Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Renault Protes, Ekspor Anoa ke Malaysia Tersendat

- Senin, 07 April 2014 15:32 WIB
498 view
Renault Protes, Ekspor Anoa ke Malaysia Tersendat
Jakarta (SIB)- Rencana ekspor panser Anoa buatan PT Pindad (Persero) ke Malaysia terancam gagal karena protes pabrikan otomotif asal Prancis, Renault. Rencananya, Pindad akan menjual Anoa ke negeri jiran itu menggunakan mesin Renault.

"Renault protes karena mereka juga menawarkan panser Renault ke Malaysia," kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan Pindad Wahyu Utomo, Minggu (6/4).

Pindad, kata dia, sebenarnya sudah memberikan alternatif kepada pemerintah Malaysia untuk menggunakan mesin Mercedes-Bens atau Deutz. Dua mesin alternatif, menurut Wahyu, sebenarnya sama tangguhnya. "Namun terserah user-nya. Hingga kini mereka belum memberikan jawaban mau pakai yang mana."

Sebelumnya Malaysia berminat membeli 23 panser Anoa buatan Pindad. Selain Malaysia, beberapa negara ASEAN lainnya juga menyatakan ketertarikannya, misalnya Brunei Darussalam dan Filipina. Selain itu, ada negara-negara Afrika dan Timur Tengah, seperti Irak dan Uganda, yang menyatakan ketertarikannya membeli panser seharga sekitar Rp 7 miliar ini.

Industri Strategis Butuh Insentif 

Kalangan industri strategis masih kesulitan memperoleh pasokan bahan baku dari dalam negeri. Wahyu Utomo mengatakan, ketika Pindad mendesain panser Anoa, pihaknya kesulitan mendapatkan baja sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan dari produsen baja dalam negeri. "Kami menginginkan baja yang akan digunakan panser Anoa sesuai dengan standar NATO. Dan itu belum ada di dalam negeri," ujarnya.

Pindad, kata dia, menghubungi PT Kratau Steel (Persero) Tbk untuk menyediakan baja seperti yang diinginkan. Permintaan tersebut disanggupi Kratau Steel. Namun ada ongkos yang harus dibayar untuk memenuhi permintaan tersebut.

"Kata Kratau Steel sampai harus habis miliaran untuk riset sebelum hasilkan baja sesuai dengan yang kami inginkan," kata Wahyu.

Menurut dia, untuk industri barang modal skala kecil, jumlah biaya riset itu tentunya sangat besar. Beban itu sebenarnya bisa dihindarkan apabila pemerintah memberikan insentif kepada industri barang modal.

Saat ini tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada alat utama sistem persenjataan sudah berkisar 60 persen. Namun masih bisa ditingkatkan lagi. "kalau bisa ditingkatkan batas minimal, maka industri supporting juga akan berusaha untuk memenuhi hal tersebut," ujarnya. (Tempo.co/ r)

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 7 April 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru