Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Bank Dunia: Ekonomi Tiongkok Melambat, RI Harus Cari Pasar Ekspor Baru

- Selasa, 08 April 2014 13:48 WIB
679 view
Bank Dunia: Ekonomi Tiongkok Melambat, RI Harus Cari Pasar Ekspor Baru
Jakarta (SIB)- Lembaga multilateral yaitu Bank Dunia memprediksikan ekspor Indonesia ke Tiongkok bakal melambat. Karena ekonomi negara tirai bambu tersebut melambat tahun ini.

World Bank East Asia and Pacific Regional Vice President Axel Van Trotsenburg mengatakan, Tiongkok merupakan negara tujuan utama ekspor Indonesia. Untuk mengantisipasi perlambatan ekspor tersebut, Indonesia perlu mencari pasar baru untuk tujuan ekspor Indonesia.

"Ekonomi China diperkirakan akan melambat. Tapi untuk mengantisipasi pelemahan, caranya cari pasar baru karena ini mengganggu pasar ekspor Indonesia," ujar Axel saat teleconference di Kantor Bank Dunia, Gedung BEI, Jakarta, Senin (7/4/2014).

Axel menyebutkan, pendapatan domestik bruto (PDB) Tiongkok di tahun ini diperkirakan hanya tumbuh 7,5%, atau lebih rendah dari tahun lalu yang sebesar 7,7%. Angka ini juga masih lebih rendah dibanding 2012 yang tumbuh 7,8%.

Namun, Axel menambahkan, harga komoditas minyak sawit (CPO) dan batubara yang diperkirakan akan terus meningkat menjadi sentimen positif untuk pasar ekspor Indonesia, walaupun Tiongkok sedang mengalami pelambatan.

"China memang melambat, tapi untuk dua bulan pertama komoditas utama Indonesia seperti CPO dan batubara harganya masih tinggi, ini bisa membuat pasar ekspor kembali bergairah," cetusnya.

Pemilu Positif Meningkatkan Konsumsi

World Bank atau Bank Dunia menanggapi kegiatan Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif di Indonesia yang akan berlangsung 9 April. Bagi World Bank, kegiatan Pemilu memberi efek positif buat ekonomi Indonesia terutama dari sisi pertumbuhan konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah.

Axel Van Trotsenburg menjelaskan masyarakat yang mengikuti Pemilu sangat memungkinkan meningkatkan konsumsi domestik Indonesia.

"Pengaruhnya positif ke konsumsi domestik karena konsumsi meningkat. Konsumsi masyarakat meningkat, jadi ada nasi kotak dibagi-bagi gratis. Dikasih kaos gratis, paket-paket gratis," ujar Van.

Menurutnya kondisi Pemilu di tahun ini dinilainya tidak seheboh Pemilu di tahun 2009 lalu. Pada Pemilu sebelumnya lebih marak kegiatan luar ruangan dan poster.

"Memang positif meningkatkan konsumsi tapi nggak seheboh tahun 2009 karena sekarang nggak terlalu banyak poster," katanya.

Sementara itu, Lead Economist Bank Dunia perwakilan Indonesia Jim Brumby menambahkan, adanya Pemilu di Indonesia akan meningkatkan konsumsi masyarakat sebagai kenyataan yang positif.

"Pemilu ada effect-nya tentu. Positifnya, pertumbuhan konsumsi meningkat. Soal Jokowi, saya nggak akan berkomentar," cetusnya. (dtf/w)

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 8 April 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru