Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026

Tuhan Berbicara di Erupsi Gunung Sinabung ?

Oleh : Pdt Sunggul Pasaribu MPAK
- Minggu, 23 Februari 2014 18:45 WIB
778 view
Tuhan Berbicara di Erupsi Gunung Sinabung ?
SIB/Ist
Pdt Sunggul Pasaribu MPAK
Gunung Sinai adalah sebuah gunung yang terletak di Semenanjung Sinai di Wilayah Palestina. Beberapa ahli arkeologi menganggap gunung-gunung berikut sebagai Gunung Sinai,: Jebel Musa (Gunung Musa), Ras ets-tsaftsafeh (Ras Sufsafeh), Jebel Serbal, sebuah gunung dekat al-Hrob. Para  ahli cenderung berpendapat dua kemungkinan: Jebel Musa dan Ras ets-tsaftsafeh. Kedua gunung itu terletak pada punggung batu granit, yang memanjang ± 4 km dari barat laut ke tenggara. Ras ets-tsaftsafeh (1.993 m) terletak di bagian utara, dan Jebel Musa (2.244 m) di bagian selatan.

Pada hari ketiga waktu pagi hari, turunlah Tuhan dari sorga ke atas gunung itu di dalam awam yang tebal, disertai bunyi petir dan halilintar dan suara nafiri yang keras sekali, sehingga gunung itu seakan-akan berasap dan terbakar. Dengan inilah Allah menyatakan kemuliaan-Nya; bunyi dentuman petir dan halilintar adalah gambaran kemarahan Allah atas orang-orang berdosa. Musa membawa orang banyak itu ke dekat kaki gunung; dengan penuh ketakutan mereka mengambil tempat di luar pagar yang dibuat di sekeliling gunung itu. Tuhan memanggil Musa datang ke puncak gunung, dan sekali lagi diperingatkan kepada Musa, supaya rakyat sekali-kali jangan merusak pagar, jangan ada yang mendaki gunung itu, oleh karena ingin menyaksikan kemuliaan Tuhan dari dekat.

Ada apa Tuhan memanggil Musa ke puncak gunung Sinai? Tuhan menyatakan diri kepada orang Israel, agar supaya jangan ada manusia atau binatang mendaki gunung itu. Siapa yang melewati pagar itu akan mati terbunuh, dilontari dengan batu atau panah. Hanya jika nafiri berbunyi panjang mereka boleh mendaki gunung itu. Bukan orang banyak, tetapi hanya para tua-tua yang diperbolehkan mendaki gunung, karena Tuhan akan memperlihatkan kemuliaanNya di dalam kesepuluh Hukum Taurat (Keluaran 24:9-11).

Setelah Musa bertemu Tuhan di puncak gunung Sinai kemudian ia pun turun dan mengumumkan tentang kesepuluh firman dan perintah Hukum Tuhan (Keluaran 20:2-17). Hukum inilah yang menjadi undang-undang dasar pernyataan karunia Allah, waktu Tuhan berfirman : "Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan". Allah mau menjadi Allah orang Israel dan itu dinyatakanNya dengan membebaskan orang Israel dari Mesir. Undang-undang ini tidak hanya berlaku untuk orang Israel, tetapi juga untuk semua manusia.

Ada dua pokok inti kesepuluh Hukum Tuhan tersebut, yaitu ; bahwa kita harus mengasihi Allah di atas segalagalanya, dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Undang-undang ini sama dengan undang-undang yang diberikan Tuhan kepada manusia di taman Firdaus dan yang hampir lenyap, oleh karena manusia telah menjauhkan diri dari Allah, sehingga Allah terpaksa memberikannya lagi di atas gunung Sinai kepada umatNya supaya hidup kita senantiasa dipeliharaNya.

Para pejiarah agamawi di abad dua puluh ini bersaksi bahwa gunung Sinai tersebut, kini telah menjadi saksi sejarah keselamatan bagi umat manusia seantero dunia ini. Di dalam peristiwa erupsi gunung Sinai di zaman nomaden umatNya di bawah kepemimpinan Musa, justru Allah berbicara bahwa Tuhan tetap mengasihi dan memberkati mereka. Peristiwa tersebut bukan bencana untuk membunuh umatNya, kemuliaan Tuhan terlihat jika manusia hidup dalam perintah dan hukum Tuhan.

Di bulan Februari tahun ini, ada dua erupsi gunung yang terjadi di Negara kita, di Sinabung dan meletusnya gunung Kelud-Jawa Timur. Peristiwa alam seperti ini tampak mengetuk akal sehat umat manusia, ; kita turut prihatin, merasa pilu, dan berduka atas korban yang dialami oleh warga masyarakat di daerah pegunungan tersebut. Seperti Allah yang berbicara di jaman Perjanjian Lama melalui hukumNya agar umat manusia memiliki nilai kasih tehadap Allah dan terhadap sesama manusia.

Marilah kita berdoa untuk pemulihan bencana alam ini agar Tuhan berbicara supaya Ia tidak bermaksud untuk memusnahkan penghuni bumi ini. Seperti peristiwa di Sinai kala itu, kini pun Allah masih mengasihi kita. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk menyatakan kasih Tuhan terhadap alam dan seluruh umat manusia, khususnya mereka yang terkena bencana erupsi kedua gunung di Sinabung - Sumatera Utara dan di Kelud, Kediri - Jawa Timur.

Hendaknya kita membuktikan kasih Tuhan terhadap mereka yang terkena dampak bencana alam dengan cara,; membantu, menyediakan tempat kehidupan, melakukan pemulihan jiwa mereka, membantu makanan dan tempat tinggal, dan mengajak mereka untuk tetap tabah dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Amin.

 (r)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru