Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 13 September 2026

Ada Kabar OPM Minta Barter 2 Sandera di Papua Nugini dengan Temannya

* TNI akan Serbu, Jika OPM Tidak Bebaskan
- Selasa, 15 September 2015 14:13 WIB
314 view
Ada Kabar OPM Minta Barter 2 Sandera di Papua Nugini dengan Temannya
Jakarta (SIB)- Menurut informasi yang beredar, oknum Gerakan Separatis Papua Bersenjata yang menyandera 2 penebang kayu di Papua Nugini meminta barter. Kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) ini disebut menuntut 2 temannya yang ditahan polisi di Papua dibebaskan.

"Memang ada beberapa tuntutan. Mungkin salah satunya itu," ujar Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Teguh Puji Rahardjo, Senin (14/9).

Teguh pun memperkirakan, penyanderaan ini juga terjadi sebagai buntut dari permintaan kelompok OPM saat ada acara pacific interland forum (FIF) beberapa waktu lalu. OPM meminta agar isu-isu kemerdekaan Papua dibawa dalam forum tersebut.

"Bisa jadi karena kegagalan saat FIF kemarin. Kan negara-negara pasific melaksanakan acara dalam rangka pembangunan bidang ekonomi. Dari kelompok sebelah ini (OPM), meminta dimasukkan soal HAM, kemerdekaan Papua Barat, tapi itu tidak bisa karena forum kaitannya dengan perekonomian," jelas Teguh.
Saat ini TNI sendiri melalui Konsulat RI dan atase pertahanan di Papua Nugini masih terus berkoordinasi dengan PNG Army dan pemerintah setempat. Menurut Teguh, negosiasi masih dilakukan oleh tentara Papua Nugini.

"Itu sudah masuk wilayah PNG jadi TNI tidak masuk. Tapi kami tetap standby di perbatasan. Kami terus berkoordinasi dengan pasukan angkatan bersenjata PNG melalui Konsulat dan athan (atase pertahanan). Athan juga terus mendesak PNG Army agar sandera bisa segera dibebaskan," Teguh menuturkan.
Peristiwa ini berawal dengan terjadinya penembakan terhadap 4 pekerja penebang kayu di kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua, Rabu (9/9). Satu orang tewas akibat kejadian ini, satu orang berhasil kabur dan 2 lainnya dibawa OPM hingga melewati perbatasan. Yakni tepatnya di  wilayah Skouwtiau, Papua Nugini.        
  
TNI: OPM akan Diserbu
Penyanderaan yang dilakukan oleh Gerakan Separatis Papua Bersenjata berada di wilayah Skouwtiau, Papua Nugini (PNG). Negosiasi antara oknum Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu dengan pihak PNG Army terus dilakukan dan hari ini adalah batas terakhir pembebasan sandera.

"Hari ini batas terakhir dari waktu 72 jam seperti negoisasi sebelumnya. Kalau sandera tidak dibebaskan, maka akan dilakukan langkah-langkah represif.

Pembebasan sandera dengan cara pemaksaan untuk melepaskan warga," ungkap Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Teguh Puji Rahardjo kepada detikcom, Senin (14/9).

Meski demikian, ini tidak bisa dilakukan oleh TNI karena berada di wilayah PNG. Namun mengenai operasi pembebasan sandera ini, TNI terus berkoordinasi dengan angkatan bersenjata PNG dan pemerintah setempat melalui Konsulat RI dan Atase Pertahanan (athan) di Vanimo, Papua Nugini.

"Tapi ini yang melakukan PNG Army karena TNI tidak boleh masuk (melakukan operasi) ke wilayah negara lain," katanya.

Meski begitu, prajurit TNI terutama dari Kodam Cenderawasih sejak peristiwa ini terjadi sudah berada di perbatasan. Ini juga sebagai bentuk antisipasi jika kelompok OPM memutuskan kembali ke wilayah Papua.

"Kita tetap standby di perbatasan. Kita siap dengan segala perkembangan yang, hanya tinggal menunggu perintah. Kita terus monitor apa yang dilakukan tentara PNG," tutur Teguh.

Sebelumnya Kapuspen TNI Mayjen Endang Sodik mengatakan TNI berharap agar proses negosiasi oleh PNG Army terhadap pihak penyandera dilakukan tidak dengan kekerasan. Pasalnya ada kekhawatiran jika kekerasan dilakukan akan ada lagi korban jiwa dalam peristiwa ini.

Sebelum penculikan terjadi, peristiwa berawal dari penembakan OPM terhadap 4 pekerja penebang kayu di kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua, Rabu (9/9). Satu orang tewas dalam insiden itu, namun satu orang berhasil kabur meski terluka. Sayangnya OPM berhasil membawa 2 pekerja lainnya untuk disandera di wilayah Papua Nugini. (detikcom/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru