Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 15 September 2026
Pada Konferensi Perempuan 2021

Ephorus HKBP Soroti Tidak Bertumbuhnya Iman Jemaat, Pimpinan Cenderung Obyek Cercaan

Redaksi - Rabu, 24 Maret 2021 15:19 WIB
5.594 view
Ephorus HKBP Soroti Tidak Bertumbuhnya Iman Jemaat, Pimpinan Cenderung Obyek Cercaan
(Foto SIB/Posma Simorangkir)
PESERTA: Sejumlah peserta Konferensi Perempuan HKBP 2021 mengikuti seminar dengan penceramah Ephorus HKBP Pdt Dr Robinson Butarbutar, Rabu (24/3/2021), di gedung Raja Pontas Lumbantobing, Komplek Kantor Pusat HKBP Pearaja, Tarutung. 
Tarutung (SIB)
Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pdt Dr Robinson Butarbutar menyoroti kondisi HKBP saat ini yang pertumbuhan iman jemaat tidak terjadi. Persekutuan jemaat rentan konflik dan tindakan kasih jemaat tidak bertumbuh.

Hal itu diungkapkan pada bagian ceramahnya saat menjadi narasumber di Konferensi Perempuan HKBP tahun 2021 dengan topik "Aku telah memilih dan menetapkan kamu supaya pergi dan menghasilkan buah” (Yoh. 15:16), Rabu (24/3/2021), di Gedung Raja Pontas, Komplek Kantor Pusat HKBP, Pearaja Tarutung.

Robinson Butarbutar bukan hanya mengungkap pertumbuhan iman jemaat tidak terjadi, tapi juga "dicurinya" warga HKBP oleh gerakan gereja-gereja baru yang tumbuh menjamur. "Sementara hal ini diminati banyak warga HKBP yang kebutuhan dan harapannya tidak terlayani oleh pelayanan," sebutnya.

Pada gilirannya, menurut Ephorus para pemimpin HKBP di berbagai aras, termasuk di kalangan perempuan tidak lagi merupakan pemimpin yang visioner, misioner, memersatu dan diakonal, menyemangati dan membaharui. Sebaliknya, menjadi beban, objek cercaan, dan gunjingan.

Selain itu pekerjaan di akonia HKBP mengerdil, melokal, dan statis. Lembaga pendidikan HKBP seperti PAUD, SD, SMP, SMA/SMK dan universitas tidak menjadi pilihan peserta didik, apalagi membintang. Bahkan bagaikan hidup segan mati tak mau. Demikian halnya Rumah Sakit HKBP.

Ephorus berpendapat HKBP sudah terbiasa dengan keluhan-keluhan terhadap lembaga-lembaga pendidikan dan kesehatannya.

Menurutnya, jika gereja-gereja di belahan bumi lainnya, di mana kaum terpuruk seperti orang yang hidup dengan HIV/AIDS, korban penyalahgunaan narkoba, kemiskinan akut, dilayani dengan baik, secara sendiri-sendiri maupun dalam kerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah.

Namun, HKBP semakin meredup di bidang-bidang itu, semangat HKBP sebagai garam dan terang dunia mengendor, atau jika masih pun berada pada situasi hidup tidak penuh kegairahan.

Oleh karena itu, diharapkan tindakan pemberdayaan para pemangku tugas penuh dan paruh waktu HKBP maupun warga kategorial, khususnya perempuan, harus segera dilakukan di segala aras.

"Diharapkan setelah pemberdayaan termasuk dalam kepemimpinan berdasarkan visi dan strategi, maka muncul dan menguat spiritualitas yang transformatif, nyata, dan bertumbuh semangat baru, inovasi dan kreativitas dalam pelaksanaan tugas-tugas HKBP sebagai gereja. Ini bukan hanya muncul di dalam ibadah-ibadah rutinnya, tetapi juga di dalam aksi-aksi nyatanya," ucapnya. (*)
Editor
:
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru