Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 30 Juni 2026
Rupiah Masih Melemah

Panglima TNI Pastikan Kondisi Seluruh Daerah Aman

*JK Tegaskan Pemerintah Tak Sepelekan Pelemahan Rupiah
- Jumat, 28 Agustus 2015 13:46 WIB
317 view
 Panglima TNI Pastikan Kondisi Seluruh Daerah Aman
Jakarta (SIB)- Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan kondisi seluruh daerah di Indonesia dalam keadaan aman dan kondusif. Keamanan tidak terganggu dengan kondisi rupiah yang masih melemah terhadap dolar Amerika.

"Aman di daerah, aman. Nggak usah khawatir," kata Gatot usai seminar kebangsaan Fraksi PKS di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8).

Dia mengatakan selama sektor pangan di daerah masih terjaga, maka kondisi keamanan masih terkendali. Artinya bila sektor pangan terkendali membuat masyarakat masih bisa mendapatkan kebutuhan pokok.

"Sekarang begini, petani dan rakyat tahu (rupiah melemah) yang penting masih bisa makan. Itu terjangkau, tentunya aman," ujar mantan KSAD itu.

Lantas, bagaimana antisipasi TNI terkait kemungkinan munculnya konflik di daerah? "Nggak usah khawatir, TNI ditugaskan 24 jam siap, jadi apa pun kita siap," sebutnya.

Pengaruhi Pembelian Alutsista

Ekonomi nasional kembali bergejolak menyusul anjloknya rupiah terhadap dolar. Ternyata situasi tersebut berpengaruh terhadap dunia pertahanan Indonesia.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tembus hingga Rp 14.000 beberapa hari terakhir. Menurut Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, merosotnya nilai rupiah juga berpengaruh pada pembelian maupun maintenance alat utama sistem persenjataan TNI. Pasalnya pembelanjaan alutsista dari luar negeri menggunakan dolar.

"Pasti ada pengaruhnya," ungkap Gatot.
Untuk itu, kata Gatot, pihaknya akan melakukan evaluasi kembali mengenai pengadaan maupun perawatan alutsista milik TNI. Apalagi saat ini TNI memiliki banyak renstra terkait pembelanjaan alutsista. TNI juga memiliki renstra khusus mengenai perawatan dan pemeliharaan alutsista untuk ketiga matra.

"Ya tentu akan kita evaluasi. Karena anggaran kita kan beda. Beda juga situasinya. Pasti akan kita evaluasi lagi. Kan belum jalan," kata Gatot.

Terkait dengan situasi meroketnya nilai dolar, Gatot tak mau berkomentar. "Jangan tanya saya, tanya pakar ekonomi," tukasnya sambil berlalu.

Pemerintah Tak Sepelekan

Sebelumnya Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) terkesan tak khawatir dengan terus menurunnya nilai tukar Rupiah atas Dolar Amerika.  Bahkan, menyebut pergerakan rupiah yang menembus Rp 14.100 per dolar Amerika, masih normal.

Tetapi, ketika dikonfirmasi perihal pernyataan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang meminta pemerintah tak meremehkan situasi ekonomi terkini, JK langsung menyatakan bahwa pelemahan ekonomi dunia tidak boleh diremehkan.

"Kita paham benar pak sby, kita tidak underestimate (meremehkan). Memang kita melemah ke dolar tetapi tidak ke mata uang yang lain," kata JK di kantor Wapres, Jakarta, Selasa (25/8).

Hanya saja, JK tetap meyakini bahwa daya beli Indonesia masih sama seperti Tiongkok atau lebih baik dari Malaysia. Mengingat, dua negara tersebut juga terdampak pelemahan ekonomi global.

"Dolar bukan satu-satunya pegangan dan ukuran. Yen Jepang juga ukuran. Yen dengan kita tak berubah tetap 1 Yen sama dengan Rp 120. Sejak dulu begitu," paparnya.

Lebih lanjut, JK mengatakan jangan menyamakan nominal uang sepuluh tahun lalu dengan tahun ini. Sebab, pasti berbeda.

Masalah pelemahan ekonomi ternyata juga menjadi perhatian SBY. Melalui akun twitternya, Ketua Umum DPP Partai Demokrat ini menyatakan keyakinannya bahwa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla bisa mengatasi gejolak ekonomi yang menimpa Indonesia.

"Saya masih percaya pemerintah bisa atasi gejolak ekonomi saat ini. Maaf, sebaiknya lebih fokus dan serius, serta cegah hal-hal yang tak perlu," tulis SBY seperti dikutip dari akun resmi Twitternya, Selasa (25/8).

Kemudian, SBY juga mengatakan perlu tim kerja yang solid dan efektif untuk atasi pelemahan ekonomi.

Ia mencontohkan, Indonesia berhasil selamat dari krisis global tahun 2008 karena pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, BUMN, ekonom, dan pimpinan media bersatu.

Oleh karena itu, menurutnya, perlu dilakukan hal yang sama untuk saat ini.

"Menurut saya, manajemen krisis harus diberlakukan. Jangan underestimate dan jangan terlambat. Apalagi pasar dan pelaku ekonomi mulai cemas," tulisnya. (detikcom/SH/d/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru