Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

BUMN Ini Mulai Produksi Garam Farmasi Supaya RI Tak Perlu Impor Lagi

- Rabu, 23 April 2014 20:26 WIB
391 view
 BUMN Ini Mulai Produksi Garam Farmasi Supaya RI Tak Perlu Impor Lagi
Jakarta (SIB)- Indonesia masih tergantung terhadap produk garam farmasi impor. Padahal Indonesia memiliki sumber daya garam yang bisa diproduksi menjadi garam farmasi.

Untuk mengurangi ketergantungan impor ini, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Garam (Persero) membangun pabrik pengolahan garam farmasi di Watudakon, Jombang, Jawa Timur. Komitmen pembangunan pabrik garam farmasi ini ditindaklanjuti dengan penandatangan kerjasama antara Direktur Utama Garam Yulian Lintang, Direktur Utama Kimia Farma Rusdi Rusman. Penandatangan ini disaksikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.

Rusdi menjelaskan demi memenuhi kebutuhan garam farmasi untuk bahan baku obat, Kimia Farma selama ini mengandalkan impor. Dengan adanya pabrik ini, ketergantungan bisa berkurang. Pada tahap awal, pabrik garam farmasi mampu memproduksi 3.000 ton.

Proses kontruksi pembangunan pabrik dimulai triwulan III 2014 dan baru bisa memproduksi pada pertengahan 2015. Untuk membangun pabrik ini dibutuhkan investasi Rp 25 miliar.

"Ini terobosan kemandirian bahan baku obat di Indonesia yang selama ini impor. Hari ini Kimia Farma bersyukur. Tonggak kemandirian bahan baku obat, yang dimulai dari garam," kata Rusdi saat penandatanganan kerjasama di Lantai 21, Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (22/4).

Untuk pengembangan pabrik, sebenuhnya dibiayai Kimia Farma. Garam farmasi bisa digunakan sebagai bahan baku infus, produksi tablet, pelarut vaksin, sirup, oralit, cairan pencuci darah hingga minuman kesehatan.

Bahan baku farmasi ini akan digunakan sendiri dan dijual secara komersial. Sementara bahan baku garam akan dipasok oleh BUMN garam yakni PT Garam. Ke depan kapasitas produksi garam farmasi akan ditingkatkan hingga 6.000 ton per tahunnya."Hari ini saya senang. Babak pertama masuk dunia farmasi garam. Kita impor 100% untuk penuhi farmasi obat-obatan. Dari Tiongkok, Thailand, Taiwan dan Swiss," sebutnya.

Di tempat yang sama, Dahlan Iskan menjelaskan pendirian pabrik pengolahan garam farmasi merupakan tongkak sejarah. Bahan baku garam ini, merupakan salah satu satu hasil penerapan penelitian BPPT.

Penelitian BPPT tentang garam farmasi selanjutnya dikembangkan oleh BUMN. Harapannya Indonesia bisa lepas dari ketergantungan impor garam khususnya garam farmasi.

"Sama dengan Kimia Farma dan garam. Kita bersyukur tiga bulan lalu kita putuskan bersama. Kita undang BPPT. BPPT sebetulnya temukan apa saja. Kenapa temuan ini nggak dilaksanakan. Kita putuskan BUMN laksanakan. Ada 12 temuan bisa dilaksanakan. Tanpa tekad sungguh-sungguh ini nggak terealisir," kata Dahlan. (detikfinance/d)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru