Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026
Anggota DPR RI H.Irmadi Lubis :

Ikan Pora-Pora, Potensi Usaha Ekonomi Kerakyatan di Danau Toba

- Rabu, 07 Mei 2014 13:59 WIB
1.314 view
 Ikan Pora-Pora,  Potensi Usaha Ekonomi Kerakyatan di Danau Toba
Ikan pora-pora krispi
Jakarta (SIB) - Ikan  Pora-pora (Puntius binotatus), sebenarnya sudah cukup lama menjadi penghuni Danau Toba,Kabupaten Samosir, Prov.Sumatera Utara. 

Danau yang terbentuk akibat letusan super volcano Gunung Toba  sekitar  80.000  tahun lalu, Ikan pora-pora bukan hanya jadi konsumsi sehari-hari penduduk asli di pinggiran, tetapi juga menjadi hasil tangkapan nelayan tradisionil untuk menghidupi keluarga. 

 Keberadaan ikan pora-pora ini, tidak diketahui secara persis kapan jadi penghuni Danau Toba, namun sejak tahun 70-an, di kota turis Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Ikan pora-pora  menjadi salah satu ikon bahkan  menjadi nama jalan lingkar semenanjung Marihat,  terletak  di Istana Presiden , tempat pengasingan Presiden Soekarno di jaman penjajahan Belanda. 

Beberapa tahun lalu, kelangsungan hidup Ikan pora-pora ini nyaris punah dari  Danau Toba, karena berbagasi sebab, termasuk karena sering turunnya debet air danau, yang termasyhur di dunia itu. 

  Mengetahui  keberadaan Ihan Batak dan ikan pora-pora diambang kepunahan,  Presiden wanita pertama di negeri ini, yakni Megawati Soekarnoputri, berusaha  mencari bibitnya ke beberapa negara seperti China,Thailand maupun Vietnam dan bertanya kepada pejabat negara yang bersangkutan.  Tetapi,   dijumpai  jenis menyerupai Ihan Batak tersebut.

Walau demikian, Mega mendapat benih ikan pora-pora dan  menyebarnya  di Danau Toba.

Makanya,  Ikan pora-pora yang  oleh penduduk disekitar Danau Toba  disebut  Ikan Megawati, karena Megawatilah yang menabur  benih  ikan itu,  dan kini telah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitaran Danau Toba.

 Melihat potensi Ikan pora-pora yang ditebar, Megawati Soekarnoputri,  menurut Irmadi. PDI Perjuangan pun meliriknya menjadi satu potensi lokal  sebagai  usaha ekonomi kerakyatan yang dapat dikembangkan di wilayah sekitar Danau Toba.

Terkait dengan itu,  Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristyanto menerjunkan anak anak muda pelaku bisnis dan ekonomi untuk  langsung meninjau potensi-potensi yang ada di daerah  sebagai kekuatan dari  ekonomi kerakyatan.

Putra Lubis, salah seorang pebisnis muda, sangat tertarik melihat potensi Ikan pora-pora yang  ditabur  Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. 

 Namun, dia prihatin melihat tidak adanya usaha untuk mengendalikan populasi ikan pora-pora ini, bahkan dia tidak begitu tertarik dengan kehadiran ribuan  keramba  (jaring apung) peternakan ikan mas bertebaran  di perairan Danau Toba.  Apa lagi keramba-keramba itu ternyata milik pengusaha-pengusaha besar yang tidak peduli dengan keindahan dan kebersihan Danau Toba.

Peternakan ikan mas dengan keramba tentu salah satu penyebab pencemaran dimakan setiap hari ribuan ton pakan ( makan) ikan  yang sudah diolah secra kimia ditabur ke  Danau Toba.

Berapa orang sih yang menikmati  hasil dari peternakan ikan  dengan kerambah itu? Mamfaat keramba itu terlalu kecil dibandingkerusakan Danau Toba  sebagai sumber kehidupan rakyat,"  ujar Putra Lubis saat melihat langsung  penangkapan Ikan pora-pora di Danau Toba bersama pelaku usaha Crispy Pora-pora Parlin Simanihuruk, Minggu (4/5), di Simanindo- Pulo Samosir.

Putra Lubis mengatakan jika potensi Ikan Pora-pora di Danau Toba ini dikembangkan menjadi  andalan sumber perekonomian kerakyatan, maka  dunia kepariwisataan tidak akan tertaganggu . Sebab ikan pora-pora itu bebas mengarungi Danau Toba dan makannya pun alami, tidak seperti ikan mas yang diternakkan dalam keramba.

"   Saya yakin kehidupan para nelayan dan masyarakat sekitar Danau Toba akan meningkat,  jika  potensi ikan pora-pora ini dijaga  dan  penangkapan terkendali sehingga  populasi ikan tidak mengalami penurunan," ujar Putra Lubis.

Dia  menambahkan, apa yang dilihat dan didapatnya dari meninjau potensi ikan pora-pora di Danau Toba , akan diajukan ke PDI Perjuangan sebagai salah satu usaha ekonomi kerakyatan yang harus dikembangkan dan dijaga.

Parlin  Manihuruk menambahkan ikan pora-pora hasil tangkapan nelayan Danau Toba memang beberapa bulan terakhir menurun, sebab penangkapan ikan pora-pora  tidak terkendali , apalagi  permintaan ikan pora-pora  sangat  tinggi sehingga  memicu nelayan untuk mengeksploitasi sebanyak banyaknya. Bahkan, ikan pora-pora yang  berada  di hulu sungai tidak luput dari tangkapan , padahal ikan pora-pora  akan melakukan ruaya pemijahan ke hulu sungai kembali.

Untuk mengantisipasi penurunan produksi ikan pora-pora di Danau Toba, kata Parlin, perlu dilakukan perubahan usaha perikanan dari konvensional ke usaha perikanan berkelanjutan.

Pengelolaan sumberdaya ikan pora-pora harus berpedoman pada ketentuan Maximum Sustainable .

Anggota DPR RI  Komisi VI DPRRI dari Fraksi PDI Perjuangan  H. Irmadi Lubis  mengakui potensi ikan pora-pora di Danau Toba sebagai salah satu  usaha yang cukup potensial untuk ekonomi kerakyatan . (G1) 

 Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru