Jakarta (SIB) - Ikan Pora-pora (Puntius binotatus), sebenarnya sudah cukup lama menjadi penghuni Danau Toba,Kabupaten Samosir, Prov.Sumatera Utara.
Danau yang terbentuk akibat letusan super volcano Gunung Toba sekitar 80.000 tahun lalu, Ikan pora-pora bukan hanya jadi konsumsi sehari-hari penduduk asli di pinggiran, tetapi juga menjadi hasil tangkapan nelayan tradisionil untuk menghidupi keluarga.
Keberadaan ikan pora-pora ini, tidak diketahui secara persis kapan jadi penghuni Danau Toba, namun sejak tahun 70-an, di kota turis Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Ikan pora-pora menjadi salah satu ikon bahkan menjadi nama jalan lingkar semenanjung Marihat, terletak di Istana Presiden , tempat pengasingan Presiden Soekarno di jaman penjajahan Belanda.
Beberapa tahun lalu, kelangsungan hidup Ikan pora-pora ini nyaris punah dari Danau Toba, karena berbagasi sebab, termasuk karena sering turunnya debet air danau, yang termasyhur di dunia itu.
Mengetahui keberadaan Ihan Batak dan ikan pora-pora diambang kepunahan, Presiden wanita pertama di negeri ini, yakni Megawati Soekarnoputri, berusaha mencari bibitnya ke beberapa negara seperti China,Thailand maupun Vietnam dan bertanya kepada pejabat negara yang bersangkutan. Tetapi, dijumpai jenis menyerupai Ihan Batak tersebut.
Walau demikian, Mega mendapat benih ikan pora-pora dan menyebarnya di Danau Toba.
Makanya, Ikan pora-pora yang oleh penduduk disekitar Danau Toba disebut Ikan Megawati, karena Megawatilah yang menabur benih ikan itu, dan kini telah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitaran Danau Toba.
Melihat potensi Ikan pora-pora yang ditebar, Megawati Soekarnoputri, menurut Irmadi. PDI Perjuangan pun meliriknya menjadi satu potensi lokal sebagai usaha ekonomi kerakyatan yang dapat dikembangkan di wilayah sekitar Danau Toba.
Terkait dengan itu, Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristyanto menerjunkan anak anak muda pelaku bisnis dan ekonomi untuk langsung meninjau potensi-potensi yang ada di daerah sebagai kekuatan dari ekonomi kerakyatan.
Putra Lubis, salah seorang pebisnis muda, sangat tertarik melihat potensi Ikan pora-pora yang ditabur Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Namun, dia prihatin melihat tidak adanya usaha untuk mengendalikan populasi ikan pora-pora ini, bahkan dia tidak begitu tertarik dengan kehadiran ribuan keramba (jaring apung) peternakan ikan mas bertebaran di perairan Danau Toba. Apa lagi keramba-keramba itu ternyata milik pengusaha-pengusaha besar yang tidak peduli dengan keindahan dan kebersihan Danau Toba.
Peternakan ikan mas dengan keramba tentu salah satu penyebab pencemaran dimakan setiap hari ribuan ton pakan ( makan) ikan yang sudah diolah secra kimia ditabur ke Danau Toba.
Berapa orang sih yang menikmati hasil dari peternakan ikan dengan kerambah itu? Mamfaat keramba itu terlalu kecil dibandingkerusakan Danau Toba sebagai sumber kehidupan rakyat," ujar Putra Lubis saat melihat langsung penangkapan Ikan pora-pora di Danau Toba bersama pelaku usaha Crispy Pora-pora Parlin Simanihuruk, Minggu (4/5), di Simanindo- Pulo Samosir.
Putra Lubis mengatakan jika potensi Ikan Pora-pora di Danau Toba ini dikembangkan menjadi andalan sumber perekonomian kerakyatan, maka dunia kepariwisataan tidak akan tertaganggu . Sebab ikan pora-pora itu bebas mengarungi Danau Toba dan makannya pun alami, tidak seperti ikan mas yang diternakkan dalam keramba.
" Saya yakin kehidupan para nelayan dan masyarakat sekitar Danau Toba akan meningkat, jika potensi ikan pora-pora ini dijaga dan penangkapan terkendali sehingga populasi ikan tidak mengalami penurunan," ujar Putra Lubis.
Dia menambahkan, apa yang dilihat dan didapatnya dari meninjau potensi ikan pora-pora di Danau Toba , akan diajukan ke PDI Perjuangan sebagai salah satu usaha ekonomi kerakyatan yang harus dikembangkan dan dijaga.
Parlin Manihuruk menambahkan ikan pora-pora hasil tangkapan nelayan Danau Toba memang beberapa bulan terakhir menurun, sebab penangkapan ikan pora-pora tidak terkendali , apalagi permintaan ikan pora-pora sangat tinggi sehingga memicu nelayan untuk mengeksploitasi sebanyak banyaknya. Bahkan, ikan pora-pora yang berada di hulu sungai tidak luput dari tangkapan , padahal ikan pora-pora akan melakukan ruaya pemijahan ke hulu sungai kembali.
Untuk mengantisipasi penurunan produksi ikan pora-pora di Danau Toba, kata Parlin, perlu dilakukan perubahan usaha perikanan dari konvensional ke usaha perikanan berkelanjutan.
Pengelolaan sumberdaya ikan pora-pora harus berpedoman pada ketentuan Maximum Sustainable .
Anggota DPR RI Komisi VI DPRRI dari Fraksi PDI Perjuangan H. Irmadi Lubis mengakui potensi ikan pora-pora di Danau Toba sebagai salah satu usaha yang cukup potensial untuk ekonomi kerakyatan .
(G1)
Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.