Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026

Orang yang Meminta akan Menerima

Pdt. Sunggul Pasaribu, MPAK
Redaksi - Minggu, 05 Mei 2024 20:53 WIB
309 view
Orang yang Meminta akan Menerima
Foto: Ist/harianSIB.com
Pdt.Sunggul Pasaribu,STh.MPAK

Seorang anak jalanan meminta-minta di pinggir jalan. Anak kita di rumah juga minta dibelikan mainan. Keduanya sama-sama meminta, tetapi ada bedanya. Anak jalanan itu datang hanya untuk meminta. Setelah kita memberinya uang, ia berterima kasih lalu pergi. Anak jalanan itu tidak ada hubungan pribadi dengan kita. Sedangkan anak kita di rumah datang kepada kita bukan melulu untuk meminta. Kadang ia juga datang untuk mengobrol atau duduk di pangkuan kita,merasakan kehadiran kita.

Sebagai orang Kristen tentu saja sangat senang dengan anjuran Yesus yang mengatakan, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu." Doa merupakan sarana permintaan. Namun perlu kita sadari bahwa anjuran "mintalah" ini berlaku hanya jika ada hubungan akrab antara si peminta dengan orang yang dimintai. Yesus memakai perumpamaan tentang seseorang yang meminta roti kepada sahabat karibnya (ayat 7,8), lalu menggambarkan permintaan seorang anak pada bapanya (ayat 1-13). Dalam kedua cerita ini, permintaan itu dipenuhi karena adanya hubungan akrab yang penuh kasih. Dari hubungan itu muncul saling pengertian. Seandainya permintaan itu tidak dipenuhi, si peminta tidak akan kecewa, sebab ia tahu sahabat atau bapanya pasti mengupayakan yang terbaik baginya.

Mari kita evaluasi kehidupan doa kita. Apakah kita berdoa hanya jika ingin meminta sesuatu? Apakah doa kita hanya berisi daftar permintaan, tetapi miskin pujian dan percakapan dari hati ke hati yang tulus dengan Tuhan? Ketika datang kepada Tuhan, kita datang sebagai anak, bukan sebagai pengemis, bukan sebagai anak buah. Maka, mintalah, tetapi jangan sebagai peminta-minta.

Nats renungan hari ini dalam Matius 7 : 1-11 ini memiliki tiga perikop yaitu: pertama, hal menghakimi, kedua, hal yang kudus dan berharga, ketiga, hal pengabulan doa. Tetapi seperti dalam tema khotbah ini "setiap orang yang meminta akan menerima" mengarahkan kita untuk berfokus dalam ayat 7-11. Siapa yang meminta akan menerima. Siapa yang mencari akan mendapatkan. Siapa yang mengetuk akan mendapati pintu terbuka baginya. Sulit untuk menyangkali keindahan dan kekuatan dari teks ini. Salah satu hal yang sederhana tetapi sering dilupakan oleh pembaca,tiga kata kerja muncul dalam ayat 7 (mintalah, carilah, ketuklah). Ini merupakan perintah yang sangat penting. Oleh karena itu perikop ini mengajak kita,adanya perintah untuk berdoa.

Doa salah satu aspek penting bagi kehidupan orang beriman, karena iman Kristen adalah Doa. Doa bukan hanya sekedar menutup mata dan melipat tangan, tetapi doa merupakan bentuk percakapan yang diungkapkan kepada Tuhan ketika kita merasakan rasa syukur, pujian, atas penyertaan Tuhan Allah dengan tuntunan Roh Kudus dalam setiap aspek perjalanan kehidupan orang Kristen.Ketika dalam keadaan yang penuh dengan pergumulan,maka doa menjadi napas kehidupan bagi setiap orang yang percaya.

Dalam doa dilarang bersikap menghakimi, seperti, membenarkan diri, tinggi hati.Sebab orang yang menghakimi sesamanya merasa bahwa ia lebih benar, lebih tahu, dan lebih baik. Penghakiman dilakukan tanpa terlebih dahulu mengoreksi diri. Tuhan Yesus mengingatkan betapa munafiknya cara pandang seperti itu.

Sama seperti seorang dengan balok di matanya hendak mengeluarkan selumbar di mata saudaranya (ayat 1-5). Penghakiman diumpamakan dengan pemberian yang kudus dan berharga, semestinya diberikan kepada yang layak menerimanya. Barang yang berharga jika jatuh ke pihak yang salah akan berbalik melawan.Bila doa sudah didasarkan ketidaktulusan dan kebencian maka keangkuhan, pembenaran diri serta kejahatan yang menguasai hati dan pikiran kita.

Beralih dari sikap menghakimi, Tuhan Yesus menasihati supaya kita meminta agar diberi, mencari agar mendapat, dan bahkan mengetuk agar pintu dibukakan.

Sikap saat meminta, mencari, dan mengetuk adalah berharap dan memohon dengan merendahkan hati, sama seperti seorang anak kepada orangtuanya (ayat 7-10). Sikap rendah hati sangat berlawanan dengan menghakimi. Bahkan saat keberadaan kita jauh melebihi, baik secara umur, pengalaman, sosial ekonomi, dan status lain; hidup rendah hati di hadapan sesama dalam setiap situasi menjadi keutamaan hidup yang senantiasa dipuji. Menghakimi sesama tanpa introspeksi diri diumpamakan seperti pintu yang lebar dan jalan yang terbentang kepada kebinasaan, namun kerendahan hati diibaratkan seperti pintu yang sesak dan jalan sempit kepada kehidupan (ayat 13-14).

Dalam hal berdoa, Yesus mengungkapkan kemurahan hati Allah Bapa kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencari dan meminta kepada-Nya. Allah pasti menjawab dengan memberi yang terbaik (ayat 7-11). Keseluruhan isi hukum Taurat dan kitab para nabi adalah perintah supaya kita melakukan hal yang baik kepada orang lain jika kita ingin menerima perlakuan yang baik juga (ayat 12).

Dengan demikian, kita perlu lebih bijaksana dalam menjalin relasi dengan Tuhan dan sesama. Kita tidak boleh merendahkan orang lain. Kita tidak boleh menghakimi orang lain secara tidak adil. Kita tidak boleh bermaksud jahat kepada orang lain. Kita juga tidak boleh berbuat semena-mena terhadap orang lain.

Intinya, kita dilarang berbuat jahat. Demikianlah sikap yang perlu dimiliki jika permohonan dalam doa kita supaya dikabulkan, rajinlah meminta dengan rendah dan ketulusan. Percayalah. Amin!




SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru