Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Penyaluran Kredit Perbankan di Sumut Menunjukkan Trend Penurunan

- Senin, 21 April 2014 14:15 WIB
472 view
 Penyaluran Kredit Perbankan di Sumut Menunjukkan Trend Penurunan
Medan (SIB)- Penyaluran kredit perbankan di Sumut sebesar Rp 152,15 triliun  atau menurun 0,42 % (mtm) dibandingkan bulan lalu dan nilai ini masih menunjukkan trend penurunan. Hal tersebut diungkap Direktur Eksekutif/ Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah IX (Sumut & Aceh), Difi A Johansyah kepada  dalam siaran persnya Jumat (18/4).

Dia menjelaskan, fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan dengan baik. Hal ini tampak pada pertumbuhan tahunan kredit yang meski melambat namun tetap tumbuh 14,84%  year on year (yoy). Pertumbuhan tahunan kredit perbankan konvensional dan syariah tercatat masing-masing 15,68% (yoy) dan 0,54% (yoy), sementara tahun lalu tercatat mencapai 24,25% (yoy) dan 49,09% (yoy).

Share kredit perbankan konvensional terhadap total penyaluran kredit sebesar 95,12% dan share pembiayaan perbankan syariah sebesar 4,88%. Kualitas kredit perbankan masih terjaga dengan baik.

Di tengah-tengah trend penurunan kredit, sebutnya, dukungan kredit perbankan terhadap 2 sektor ekonomi utama tetap tumbuh.

“Perlambatan pertumbuhan kredit terjadi seiring dengan kecenderungan peningkatan suku bunga kredit perbankan. Tingkat suku bunga kredit perbankan pada Februari 2014  sebesar 11,46 %, lebih tinggi 0,4% dibandingkan Februari 2013 atau meningkat 0,08 % dibandingkan Januari 2014. Di sisi lain, Bl Rate yang merupakan suku bunga acuan tidak mengalami kenaikan dan tetap berada di level 7 ,5 5 selama November 2013,” ungkap Difi. 

Wajar

Sementara itu  Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, wajar lah bila pertumbuhan kredit di Sumut melambat. Upaya stabilisasi yang dilakukan BI Bank Indonesia(BI) dengan mengerek suku bunga (BI Rate) naik hingga 7.5% saat ini menjadi salah satu alasan mengapa pencairan kredit mengalami penurunan. Undisbursed Loan (kredit menganggur) yang hanya turun 0.4% dari bulan Januari menunjukan penyerapan kredit perbankan masih sangat kecil.

Perlambatan ekonomi Sumut yang tengah terjadi dalam 1 tahun terakhir ini tentunya menjadi salah satu pemicu menurunnya penyerapan kredit perbankan di Sumut namun yang paling krusial yakni lonjakan tingkat suku bunga.

“Sehingga wajar saja ada penurunan pencairan kredit. Memang kondisi likuiditas sedang ketat-ketatnya akibat lonjakan harga BBM tahun lalu yang dibarengi dengan kenaikan BI rate. Akan tetapi, potensi penyerapan kredit memang akan lebih baik di semester ketiga hingga akhir tahun. Biasanya belanja pemerintah dan swasta cenderung mengalami peningkatan di setiap menjelang akhir tahun,” jelas Gunawan yang juga dosen ekonomi LP3I dan IAIN ini.

Namun penyerapannya tidak akan tumbuh signifikan dibandingkan tahun lalu. Selain itu, ada sejumlah indikator lain yang bisa dijadikan asumsi kemungkinan peningkatan pencairan kredit. Salah satunya adalah besar kemungkinan pengusaha menunggu hasil putaran Pilpres. Sehingga jika terlihat siapa yang akan menjadi presiden nantinya maka ancang-ancang ekspansi kembali dilakukan dan tentunya penyerapan kredit akan kembali normal.

“Secara keseluruhan kondisi seperti ini merupakan setting pemerintah dalam menjalankan fungsi stabilisasinya. Memang pertumbuhan ekonomi jadi melambat. Namun ini bagian dari skenario penyelamatan pasar keuangan kita. Memang bukan merupakan kebijakan yang diamini, namun kita memang tidak memiliki opsi lain yang bisa melindungi para pengusaha kita, ujarnya.(A3/ r)


Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 21 April 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru