Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026

Anjuran Agar Bank Hati-hati Salurkan Kredit Cukup Beralasan

- Selasa, 29 April 2014 19:44 WIB
638 view
 Anjuran Agar Bank Hati-hati Salurkan Kredit Cukup Beralasan
Medan (SIB)- Anjuran agar bank lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit cukup beralasan. Bank Indonesia (BI) sendiri memperkirakan pertumbuhan kredit sebesar 17% di tahun ini atau lebih rendah dari realisasi sebelumnya dimana perbankan masih mampu menyalurkan kredit naik 205 di tahun 2013 silam.

"Upaya stabilisasi yang dilakukan BI membuat perbankan memperlambat dalam penyaluran kreditnya. Perlambatan itu dikarenakan pengendalian laju tekanan inflasi. Pengendalian kredit yang disalurkan nantinya juga akan berdampak pada minimalisir pengurangan kredit bermasalah, ujar Gunawan Benyamin. Pengamat Ekonomi Sumut kepada wartawan, Senin siang (28/4).

Namun, tegasnya, apakah dengan kenaikan BI Rate dan perlambatan penyaluran kredit saat ini membuat NPL jadi berkurang?. Menurutnya tidak, justru dengan kenaikan BI rate maka potensi kredit macet yang timbul semakin meningkat. Hanya saja potensi kredit bermasalah akan semakin besar jika perbankan menyalurkan kredit dalam kondisi likuiditas yang serba sulit saat ini.

Selain itu, jika penyaluran kredit terus dilakukan secara besar-besaran di saat suku bunga tinggi dan kinerja ekonomi makro tidak begitu bersahabat, maka bukan hanya NPL yang dikuatirkan, namun laju tekanan inflasi jadi sulit dikendalikan. Sehingga, membiarkan penyaluran kredit tanpa kontrol yang pas di tengah kondisi yang serba sulit saat ini akan memperburuk kondisi ekonomi makro kita danĀ  bisa jadiĀ  menyeret kita masuk dalam kubangan krisis.

Akan tetapi, katanya, masih ada bank yang berani menargetkan pertumbuhan kredit yang tinggi. Salah satunya adalah BRI (Bank Rakyat Indonesia), dimana bank ini menargetkan pertumbuhan kredit naik maksimal 22% di tahun 2014 (mengacu kepada ekspektasi penyaluran kredit menjelang akhir tahun 2013 silam).

Tapi, BRI memiliki sumber dana pihak ketiga yang murah. Sehingga biaya modal yang harus dibayar BRI lebih kecil dibandingkan dengan bank-bank lainnya. Dan besaran bunga penyaluran kredit konsumer ditaksir berkisar 20 hingga 22%.

Berbeda dengan bank kecil, ungkapnya, justru tengah berjibaku mengumpulkan dana pihak ketiga. Pilihan dengan mengerek bunga deposito tentunya akan membuat bank itu lebih sulit dalam menyalurkan kreditnya. Bank-bank kecil umumnya mengalami kesulitan likuiditas seperti saat ini.

Sehingga pembatasan bukan semata-mata karena pengendalian NPL, lebih dari itu masalah inflasi bisa menjadi bumerang bila pembatasan kredit tidak dilakukan, imbuhnya Analis Ekonomi di salah satu sekuritas BUMN di Medan. (A3/h)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru