Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
Paradoks Paskah di Masa Covid-19

Gereja Harus Kreatif dan Dinamis

* Oleh Pdt Estomihi Hutagalung
Redaksi - Minggu, 12 April 2020 17:25 WIB
1.208 view
Gereja Harus Kreatif dan Dinamis
Bagaimanakah gereja masa kini memaknai penindasan, penganiayaan dan kematian yang dialami jemaat pada gereja mula-mula? Jawaban terhadap pertanyaan ini, bukan hendak membangkitkan kenangan masa lalu yang bernuansa romantisisme. Bukan sekedar kenangan historis terhadap beratnya pergumulan jemaat mula-mula atas larangan berkumpul dan beribadah oleh maklumat Kaisar Justinian dan kaisar lainnya yang haus akan darah para martir masa itu.

Pemaknaan dimaksud dibangun pada sebuah nilai kerygmatis untuk diteladani jemaat masa kini sebagai wujud pemaknaan Paskah atas kuasa Allah yang membangkitkan Yesus dari kuasa kematian di kayu salib. Sebab bagi jemaat mula-mula, Paskah menjadi dasar iman dan nilai yang kuat dalam mendorong umat beriman menghadapi beratnya penindasan. Keyakinan pada kuasa Paskah, membuat jemaat mula-mula berani beribadah dibawah ancaman pedang roh kebencian, roh penganiayaan.

Jika gereja mula-mula menghadapi roh kebencian, maka sekarang gereja sedang menghadapi roh penghancur tubuh manusia. Virus yang beterbangan di udara (roh; pneuma), dihirup dan masuk lalu merusak struktur vital tubuh yaitu paru-paru dan beralamat pada kematian. Sebuah virus yang memperhadapkan gereja masa kini pada makna sebagai tubuh Kristus yang dapat dilihat dan dirasakan dalam dunia ini.

Sampai sekarang, sesuai protokol kesehatan organisasi kesehatan dunia (WHO) dan maklumat pemerintah, satu-satunya cara memutus rantai roh pembunuh ini yaitu dengan menjaga jarak (sosial distance), tidak bersalaman, tidak berkerumun. Kini, Covid-19 sang roh pembunuh telah memaksa manusia "membangun tembok pemisah".

Sebuah cara memutus rantai roh pembunuh yang menjungkirbalikkan kandungan makna gereja sebagai persekutuan umat Tuhan yang sudah dibangun sejak pemanggilan bangsa Israel agar merayakan "Paskah Seder, hari raya roti tak beragi". Sebuah upaya yang justru membongkar tatanan nilai keyakinan pada ajaran Yesus, "untuk berkumpul, saling membasuh kaki, merayakan Paskah untuk memakan tubuh dan meminum darah Kristus".

Krusial Pemaknaan
Maka, pemahaman akan Tuhan yang kita sembah melalui perayaan-perayaan di gedung gereja, harus direkonstruksi berdasarkan realitas berpijaknya. Sebab, lebih dari seribu tahun lamanya umat Kristen beribadah di gedung gereja dengan segala kelengkapannya. Kondisi demikian tentu sangat kuat memengaruhi pemahaman jemaat mengenai ibadah yang harus dilakukan di dalam gedung gereja. Jika tidak, maka umat Tuhan akan merasa tidak khusuk.

Realitas pemahaman demikian tentu saja konsekuensi dari pemaknaan akan pentingnya gereja sebagai tubuh Kristus. Bangsa Israel, gereja masa kini memahami gedung gereja sebagai tanda kehadiran Tuhan. Tetapi sangat berbeda dengan ajaran Tuhan Yesus. Dan di sinilah titik krusial pergulatan gereja sesuatu yang bersifat paradoks sepanjang zaman. Pemaknaan terhadap titik krusial dimaksud dapat dilihat pada perbenturan pemahaman antara nilai Yahudi dengan Yesus sebagaimana terungkap dalam percakapan-Nya dengan perempuan Samaria di sumur Yakub.

"Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini bahwa Yerusalemlah tempat menyembah. Lalu Yesus berkata," Percayalah kepada-Ku, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem, tetapi sekarang penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (bnd.Yohanes 4: 20-24).

Maka motif ibadah yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan adalah membuka hati tulus, bersih, murni, haus akan jamahan Tuhan. Sehingga Roh Kudus menjamah, mendorong dan membantu kita untuk mengerti kehadiran Tuhan. Maka, tidak ada yang salah jika gereja melakukan ibadah di rumah-rumah tanpa mengesampingkan unsur subjektif jemaat menghayati "kualitas" perjumpaan dengan Tuhan.

Perjamuan Kudus
Namun kita perlu belajar dari kehidupan gereja mula-mula. Dalam kondisi dikejar roh kebencian, jemaat mula-mula tetap menikmati kehadiran Tuhan melalui sakramen Perjamuan Kudus. Para imam, dengan daya kreativitasnya, melakukan ibadah "konsenkrasi" anggur dan roti sebagai unsur Perjamuan Kudus lalu mengirimkan kepada jemaat yang tidak dapat hadir. Dengan tegas almarhum Pdt.Dr. AA Sitompul menulis "Bagi mereka yang tidak dapat hadir, maka temannya akan membawa roti dan anggur baginya" (Bimbingan Tata Kebaktian Gereja, 36).

Jemaat-jemaat yang "tidak hadir berdiri" di hadapan Imam dapat menerima roti dan anggur Perjamuan Kudus di rumahnya masing-masing. Sebab, di dalam konsili (rapat) bapa-bapa gereja mula-mula, ditetapkan bahwa roti dan anggur bukan bersifat magis tetapi unsur sebagai tanda dan penanda kehadiran Tuhan; dan kehadiran Kristus hanya dapat terjadi pada saat adanya tindakan memakan roti dan meminum anggur (in actu) melalui iman percaya pada Tuhan.

Sehingga jemaat disadarkan dan diteguhkan pengertiannya akan makna Perjamuan Kudus sebagai peringatan terhadap pengorbanan Yesus sebagai korban Anak Domba Allah yang dibangkitkan dari kuasa kematian. Maka, ibadah Perjamuan Kudus, dalam keadaan dan kondisi bagaimanapun, baik atau tidak baik waktunya dapat dilakukan di dalam roh, iman, keyakinan yang memberi sukacita guna meneguhkan, menghiburkan umat Tuhan di dalam realitas pergumulannya untuk bangkit dari kuasa kematian.
Paskah Yang Membangkitkan

Dengan demikian, gereja tidak boleh terjebak pada kemegahan gedung dan struktur lembaganya yang dapat membatasi pelayanan. Gereja harus beranjak pada kehidupan yang sungguh yaitu bangkitnya umat beriman dari kematian hidup yang dihadapi. Sehingga, seberat apapun penderitaan, gereja tidak boleh ragu terhadap ajarannya. Justru adanya pergulatan hidup umat beriman, banyaknya air mata duka di seluruh dunia akibat pandemi Covid-19, gereja harus kreatif dan dinamis menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah, mewujudkan Immanuel, Allah bersama kita. Keberimanan pada makna Paskah yang paradoks.

Itu juga berarti, gereja tidak boleh menempatkan keyakinan hanya pada doa, untuk menghibur orang yang mengalami duka kematian akibat Covid-19, tetapi menempatkan doa sebagai nilai kreatif merestorasi kehidupan. Gereja harus menyuarakan suara kenabian agar umat Tuhan menggunakan kemajuan teknologi untuk kesejahteraan umat manusia, bukan untuk perang biologi yang menyiksa kehidupan.

Gereja harus terus memberi keyakinan adanya kuasa kebangkitan Tuhan melalui para medis yang merawat pasien, peneliti kedokteran agar menemukan vaksin Covid-19. Gereja harus mengingatkan dan menyadarkan anggota jemaat yang tidak terpapar untuk terlibat aktif dalam memutus rantai pandemi Covid-19 dengan mematuhi protocol kesehatan mengenai sosial distance dan kebersihan.

Dengan keyakinan dan penghayatan pada kuasa Paskah demikian, menjadi kekuatan yang sangat besar dalam menghadapi tantangan Covid-19 saat ini. Sehingga perayaan Paskah tahun ini justru membantu umat Tuhan merasakan tremendum et facinacum dan meningkatkan kualitas pemahaman bergereja, beribadah guna meneguhkan iman jemaat. Selamat Paskah. (c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru