Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 13 September 2026

Jokowi: Publik Semakin Kritis, Negara Tidak Bisa Menghambat Arus Informasi

- Kamis, 19 November 2015 13:00 WIB
215 view
Jokowi: Publik Semakin Kritis, Negara Tidak Bisa Menghambat Arus Informasi
Jakarta (SIB)- Presiden Joko Widodo mengamati perkembangan informasi, terutama digital. Menurutnya, saat ini publik semakin kritis.
Jokowi mengatakan, di era digital saat ini, di mana arus informasi cepat tersebar, masyarakat semakin terbuka dan kritis menanggapi suatu isu atau pemberitaan.

"Sekarang publik semakin kritis. Tidak bisa kita berbicara langsung dipercaya. Publik sekarang semakin kritis. Bisa mengkalkulasi, bisa menghitung. Ini sebuah pembelajaran yang sangat baik. Tuntutan untuk dialog, untuk transparansi juga semakin kuat. Enggak bisa dibendung," ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan itu saat membuka acara Konvensi Nasional Humas (KNH) 2015 Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (18/11). Acara ini dihadiri oleh ratusan praktisi PR (Public Relation).

Jokowi mengatakan, arus informasi kencang ini tidak bisa dihambat, termasuk oleh negara. Menghadapi ini, diperlukan komunikasi yang baik secara dua arah.

"Jangan berharap negara bisa menghambat arus informasi. Enggak bisa. Dulu bisa menguasai media-media mainstream, sekarang mana bisa. Di blok kayak apapun, sosial media enggak bisa (dihambat)," kata Jokowi.

"Itulah dunia yang harus kita hadapi. Dalam konteks perkembangan seperti itu, tidak ada jalan lain untuk membangun trust, kepercayaan, reputasi untuk komunikasi yang dialogis, bukan monolog, yang satu arah. Tapi dialog. Dialog mudah diucapkan tapi memerlukan kesabaran, waktu dan kemampuan mendengar. Kadang mendengar ya sakit," katanya.

Terkait dengan masalah komunikasi dua arah alias dialog ini, Jokowi mengakui sering melakukannya. Terlebih pada saat menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta.

"Itu membutuhkan frame untuk berani medengar. Waktu jadi gubernur dulu saya masih mau keluar. 1.000, 3.000, 5.000 orang saya masih keluar. Langsung nongol, Tanya mau apa. Saya Tanya mau apa, jawabnya "Anu Pak anu". Kalau ditanya gitu jawabnya "Anu Pak". Maunya apa. Speaker yang diarahkan ke kantor kita, volumenya total, teriak,teriak. Katanya kalau enggak teriak-teriak enggak didengar. Saat memimpin di Solo di Jakarta, tugas saya mendengar.

Saya suruh masuk 15 orang untuk dengarkan apa yang dimau, kemudian diajak makan," jelas Jokowi. (detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru