Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 13 September 2026

Golkar Pecah, Agung dan Ical Bakal Ditinggal

- Senin, 21 September 2015 14:51 WIB
321 view
 Golkar Pecah, Agung dan Ical Bakal Ditinggal
Jakarta (SIB)- Sekelompok elite Golkar mendorong digelar Munaslub akhir 2015 ini. Akankah Golkar pecah jadi tiga keping kehancuran?

Golkar resmi terpecah belah setelah Agung Laksono dan sejumlah elite Golkar lain seperti Priyo Budi Santoso, Yorrys Raweyai, Agus Gumiwang Kartasasmita, Zainuddin Amali dkk menggelar  Munas Golkar tandingan di Ancol, pasca kemenangan Aburizal Bakrie di Munas Bali.

Setelah terpilih jadi Ketum Golkar hasil Munas Ancol itu, Agung Laksono langsung menyatakan dukungan ke pemerintahan Jokowi-JK. Tak lama kemudian mereka mengantongi SK Menkum HAM, belakangan Agung juga mengantongi keputusan PT TUN yang membatalkan gugatan Golkar kubu Aburizal Bakrie (Ical).

Namun demikian kubu Aburizal Bakrie tak tinggal diam. Ical terus menempuh jalur hukum baik melalui jalur peradilan umum maupun administrasi. Sampai kini proses dua kubu yang saling menggugat belum juga kelar.

Perpecahan Partai Golkar semakin menjadi-jadi, bahkan sudah sampai daerah karena kedua kubu sudah menggelar musda untuk melantik jajaran pengurus Golkar di daerah. Situasi semakin sulit saat Golkar menghadapi ancaman terbesar yakni berpotensi gigit jari tak ikut pilkada serentak.

Berbagai upaya islah sudah dilakukan dua kubu, termasuk Ketua Wantim Golkar hasil Munas Bali Akbar Tandjung pun ikut memediasi islah, namun kandas. Sampai kemudian Wakil Presiden Jusuf Kalla turun tangan.

Meski sempat terjadi perdebatan soal Golkar mana yang berhak meneken surat rekomendasi caleg, namun akhirnya keduanya sepakat meneken usulan bersama-sama. Singkat cerita kedua kubu akhirnya sepakat membentuk tim penjaringan Pilkada dan Golkar selamat bisa mengikuti Pilkada serentak.

Upaya islah parsial untuk mengikuti pilkada yang digalakkan JK jadi angin segar bagi sejumlah elite Golkar yang jengah dengan situasi perpecahan yang mengancam kehancuran partai beringin. Mereka pun mulai mendorong agar ada islah permanen dan tak ada lagi Golkar Ical dan Agung Laksono. Sejumlah elite Golkar di kedua kubu kini mulai mempersiapkan munaslub untuk melahirkan Golkar baru.

"Pak JK sudah buat terobosan (memediasi Golkar untuk pilkada), Golkar akan kembali. Kita akan melahirkan Golkar dengan Golkar baru dan ikon baru sebelum 9 Desember (pilkada -red), kalau Golkar mau besar ke depan," kata Waketum Golkar hasil Munas Ancol, Yorrys Raweyai, kepada detikcom, Selasa (15/9).

Sejumlah elite Golkar seperti Wakil Ketua MPR Mahyudin pun mendukung langkah ini. Sama seperti Yorrys, dia juga meminta Ical dan Agung Laksono legowo.
"Saya kira kader Golkar banyak. Ada tokoh muda seperti Pak Novanto, Pak Priyo, Pak Aziz, Ade Komarudin, termasuk saya sendiri. Golkar butuh penyegaran untuk generasi berikutnya. Pak Agung dan Pak Ical harus legowo, tunjukkan sikap negarawan," ujarnya.

Namun persoalannya apakah Ical dan Agung bakal begitu saja legowo? Kalau Ical dan Agung tak mau legowo kemudian para kader muda Golkar tetap menggelar munaslub, apakah tak akan menimbulkan persoalan baru melahirkan pecahan Golkar yang ketiga?

Oktober Bakal Lahir Golkar Baru!
Waketum Golkar hasil Munas Ancol Yorrys Raweyai bersama sejumlah elite Golkar dari Golkar kubu Aburizal Bakrie (Ical) dan Agung Laksono menggagas Munas Luar Biasa bulan Oktober 2015 nanti. Yorrys sesumbar bakal melahirkan Golkar baru.

"Mungkin di bulan Oktober bertepatan dengan lahirnya Golkar. Kita sih maunya gitu tetapi lihat saja prosesnya nanti," kata Yorrys.

Lalu bagaimana dukungan di daerah terkait rencana Munaslub Golkar? Yorrus yakin sekali perwakilan daerah Golkar bakal mendukung upaya islah permanen Golkar ini.

"Semua sedang proses. Ditunggu saja. Daerah-daerah itu kan asas legalitas pasti setuju-setuju aja. Pokoknya lagi proses," katanya.

Yorrys memang tengah menggalang Munaslub bersama sejumlah elite Golkar seperti Waketum Hasil Munas Bali Nurdin Halid dan beberapa pengurus inti Golkar di dua kubu yang bersengketa sampai kini. Penggagas Munas Luar Biasa ini ingin perpecahan Golkar segera berakhir.

Yorrys akan mengajak Agung dan Ical dalam Munas Luar Biasa itu tapi kalau keduanya tak mau ikut, keduanya pun bakal ditinggal.

 Terpecah Belah Sampai Daerah
Perpecahan partai Golkar sudah sangat parah. Perpecahan tak hanya di pusat tapi sudah menjalar sampai daerah.

"Golkar sudah terbelah sampai tingkat I sampai tingkat II. Itulah yang saya prihatin," kata Ketua Wantim Golkar hasil Munas Bali, Akbar Tandjung.

Yang membuat Akbar semakin prihatin adalah Golkar masih terjebak di perpecahan sementara parpol lain sudah mempersiapkan Pilkada bahkan Pemilu Legislatif dan Pilpres serentak tahun 2019 mendatang. Sementara Golkar masih kocar-kacir dengan konflik internal.

"Partai lain mempersiapkan segala sesuatunya menghadapi Pilkada 2017, Pilkada 2018, kemudian Pileg dan Pilpres tahun 2009. Golkar walau ikut Pilkada 2015 tapi statusnya ada yang sebagai pengusung, pendukung, atau bahkan tidak ikut sama sekali," keluh Akbar.

"Bahkan ada sejumlah Pilkada seperti di Provinsi Sumbar, Sibolga, Golkar tidak mendukung karena Golkar satu mendukung si A satu lagi mendukung si B. Karena tidak kompak akhirnya tidak ikut Pilkada," sesal Akbar yang kebetulan berasal dari Sibolga.

Sejak awal Akbar memang menuturkan islah parsial untuk ikut Pilkada tidak menyelesaikan persoalan. Karena nyatanya sampai kini Ical dan Agung masih menempuh jalur hukum memperebutkan kepemimpinan Golkar yang sah.

"Saya sampaikan tidak ada jaminan konflik selesai di Pilkada. Sampai Golkar terpecah seperti sekarang ini," kata Akbar yang pernah mengusulkan Munaslub sebelum perpecahan Golkar menjalar sampai daerah ini. (Detikcom/k)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru