Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

RI Sempat Jadi Eksportir Gula Terbesar ke-2, Kini Importir Terbesar ke-3 Dunia

*BOS RNI Minta Bulog Batalkan Rencana Impor 350 Ribu Ton Gula
- Selasa, 29 April 2014 20:04 WIB
507 view
 RI Sempat Jadi Eksportir Gula Terbesar ke-2, Kini Importir Terbesar ke-3 Dunia
Jakarta (SIB)- Indonesia harus mengimpor 2,5 juta ton gula rafinasi per tahun atau menduduki peringkat importir gula terbesar ke-3 di dunia. Fakta ini berlawanan dengan kondisi Indonesia 80 tahun lalu ketika era Kolonial Belanda. Pada waktu itu, Indonesia pernah tercatat sebagai eksportir gula terbesar ke-2 di dunia.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Tito Pranoloh saat berdiskusi dengan media di Gedung Gula Negara, Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (28/04).

"Indonesia punya potensi untuk melakukan swasembada gula karena kita pernah menjadi eksportir terbesar ke-2 di dunia tahun 1930-an sekarang itu kita malah menjadi importir terbesar ke-3 di dunia," ungkap Tito.

Salah satu alasan mengapa Indonesia menjadi importir gula terbesar ke-3 di dunia adalah karena semakin menghilangnya areal tanam perkebunan tebu. Maka dari itu, ia meminta pemerintah untuk memperluas jumlah areal tanam tebu yang saat ini hanya tersisa 470.000 hektar.

"Di atas kertas perlu ada tambahan area 350.000 hektar. Sekarang luas areal tebu kita hanya 470.000 hektar. Jadi ada 800.000 hektar lebih," imbuhnya.

Menurut Tito, jumlah masih jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan Thailand. Saat ini jumlah areal tanam perkebunan tebu di Thailand mencapai 1,2 juta hektar.

Tito menjelaskan, pemerintah harus ikut campur tangan dalam penyediaan lahan perkebunan tebu baru. Selain itu, program revitalisasi pabrik gula juga perlu dilakukan dan pembangunan pabrik gula baru.

"Satu pabrik perlu 25.000 hektar atau ada tambahan 14 pabrik baru. Pemerintah harus punya kebijakan lahannya disediakan. Kemudian revitalisasi pabrik gula lama ini juga penting. Di Thailand kapasitasnya 13.000 ton/hari dia giling kita hanya 3.000 ton/hari," jelasnya.

Rencana Perum Bulog mengimpor gula kristal putih (GKP) sebanyak 350.000 ton di 2014 untuk keperluan stok di dalam negeri terus mengundang keresahan pelaku gula lokal. Rencana impor ini sudah mendapat restu dari pemerintah.

Misalnya Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro menilai impor GKP bakal merusak harga gula di pasar domestik. Ia beralasan pabrik gula RNI telah memasuki masa giling tebu sehingga rencana impor menjadi sentimen negatif di industri gula nasional.

"Musim giling tebu untuk memproduksi Gula Kristal Putih (GKP) konsumsi rumah tangga sudah dimulai. Jika dipaksakan impor, tentu sangat meresahkan dan mengancam petani tebu dan pabrik gula," kata Ismed dalam keterangan tertulisnya seperti dikutip Senin (28/4).

Ismed menjelaskan persediaan gula nasional di pabrik gula BUMN, saat ini masih sangat berlebih. Belum lagi ketika ada tambahan gula dari aktivitas musim giling 2014.

"Rencana Impor Gula Kristal Putih 350.000 ton sebaiknya dibatalkan. Pertama, stok gula nasional masih ada 800.000 ton lebih. Itu cukup untuk memenuhi kebutuhan gula nasional, 2-3 bulan ke depan," jelasnya. (detikfinance/h)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru