Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 15 Juli 2026

Sekum PGI : Momen Menggerakkan Dinamika Oikumene di Daerah-daerah

Redaksi - Minggu, 16 Juni 2024 09:58 WIB
1.563 view
Sekum PGI : Momen Menggerakkan Dinamika Oikumene di Daerah-daerah
(Foto : Dok/pgi.or.id)
DIULOSI : Sekum PGI Pdt Jacky Manuputty (tengah) diulosi usai tampil sebagai narasumber terkait Tahun Oikumene HKBP 2024 pada acara Konven HKBP Distrik VIII DKI Jakarta di Gereja HKBP Cengkareng, Senin (10/6).


"Pertama, kita harus mempertimbangkan bahwa pusat-pusat universalitas gereja telah bergeser dari Eropa dan Amerika Utara ke belahan bumi Selatan, karenanya gereja-gereja di belahan bumi Selatan, termasuk HKBP, harus sungguh-sungguh menawarkan gagasan-gagasan teologia yang mempengaruhi pemikiran oikoumene," jelasnya.


Demikian pula, tambah Pdt. Jacky, saat gereja-gereja oikumene arus utama seperti Lutheran, Reformed, Ortodoks, Calvinis, dan lainnya dihadapkan pada perkembangan komunitas-komunitas Pentakosta dan Karismatik yang memiliki pengaruh kuat, maka mereka harus secara inklusif mengembangkan dinamika oikoumene yang terbuka kepada karunia-karunia rohani yang dapat saling dibagikan secara luas.


Menurut Pdt. Jacky, pandangan HKBP mengenai Oikumene Inklusif mengandung banyak elemen utama yang menegaskan bahwa visi yang berpusat pada kehidupan merupakan jangkar dari Oikumene Inklusif. Hal ini sejalan dengan pandangan Konrad Raiser, mantan Sekum WCC yang telah mengatakan, "Gagasan kehidupan sentris ini mendorong gereja-gereja untuk mengeksplorasi kekayaan budaya dan tradisi agama dan kepercayaan lainnya, untuk menemukan landasan spiritualitas dan etika yang berpusat pada kehidupan pro-existence approach."


Dalam pengertian ini, kata Pdt. Jacky, gerakan Oikumene Inklusif harus menjauh dari kecenderungan untuk menganggap ekumenisme sebagai program atau jabatan maupun denominasi tertentu, dan bukan sebagai cara berada bagi, dan bersama yang lain.


"Gerakan Oikumene Inklusif harus mendorong gereja-gereja untuk menyadari, bahwa setiap tradisi spiritual memiliki kontribusi besar untuk membangun kebersamaan serta harapan bagi masa depan bumi," tandasnya.


Dengan demikian, Pdt. Jacky sampaikan, spiritualitas inklusif akan memotivasi orang untuk mempraktekan kebaikan-kebaikan dari iman mereka demi kesejahteraan dunia. Gerakan ini juga mendorong kita untuk menerima dan merayakan implikasi-implikasi kebaikan dari tradisi beriman orang lain.


Bagi Pdt. Jacky, perubahan bertahap dari sikap beragama yang ekslusif menjadi inklusif, akan secara radikal juga menghasilkan perubahan pada lingkungan hidup bersama. Dunia membutuhkan dari kita suatu level kebersamaan dan kerjasama yang maksimal. Kita menjadi satu di tengah berbagai perbedaan kita untuk menegakan keadilan dan perdamaian.


Pada aspek lainnya, "Gerakan Oikumene Inklusif harus sungguh-sungguh meneguhkan otentisitas sebagai sebuah kecenderungan baru yang kini berkembang secara global. Kita menyaksikan bertumbuhnya tuntutan penghormatan terhadap otentisitas dari setiap spirit di berbagai aspek kehidupan kita," ujarnya.


Tanggung jawab kita secara spiritual, lanjut dia, adalah mengeksplorasi secara mendalam otentisitas kita, dan mengenal emanasi Allah dalam diri kita yang mengkonstruksikan kerangka otentisitas kita sebagai ciptaan, serta bertindak sesuai dengannya.


Aspek lain yang ditekankannya kemudian terkait Gerakan Oikumene Inklusif yang harus dimengerti sebagai Solidaritas Global. Prinsip keesaan dengan seluruh ciptaan merupakan ajaran inti dari semua agama dan tradisi spiritual.


"Dalam kaitan dengan esensi ciptaan itu kita semua adalah satu. Prinsip ini berimplikasi pada pandangan bahwa kita semua saling terkait satu dengan lainnya. Transformasi diri kita sangat terkait dengan transformasi dan pemulihan struktur bumi, baik yang meliputi dimensi ekonomi, politik, social, ataupun ekologi," paparnya.


Keesaan menempatkan kita pada level terdalam, dimana baik tubuh maupun roh kita senantiasa berada dalam perjuangan untuk menentang penindasan politik ataupun agama, gender, ras, social, dan ekonomi.


"Tak ada seorangpun yang boleh menderita di dalam keterisolasiannya. Kita semua menderita bersama. Kepercayaan terhadap ide keesaan berimplikasi pada panggilan dan keharusan solidaritas dengan sesama dan alam. Keesaan dan solidaritas tak bisa dilepas-pisahkan. Keduanya merupakan ekspresi yang sama dari cinta. Cinta Sang Kudus yang dipatri didalam diri semua kita," ucapnya.


Dalam kesempatan ini, Pdt Jacky juga mengingatkan bahwa Gerakan Oikumene Inklusif harus berakar pada rancangan Allah bagi kesatuan dan rekonsiliasi semua ciptaan, sebuah rancangan yang menjadi nyata melalui inkarnasi cinta Allah di dalam Yesus Kristus.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru