Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 07 Mei 2026
Persentase Pemilih Agama Islam di Masing-masing Parpol

Survei: Partai Islam Tak Diminati Pemilih Pemula

- Jumat, 11 April 2014 22:09 WIB
492 view
 Survei: Partai Islam Tak Diminati Pemilih Pemula
Jakarta (SIB)- Berdasarkan keterangan Bloomberg TV Indonesia, di Pemilu ke-4 era reformasi ini ada 6.607 jumlah calon anggota legislatif yang memperebutkan 560 kursi DPR dan 12 jumlah parpol nasional peserta pemilu 2014, serta 3 parpol lokal (Aceh), dan sejumlah calon legislatif dipilih oleh 185,8 juta pemilih.

Persentase pemilih agama Islam yang memilih masing-masing partai politik masih kurang, karena ketertarikan pemilih pemula terhadap partai politik berbasis Islam sangat rendah. Pemilih pemula menganggap partai Islam lebih konservatif. Hasil survei Lembaga Klimatologi Politik menunjukkan 77 persen responden pemilih pemula cenderung memilih partai nasionalis.

"Partai Islam dinilai kurang aktif mendorong nilai-nilai perubahan, dan dikesankan kaum sarungan atau kurang gaul," kata Usman Rachman, Direktur Utama Lembaga Klimatologi Politik saat memaparkan hasil surveinya di Pulau Dua Restaurant Jakarta.

Adapun yang memilih partai politik Islam hanya 19,2 persen. Menurut Usman, hal itu karena partai nasionalis selalu tampil paling depan dalam menawarkan program perubahan. "Pemilih pemula juga secara kultur biasanya tidak suka dengan hal-hal yang berbau konservatisme," ucapnya.

Survei ini dilakukan pada 16-26 Maret 2014 di 34 provinsi se-Indonesia. Jumlah respondennya 1.240 orang, menggunakan  teknik multi-stage random sampling dengan ambang kesalahan survei dengan wawancara tatap muka dan  kuesioner itu diklaim kurang lebih 2,8 persen.

Usia pemilih pemula berkisar 16-21 tahun. Mereka yang baru pertama memiliki hak pilih umumnya berstatus pelajar Sekolah Menengah Atas dan mahasiswa S1. Sebagian pula belum menyentuh pendidikan formal di pedesaan.

Menurut Usman, dari persentase hasil survei Lembaga Klimatologi, parpol Islam jauh di bawah partai-partai nasionalis. Misalnya Partai Amanat Nasional yang hanya didukung 5,4 persen responden, Partai Kebangkitan Bangsa (4,8 persen), Partai Keadilan Sejahtera (4,2 persen), Partai Persatuan Pembangunan (3,6 persen), serta Partai Bulan Bintang (1,2 persen).

Adapun partai nasionalis berada di urutan teratas adalah Golkar (22, 9 persen), PDI Perjuangan (20,4 persen), Partai Gerakan Indonesia Raya (15,6 persen), Hati Nurani Rakyat (8,4 persen) dan Partai Demokrat (6,1 persen).

Usman mengatakan, isu korupsi membuat pemilih pemula kurang tertarik dengan partai islam. Contohnya, Partai Keadilan Sejahtera yang cukup berhasil merangkul pemilih pemula pada pemilu 2009, "Tetapi karena petinggi partainya terkena kasus korupsi, PKS kini partai papan bawah," ujarnya.

Berdasarkan penelitian LKP, alasan partai-partai berbasis Islam kurang diminati oleh pemilih disebabkan partai tersebut kurang aktif melakukan sosialisasi untuk mendekati kelompok pemuda dan tidak pernah terdepan dalam menawarkan ide-ide perubahan.

"Partai-partai berbasis masa Islam seperti PKB, PKS, PPP, PBB, dan PAN elektabilitasnya rendah, karena kurang berhasil merangkul pemilih pemula," ujar Usman.

Usman melanjutkan, partai nasionalis masih diminati oleh pemilih pemula disebabkan oleh 4 faktor. Pertama, sejumlah partai nasionalis selalu terdepan dalam menawarkan isu-isu perubahan.  Kedua, sejumlah partai Islam dipilih oleh tokoh nasional yang kuat, populer dan kharismatik. Padahal kalangan pemuda cenderung membutuhkan sosok idola yang menjadi motivasi dan inspirasi. Ketiga, sejumlah partai nasionalis didukung kekuatan finansial yang besar, sehingga mampu merancang berbagai bentuk aktifitas untuk merangkul jutaan pemilih pemula.

Keempat, modal sosial partai-partai nasionalis pada umumnya lebih luas daripada partai-partai Islam. "Mereka tidak hanya mengandalkan isu agama untuk mendekati pemilih sebagaimana yang lazim dilakukan partai-partai berbasis Islam," jelas Usman. (Bloomberg TV/Tempo/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru