Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026

Kristen Timur Tengah Doa dan Puasa untuk Perdamaian Gaza

- Minggu, 10 Agustus 2014 12:20 WIB
797 view
Kristen Timur Tengah Doa dan Puasa untuk Perdamaian Gaza
Yerusalem (SIB)- Di tengah konflik Israel dan Hamas, doa dan puasa terus diadakan  di semua komunitas Kristen setempat. Doa-doa dipanjatkan agar “Allah memberikan hadiah perdamaian” di kawasan itu.

Pada Jumat (1/8) malam, di paroki St James di Beit Hanina, ibadah untuk perdamaian dan pengakhiran perang diselenggarakan Uskup William Shomali, Patriark Vikaris Gereja Latin Yerusalem. Paginya—seperti biasanya tiap Jumat—Pastor Mario Cornioli, imam di Beit Jala, Tepi Barat, merayakan misa di bawah pohon-pohon zaitun di Lembah Cremisan dan kemudian bersama-sama dengan jemaat membacakan doa di depan tembok pemisah yang dibangun oleh Pemerintah Israel.

Sebelumnya, pada Rabu (30/7), Uskup Agung Maroun Laham, Patriark Vikaris wilayah Jordan Gereja Latin Yerusalem, merayakan misa untuk perdamaian di Gereja Our Lady of Nazareth di Sweifieh. Dalam homilinya Uskup Agung mengatakan, “Malam ini kita di sini, berdoa bagi Gaza, Palestina, Irak, Suriah, Mesir, dan Libya. Kita berdoa setiap hari, kami yakin bahwa Bapa kita yang di surga mendengar suara kami dan melihat apa yang terjadi.”

Sementara itu, di Mesir, Patriark Koptik Ortodoks, Tawadros II menyerukan kepadaorang-orang Kristen Koptik untuk bergabung dengan puasa 15 hari, 7-22 Agustus, memohon untuk mengakhiri penderitaan rakyat Gaza. Sementara Gereja Katolik di Mesir sudah mulai berpuasa, yang akan berlanjut sampai 15 Agustus untuk berdoa bagi orang-orang yang menderita dari Timur Tengah.

Yayasan di bawah kepausan, Bantuan kepada Gereja yang Membutuhkan (Aid to the Church in Need/ACN), seiring dengan Patriark Babel Gereja Khaldea, Louis Raphael I Sako, menyerukan “semua orang yang berkehendak baik” untuk bergabung dengan Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian di Irak Selasa, 6 Agustus.
Intoleransi di Pakistan

Di sisi lain, kekristenan di Pakistan pun sedang mengalami penindasan. “Terorisme dan intoleransi agama adalah tulah terburuk yang menimpa Pakistan,” kata Pastor Bernard Inayat, Rektor Seminari Santa Maria di Lahore, Senin lalu.

“Gereja di Pakistan merespons tantangan ini: melalui Yayasan Caritas di Islamabad-Rawalpindi, di Utara, yang dipengaruhi oleh aliran pengungsi dari Waziristan Utara akibat serangan anti-teroris tentara. Kami menginginkan perdamaian. Dan, sebenarnya Islam adalah agama yang mencintai perdamaian. Seluruh negeri mendukung upaya militer untuk memberantas terorisme,” Ps Inayat menambahkan.

Yayasan Caritas Internasional adalah perserikatan dari 164 organisasi bantuan bencana, pembangunan dan pelayanan sosial yang beroperasi di lebih dari 200 negara dan teritori di seluruh penjuru dunia—termasuk Pakistan. Secara umum dan khusus misi mereka adalah untuk berkarya membangun dunia yang lebih baik, terutama bagi kaum papa dan pihak yang tertindas.

Organisasi pertama Caritas dimulai di Kota Freiburg, Jerman, pada 1897. Organisasi Caritas lainnya segera menyusul di Swiss (1901) dan Amerika Serikat (Catholic Charities, 1910). Presiden Caritas Internasional saat ini adalah Kardinal Óscar Andrés Rodríguez Maradiaga dan Sekretaris Jenderalnya adalah Lesley-Anne Knight.

Pastor Bernard melanjutkan dengan mengatakan bahwa, pada saat yang sama, “ada mentalitas Taliban dalam masyarakat, yang intoleran dan berprasangka, yang harus diubah. Banyak madrasah dan masjid mengajarkan bahwa orang non-Muslim adalah kafir, meningkatkan intoleransi dan kekerasan.”
Menurut Bernard, dengan tujuan mengubah sikap ini, upaya dialog antar-agama penting. Namun, berkat pengabdian banyak pemimpin Katolik Pakistan dialog kehidupan dengan umat Islam sedang berlangsung.

“Untuk alasan ini, kami mengelola pertemuan dan acara untuk menunjukkan betapa kami memiliki kesamaan. Kata-kata dan gerak tubuh berdampak pada masyarakat. Kami akan terus membangun jembatan dan untuk menabur benih yang dapat tumbuh untuk mengubah mentalitas ini,” kata Ps Bernard.  â€Bahkan sekolah mengalami prasangka yang kuat terhadap kelompok minoritas dalam kurikulum sekolah dan buku pelajaran. Jadi, kami bekerja untuk mengubah isi buku-buku sekolah ini. Yang penting adalah selalu berdialog dengan para pemimpin sipil dan agama,” ia mengakhiri pembicaraan.
Orang Kristen Irak Paling Menderita

Warga Kristen  di Irak kemungkinan adalah yang paling menderita dibandingkan kelompok lain setelah Negara Islam Irak dan Suria (ISIS) berkuasa di wilayah utara negara itu.

Dalam sebuh berita di situs Huffington Post, disebutkan bahwa  populasi warga kristen telah menurun tajam di  seluruh Timur Tengah. Hanya sekitar lima persen  dari populasi di wilayah ini mengidentifikasi  diri sebagai Kristen, dan angka itu masih terus menurun.

Penduduk Kristen di Mosul, Irak, berada di bawah serangan dan ancaman yang terang-terangan oleh  ISIS. Kelompok ini  menyebarkan brosur  pada  bulan Juli yang memberikan tiga pilihan bagi warga Kristen: masuk menjadi Muslim, membayar denda, atau dibunuh. Banyak dari mereka yang melarikan diri, dan rumah mereka yang ditinggalkan sekarang ditandai dalam tulisan: “Milik Negara Islam.”

Canon Andrew White, juga dikenal sebagai “Vikaris Baghdad,” adalah Pendeta padai Gereja Anglikan, St George, di Baghdad, Irak. Dia memperkirakan bahwa umatnya  sekarang  berjumlah sekitar 6.000 orang. Dalam dekade terakhir lebih dari 1.200 warganya meninggal, menurut berita CNN.

“Salah satu hal yang benar-benar menyaakitkan  adalah ketika salah satu dari orang-orang Kristen datang dan berkata, ‘Untuk pertama kalinya dalam 1.600 tahun, kami tidak mempunyai gereja di Niniwe,’” katanya kepada White.

White menolak untuk meninggalkan Baghdad, meskipun hidupnya dalam bahaya. Dia bertahan sebagai pendeta di gereja St George, gereja  Anglikan terakhir di Irak yang masih ada. (sh.com/cp.com/wikipedia.org/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru