kita hanya mencari dan menikmatiNya dalam kebaktian, dalam pemberitaan Firman, dalam pelayanan perjamuan dan lain-lain. Untuk itu kita mendirikan gedung-gedung gereja yang mewah, kita menyusun tatacara-tatacara kebaktian dan formulir-formulir yang panjang dan indah, kita mengusahakan theologia-theologia yang mengagumkan, khususnya tentang kehadiran (presensia) Tuhan dalam kebaktian, dalam perjamuan, dan lain-lain. Dan kita begitu sibuk dengan semuanya itu, sehingga kita lupa, bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah kita sebagai orang miskin, yang lapar, yang telanjang, yang menderita, yang tidak mempunyai tempat berlindung, dan lain-lain.
Saya tahu, bahwa ada orang, anggota jemaat yang tidak seratus persen yakin akan hal ini dan yang menunjuk kepada perkataan Tuhan Yesus : "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan diberikan kepadamu !" ( Mat 6 : 33 ). Memang itu benar. tetapi soalnya ialah : Apakah yang dimaksud disini dengan Kerajaan Allah ? Atau lebih jelas : dengan pemerintahan Allah ? Toh bukan hanya hal-hal rohani saja ? Dimana Tuhan Allah memerintah, dimana Ia diakui sebagai Raja, disitu bukan hanya terdapat kasih, anugerah, pengampunan dosa, tetapi juga kebenaran, keadilan, perdamaian, kesejahteraan, keselamatan. Dan semuanya itu dalam arti yang sesungguhnya, arti harafiah, seperti yang kita baca dalam nats kita di atas : Mat. 25 : 31-46.
Biasanya kita menyangka, bahwa Tuhan hanya memperhatikan kebutuhan-kebutuhan rohani saja dari manusia : imannya, pertobatannya, kesalehannya, keselamatan jiwanya. Tetapi disini Yesus katakan, bahwa bukan saja kebutuhan rohani, juga kebutuhan-kebutuhan jasmaniahnya penting bagi Tuhan. Malahan yang menentukan pada hari penghakiman ialah pelayanan kepada orang-orang yang hidup dalam kemiskinan : yang lapar, yang haus, yang telanjang, yang sakit, yang menderita, dll.
Anehnya ialah, bahwa kalau ada pendeta yang sekali-sekali dalam khotbahnya meminta perhatian kita terhadap orang-orang yang miskin dan menderita, segera terdengar suara-suara yang tidak begitu setuju dengan khotbah-khotbah yang demikian, yang menurut mereka mencampur baurkan injil dengan humanisme, tugas gereja dengan tugas pemerintah. Mereka kuatir, bahwa oleh khotbah-khotbah semacam itu Gereja-gereja kita makin lama makin dipimpin ke jalan yang salah.
Yang menarik perhatian ialah, bahwa Tuhan Yesus rupanya tidak kuatir terhadap bahaya itu. Malahan sebaliknya : Ia justru kuatir, bahwa oleh kesalehan dan sifat kita yang terlalu rohani, kita tidak cukup "humanistis". Ia bukan saja menghendaki konsekwensi-konsekwensi praktis dari iman kita itu bagi sesama kita manusia. Ia mau supaya jangan sampai orang-orang lain termasuk orang-orang komunis lebih mengerti hal itu dari kita orang-orang Kristen.
Maksud Tuhan Yesus dengan perumpamaan ini bukanlah untuk menakut-nakuti kita dengan hukuman pada hari penghakiman. Kiasan yang Ia pakai di sini ialah kiasan yang lazim pada waktu itu. Karena itu kita tidak boleh salah menafsirkannya. Yaang Tuhan maksudkan dalam perumpamaan ini bukanlah perhitungan tentang upah dan hukuman : upah (di dalam sorga ) bagi mereka yang berbuat baik dan hukuman ( di dalam neraka ) bagi mereka yang tidak berbuat baik. Baik hamba-hamba yang berbuat baik, maupun hamba-hamba yang tidak berbuat baik, tidak mengetahuinya lebih dahulu bahwa mereka akan mendapat upah dan hukuman. Karena itu mereka tidak dapat membuat perhitungan tentang hal itu.
Sekali lagi : maksud Tuhan Yesus ialah bukan untuk menakut-nakuti kita dengan hukuman pada hari pengahakiman. Yang Ia minta bukanlah ketakutan kita terhadap api neraka, tetapi kasih, cinta kita kepadaNya. Perumpamaan ini , seperti yang telah kita katakana, Ia tujukan kepada murid-muridNya. Sebelum Ia berpisah dengan mereka Ia menjelaskan kepada mereka dalam rupa apakah Ia akan hadir di tengah-tengah mereka : bukan saja dalam ibadah-ibadah, dalam pemberitaan Firman, dalam perayaan-perayaan perjamuan, dan lain-lain, tetapi juga, atau terutama dalam gubuk-gubuk, dalam penjara-penjara, dalam rumah-rumah sakit, dalam panti-panti asuhan, dimana orang lapar, telanjang, menderita dan bergumul dengan rupa-rupa kuasa kegelapan. Disitulah dalam diri "Saudara-saudaraNya yang paling hina" mereka harus menunjukkan kasih mereka kepadaNya sebagai tanda terima kasih mereka atas segala sesuatu yang telah ia buat bagi mereka.
Tetapi apakah itu ada manfaatnya ? Bukankah gereja tidak dapat melayani semua orang miskin, yang lapar, yang menderita, yang meringkuk dalam penjara ? Apalagi melayani mereka sampai mereka tidak miskin lagi, tidak lapar lagi, tidak sakit lagi, dan lain-lain ? Bukankah itu tidak mungkin ?
Memang benar demikian. Tetapi bukan itu yang Tuhan minta dari kita. Dalam perumpamaan ini Tuhan tidak katakan : "Kamu melihat Aku sakit, tetapi kamu tidak menyembuhkan Aku". Atau : "Kamu melihat Aku meringkuk dalam penjara, tetapi kamu tidak membebaskan Aku". Yang Ia katakan ialah : "……kamu tidak melawat Aku……kamu tidak mengunjungi Aku". Kamu membiarkan Aku lapar, haus, telanjang, menderita. Kamu tidak solider dengan Aku. Dalam roh kamu mungkin mengingat Aku : Kamu merasa kasihan dengan Aku dan kamu berdoa untuk Aku. Tetapi lebih dari itu tidak. Jurang di antara hidup kamu dan hidupKu yang penuh penderitaan tetap kamu pertahankan.
Oleh sebab itu, kita tidak dapat mengajukan alasan kepada Tuhan. Yang Ia minta kepada kita bukanlah hal yang bukan-bukan. Yang Ia minta hanyalah konsekwensi praktis dari iman dan kasih kita kepadaNya. Karena itu marilah kita berdoa kepadaNya, supaya Ia memberikan kepada kita pengertian dan juga kekuatan untuk menunaikan tugas yang Ia harapkan dari kita. Selamat menunaikan Orientasi pelayanan HKBP tahun 2019 "Tahun Rahmat Tuhan" (Taon Parasirohaon). Amin !. (l)