Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 12 April 2026
Dies Natalis ke 48 STT HKBP:

Berakal Budi dan Berpengharapan Sepenuhnya Kepada Allah (1 Petrus 1:13).

Oleh Pdt Dr Pahala Jannen Simanjuntak dan Parlaungan Christoffel Simanjuntak, STh
Redaksi - Minggu, 12 April 2026 08:39 WIB
160 view
Berakal Budi dan Berpengharapan Sepenuhnya Kepada Allah (1 Petrus 1:13).
harianSIB.com/Dok
Pdt Dr Pahala Jannen Simanjuntak dan Parlaungan Christoffel Simanjuntak STh

Jadi akal budi yang dimaksud di dalam 1 Petrus 1:13 adalah kesetiaan menggunakan akal budi dalam merespon setiap keadaan yang terjadi ketika itu. Tidak menjadi pemberontak kepada pemerintah dan melakukan perlawanan yang kasar, kejam dan brutal. Tidak serupa dengan dunia, sebagaimana juga disampaikan rasul Paulus kepada jemaat Roma (bnd. Rom 12:2). Serta tidak meninggalkan imannya kepada Kristus, tetapi tetap tekun di dalam doa serta memiliki pengharapan yang teguh kepada Tuhan Allah. Dalam penderitaan yang mereka alami, Allah tidak akan membiarkan mereka selamanya dianiaya atau hidup menderita.

Sejarah Perjanjian Lama membuktikan bahwa pengharapan sangatlah penting dalam setiap zaman dan peristiwa. Musa mengajarkan kepada Umat Israel agar umat Israel memiliki pengharapan (baca: kepercayaan) kepada Tuhan. Allahlah yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir dari perbudakan Mesir (bnd. Kel. 3:1-14). Yosua sebagai pemimpin umat Israel yang menggantikan Musa juga mengajarkan kepada bangsa Israel untuk berpengharapan kepada Allah (bnd. Yos. 24:15). Juga dalam kitab nabi-nabi hidup berpengharapan kepada Tuhan selalu diajarkan kepada umat Israel baik sebelum pembuangan dan sesudah pembuangan. Allah itu setia, pengasih dan tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya di dalam situasi apapun. Termasuk dalam rangka pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem yang pernah dihancurkan oleh Nebukadnezar raja Babel (bnd 2 Taw. 36:11-21). Setelah menaklukkan bangsa Babel, Kores raja Persia segera memberikan ijin kepada umat Israel untuk kembali dari daerah Babel dan membangun kembali Bait Suci di kota Yerusalem (bnd. Ezra 1:1-11).

Hal ini bahkan dibahas lebih lanjut di dalam kitab Mazmur, perihal ajakan berpengharapan kepada Allah sangat banyak ditemukan (bnd. Maz. 62:2; 75:5). Bila Allah sudah berjanji, maka Ia akan selalu setia kepada umat pilihan-Nya, oleh sebab itu umat Allah dipanggil untuk hidup berpengharapan kepada Allah saja (monoteisme). Menjauhkan penyembahan berhala, patung dan keyakinan terhadap ilah-ilah lain (politeisme) dan sejenisnya. Janji Allah yang disampaikan kepada Abraham dan keturunannya juga akan disampaikan kepada umat Allah di sepanjang zaman.

Perjalanan umat Israel dari Tanah Mesir ke tanah Kanaan membutuhkan waktu yang sangat panjang sehingga Musa diharapkan untuk memberikan pengharapan akan perlindungan Tuhan kepada umat Isarel. Sedangkan hidup berpengharapan kepada Tuhan adalah menjadi ukuran seseorang untuk menunjukkan imannya di hadapan Tuhan. Hidup berpengharapan kerap kali dipergunakan oleh rasul Paulus (Rom 5:3-5; 12:12). Kepada jemaat perdana Petrus mengajak mereka untuk hidup di dalam pengharapan. Tidak serupa dengan orang-orang di sekitarnya yang tidak menggunakan akal budi dan tidak memiliki pengharapan. Dari beberapa contoh di atas baik PL maupun PB, akal budi dan pengharapan merupakan kekuatan dalam diri manusia sebagai mahluk ciptaan Allah.

Berakal budi dan Berpengharapan kepada Allah

Demikianlah orang Kristen saat ini hendaknya memiliki akal budi dan berpengharapan kepada Allah saja, artiya; menjaga kemurniaan ajaran tentang Allah. Sebagaimana kemurnian Kitab Ulangan, dimana Musa mengajarkan kepada umat Allah untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan (bnd. Ul. 6:4-9). Dalam kitab Injil Yesus mengatakan agar tetap mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati (Mat. 22:37-38). Bahkan Yesus juga mengajarkan untuk mengasihi musuh (Mat. 22:39-40), sesuatu pemahaman yang tidak umum pada zaman itu bahkan hingga sekarang. Maka kebencian orang di sekitar kita tidak harus direspon dengan kebencian atau amarah apalagi dendam. Tetapi senjata yang paling ampuh ialah dengan menggunakan kasih Kristus sebagai pengikat persaudaraan. Selanjutnya hidup berpengharapan juga adalah menaruh hati, pikiran tertuju kepada Allah dan mengandalkan kasih karunia Tuhan. Mengandalkan Allah artinya ialah hidup tidak bersandar kepada seseorang atau kepada dunia ini serta tidak mengalami iman yang goyah dan rapuh. Seperti jemaat mula-mula, meskipun iman sempat goyah, jangan sampai padam. Tetaplah memiliki semangat yang berkobar-kobar dan tidak terpengaruh oleh keadaan di sekeliling.

Saat ini negara-negara mengalami krisis global termasuk dampaknya di Indonesia. Harga bahan-bahan mengalami kenaikan serta kesulitan mendapatkan kebutuhan-kebutuhan pokok. Hari bertambah hari kondisi perekonomian membuat kegelisahan di antara masyarakat. Hal ini terjadi karena konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang hingga kini belum berakhir, bahkan semakin memanas. Kita tidak perlu memihak kepada salah satu negara tetapi selalu berpihak kepada perdamaian dunia. Menghadapi semua ini dibutuhkan akal budi dan pengharapan sepenuhnya kepada Tuhan. Hidup hemat, tidak konsumeris, mengurangi pembelian yang tidak terlalu penting, hidup dengan rasa syukur sembari mendoakan konflik ini segera menemukan titik terang.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Tim Surveyor Akreditasi Kemenkes Tinjau Puskesmas Ambarita di Simanindo
Tim Surveyor Akreditasi Kemenkes RI Kunjungi 2 Puskesmas di Tanjungbalai
Rayakan Dies Natalis ke-59, UDA Berbenah Sambut Era Industri 4.0
STT HKBP Pematangsiantar Diakreditasi Asesor ATESEA Bangkok
Tim Surveyor Akreditasi Kemenkes Apresiasi Pemkab Palas
Usai Peringati HUT ke-73 RI, RS Adam Malik akan Sambut u2018Pestau2019 Akreditasi JCI
komentar
beritaTerbaru