Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 13 September 2026

Menko PMK Minta Soal Indeks Integritas UN Dikaji Lebih Detail

- Kamis, 10 Desember 2015 14:06 WIB
287 view
Menko PMK Minta Soal Indeks Integritas UN Dikaji Lebih Detail
Jakarta (SIB)- Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi untuk mengkaji lebih dalam penerapan Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN). Kajian ini dimaksudkan agar tidak terjadi kebingungan dalam penerapannya. "Ada beberapa daerah sebetulnya sudah memberlakukan indeks integritas ini, seperti di Malang dan Madura, tapi standar antara daerah ini belum jelas. Karena itu saya minta Mendikbud dan Menristek Dikti untuk lakukan kajian lebih detail supaya tidak terjadi kebingungan, termasuk kepala dinas pendidikan dalam melaksanakannya," kata Puan Maharani usai memimpin rapat koordinasi tingkat menteri mengenai kurikulum nasional dan persiapan UN, di Kantor PMK, Jakarta, Senin (8/12).

Rakor ini dihadiri Mendikbud Anies Baswedan. Puan juga minta soal IIUN ini disosialisasikan lebih luas kepada para pemangku kepentingan sampai ke daerah, sebab banyak yang belum mengetahuinya. Ia menegaskan nilai UN bukan penentu kelulusan, tetapi bisa mencerminkan nilai integritas dari siswa dan sekolah bersangkutan. Sebab, menurut dia, tujuan utama pendidikan adalah untuk membangun karakter anak didik, termasuk di dalamnya kejujuran. "Buat anak pintar itu gampang, tetapi tujuan utama kita bukan itu. Kalau ternyata ada sekolah yang nilainya tinggi tapi indeks integritas rendah, artinya nilai itu diperoleh dengan cara yang tidak jujur. Kita harapkan sekolah-sekolah mencerminkan indeks intergritas tingi, dan nilai UN juga tinggi," kata Puan.

Anies Baswedan mengatakan, Kemdikbud telah mengampanyekan IIUN ke sekolah dan dinas pendidikan di seluruh provinsi maupun kabupaten/ kota. Kemdikbud terus mendorong kesadaran pentingnya kejujuran dalam menjalani UN. Salah satu cara yang membantu adalah melalui computer atau computer based test (CBT) atau ujian secara online. Namun, karena keterbatan komputer, tidak semua sekolah bisa menerapkan CBT. Hanya beberapa sekolah yang dinilai layak siap menerapkan UN-CBT oleh Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemdikbud. "Tapi tahun depan kita harapkan semuanya harus CBT. Dan kita ingin komputerisasi tidak hanya dipakai untuk UN, tapi juga proses belajar," kata Anies.

Deputi Pendidikan dan Olah Raga Kemko PMK, Prof Agus Sartono, menambahkan, dengan dibuatkannya IIUN diharapkan pemerintah dapat membangun sekolah integritas. Secara tidak langsung konsep ini nantinya akan mendorong sekolah untuk berlomba-lomba menjadi sekolah integritas. Sebab, ini memberikan peluang kepada orang tua murid untuk memprotes jika sekolah bersangkutan berintegritas rendah. Demikian pula pemda setempat akan melakukan evaluasi anggaran yang dialokasikan untuk sekolah bersangkutan.

"Mulai tahun depan akan diberikan semacam penghargaan kepada sekolah dengan indeks integritas UN tertinggi," kata Agus. Agus mengatakan, evaluasi atau penilaian terhadap IIUN ini sangat mudah dilakukan. Misalnya, dari 20 jenis soal yang berbeda antara peserta UN, tetapi pada hasilnya terdapat kesalahan yang konsisten di antara beberapa siswa, maka bisa dipastikan ada kerja sama atau menyontek. IIUN merupakan akumulasi dari data yang diterima Puspendik untuk melihat tingkat kejujuran dalam pelaksanaan UN di setiap sekolah. IIUN dinilai penting karena kebocoran soal UN menimbulkan keraguan akan kualitas siswa yang sesungguhnya di perguruan tinggi.

Meski UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan, hasil UN tetap menjadi salah satu pertimbangan masuk perguruan tinggi. Hasil rekapitulasi Kemdikbud menunjukkan , sekolah yang meraih IIUN tertinggi, yaitu peringkat pertama adalah SMPN 1 Kota Magelang, Jawa Tengah dengan nilai 97,12%. Peringkat kedua SMPN 4 Pakem, Sleman, Yogyakarta 96,78%, disusul peringkat ketiga SMPN 1 Godean, Sleman, Yogyakarta 96,72%, dan SMPN 115 Jakarta 96,69%. Peringkat keempat SMP Labschool Kebayoran 96,69%, kelima SMP N 5 Yogyakarta 96,55%, keenam SMPN 2 Bantul, Yogyakarta 96,55 persen, dan ketujuh SMP Labschool Jakarta dengan 96,52%. Peringkat delapan SMPN 2 Purworejo, Jawa Tengah dengan 96,49% dan SMP Kanisius Jakarta 96,46%. Sekolah yang meraih nilai indeks integritas tertinggi secara umum meraih rata-rata nilai UN di atas 90. (SP/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru