Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Harga Nikel Naik Dipicu Larangan Ekspor Tambang

*Harga Seen Juga Bakal Naik 4 %
- Kamis, 08 Mei 2014 12:58 WIB
638 view
 Harga Nikel Naik Dipicu Larangan Ekspor Tambang
Jakarta (SIB)- Larangan ekspor hasil tambang mentah yang direalisasikan awal 2014 membuat harga nikel melonjak sampai dengan 20%. Harga jual nikel untuk industri logam sejak Januari terus menguat dan akan menembus level US$ 22 ribu per ton.

Hal ini diungkapkan oleh Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Nico Kanter pada acara Institutional Investor Day 2014 di Gedung BEI, SCBD, Jakarta, Rabu (7/5).

Hasil dari kebijakan pelarangan ore dan ada dampak dari diberikannya sanksi kepada Rusia oleh AS. Jadi sentimen pasar membuat lonjakan harga nikel," ungkapnya.

Indonesia bisa menjadi salah satu faktor penentu harga nikel Internasional. Karena 30% produksi nikel dunia berada di Indonesia. Dengan pelarangan tersebut, artinya ekspor nikel selama ini bisa terkontrol.

"Karena kita berbicara soal nickel ore (bijih nikel), ini kalau buat kita tidak (berdampak buruk) karena itu membantu Indonesia sendiri, Indonesia itu kan memiliki 30% lebih dari share market dunia dan ekspor sebelumnya sangat tidak terkontrol," ujarnya.

Ini akan menguntungkan Indonesia, saat olahan nikel mulai ekspor. Karena harganya akan jauh meningkat dibandingkan dengan saat ini. "Kalau ada perbaikan dari harga, dan juga membuat Indonesia untung. Kemudian kalau kita lihat, bicara ekspor itu membuat arah pemegang izin itu juga mengikuti sandar lingkungan yang baik. Itu juga dampak yang baik," paparnya.

Untuk perusahaan sendiri, pada triwulan II-2014 diharapkan ada peningkatan laba. Seiring juga dengan peningkatan produksi yang terus meningkat. Pendapatan kuartal I adalah US$ 213 miliar. "Nanti dampaknya itu akan terlihat triwulan II/2014. Akibat dari (naiknya) harga nikel," kata Nico.

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) juga bakal menaikkan harga semen sekitar 3%-4% tahun ini. Kenaikan harga semen akibat kenaikan tarif listrik industri mulai 1 Mei 2014. Direktur Utama PT Semen Indonesia Dwi Soetjipto mengatakan keputusan menaikkan harga semen ini perlu dilakukan agar kinerja perseroan terus berjalan pasca tarif listrik naik. Industri semen termasuk yang banyak mengkonsumsi listrik untuk kegiatan produksi.

"Dengan asumsi kenaikan cost tadi kalau tidak ada kenaikan harga kinerja akan tergerus. Kenaikan harga sekitar 3%-4% tahun ini. Listrik saja naik 65%," ujar Dwi saat acara Institutional Investor Day 2014 di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (7/5).

Ia menyebutkan, angka kenaikan tersebut sudah berdasarkan perhitungan kenaikan tarif listrik, pengurangan subsidi BBM, dan dampak kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP). "Ada kenaikan listrik, pengurangan subsidi BBM, dampak UMP. Ini tekanan-tekanan yang kita alami dan hadapi di 2014," jelas dia.
Menurutnya kenaikan harga semen akan dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun. Hal ini berdasarkan kemampuan daya beli masyarakat Indonesia.

"Pelaksanaannya bertahap sampai akhir tahun, melihat juga kemampuan daya beli masyarakat kita, kenaikan itu sudah sangat minim," cetusnya. (detikfinance/f)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru