Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Nilai Ekspor Sumut Turun 1,25 Persen

- Sabtu, 03 Mei 2014 18:56 WIB
326 view
Nilai Ekspor Sumut Turun 1,25 Persen
Medan (SIB)- Nilai ekspor Sumatera Utara pada triwulan I (Januari-Maret 2014) mengalami penurunan 1,25  persen dibandingkan periode sama 2013 menjadi 2,387 miliar dolar AS.

"Triwulan I 2013, nilai ekspor masih sebesar  2,417 miliar dolar AS, sementara di periode sama 2014 sebesar 2,387 miliar dolar AS, penurunan ini lantaran harga jual berbagai barang ekspor melemah," kata Kepala Badan Pusat Statistik Sumut, Wien Kusdiatmono di Medan, Jumat.

Asumsi penuruan nilai ekspor karena harga jual turun mengacu pada fakta secara volume terjadi peningkatan ekspor di triwulan I.

Volume ekspor Januari-Maret 2014 naik menjadi 2.250.057 ton dari 2.244.479 ton di periode sama tahun lalu.

Meski di bulan Januari, volume ekspor turun menjadi  649.421 ton dari 815.308 ton bulan sama di tahun lalu, tetapi kemudian terjadi kenaikan lagi sehingga di periode Januari-Maret ada peningkatan.

"Syukurnya, di tengah terjadi penurunan devisa, neraca perdagangan luar negeri Sumut masih surplus karena impor hanya 1,199 miliar dolar AS," kata Wien.

Impor Sumut itu sendiri turun lebih besar atau 7,09 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sudah sebesar 1,291 miliar dolar AS.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah menyebutkan, penurunan devisa Sumut pada triwulan I memang tidak bisa dihindari karena harga  ekspor karet masih lemah di bawah 2 dolar AS per kg.

Padahal, karet merupakan pemberi terbesar kedua dalam penerimaan devisa Sumut setelah produk sawit.

Data menunjukkan, devisa dari karet dan barang dari karet Sumut pada triwulan I 2014 turun 23,50 persen atau tinggal. 453,894 juta dolar AS.

"Kalau devisa dari karet turun,  apalagi diikuti oleh  produk sawit,, sudah pasti nilai ekspor Sumut melemah," katanya.

Menurut Edy, turunnya harga jual karet dampak permintaan yang melemah dan berbagai faktor lainnya yang merupakan pengaruh krisis global.

SUMUT INFLASI  0,23 PERSEN DI APRIL

Sumatera Utara mengalami inflasi sebesar 0,23 persen pada April 2014 dipicu pada tiga kota indeks harga konsumen (IHK) yakni Sibolga, Medan dan Padang Sidempuan.

"Hanya Kota Pematangsiantar yang mengalami deflasi," kata Wien Kusdiatmono.

Sibolga inflasi 0,23 persen, Medan 0,34 persen dan Padangsidempuan 0,08 persen, sedangkan Pematangsiantar deflasi 0,66 persen.

Inflasi di tiga kota IHK itu sendiri dampak kenaikan harga berbagai barang kebutuhan pokok.

Di Medan misalnya harga bawang merah naik 12,65 persen dan daging ayam ras naik 3,75 persen.

Dengan inflasinya Sumut di April, maka laju inflasi kumulatif (April 2014 terhadap Desember 2013) Sumut mencapai 0,39 persen dan year on year (April 2014 terhadap April 2013) sebesar 7.05 persen.

Pengamat ekonomi Sumut, Wahyu Ario Pratomo menyebutkan, Tim Penanganan Inflasi Daerah harus meningkatkan kewaspadaan melihat harga jual yang tren naik sejak akhir April.

Diperkirakan, inflasi akan naik lagi di Mei dan bulan selanjutnya mengingat akan memasuki Bulan Ramadhan dimana permintaan akan melonjak.

Dia memberi contoh, pada Februari dan Maret  misalnya Sumut masih deflasi dan April sudah inflasi.

Walau inflasi di April masih kecil atau di bawah angka inflasi Januari yang 1,10 persen, tetapi harus diwaspadai.

"Jadi pengawasan pasokan dan distribusi harus ditingkatkan agar lonjakan harga bisa dikendalikan," katanya. (Ant/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru