Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

128 Hektare Sawah Hilang dalam Setahun

- Kamis, 08 Mei 2014 13:00 WIB
355 view
 128 Hektare Sawah Hilang dalam Setahun
Tasikmalaya (SIB)- Dalam waktu satu tahun, seluas 128 hektare lahan persawahan di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, berubah fungsi menjadi permukiman dan lahan non-persawahan. Data ini dilansir Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya tahun 2013.

"Lahan yang hilang tersebut tergolong lahan produktif dengan hasil panen signifikan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya, Henry Nugroho, Selasa (6/5).

Menurut dia, laju pembangunan dan pertumbuhan jumlah penduduk tidak bisa dibendung. Hal ini berimbas kepada kebutuhan tempat tinggal yang cukup besar. "Oleh karenanya kita memerlukan pencetakan lahan pertanian baru guna mengganti 128 hektare lahan yang hilang," ujar Henry.

Dinas Pertanian, dia menjelaskan, telah mencetak 50 hektare lahan persawahan baru pada tahun 2013. Selain itu, merencanakan pencetakan lahan baru lainnya di Kecamatan Cipatujah dan Pancatengah seluas 50 hektare. Namun hal itu belum sebanding dengan luas lahan persawahan yang hilang. "Untuk lebih menambah luas lahan, kami mempersiapkan sejumlah irigasi teknis agar mampu mengairi lahan persawahan," kata dia.

Data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, saat ini ada 49 ribu hektare lahan persawahan dengan produktivitas mencapai 883 ribu ton gabah kering pada tahun 2013. Dia mengklaim, Kabupaten Tasikmalaya telah surplus sebanyak 300 ribu ton gabah kering per tahun. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 200 ribu ton per tahun.

Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum, mengatakan pemerintah akan terus membangun sejumlah saluran irigasi di sejumlah daerah untuk mengairi lahan persawahan. Kata dia, ada lebih dari 200 saluran irigasi yang nantinya mengairi lahan pertanian masyarakat.

Saluran irigasi yang baru dibangun, Uu mencontohkan, yakni irigasi Cijalu di daerah Tasikmalaya selatan. Irigasi ini melintasi empat kecamatan, yakni Karangnunggal, Bantarkalong, Bojongasih, dan Cipatujah, serta mampu mengairi lebih dari 1.500 hektare. "Kita upayakan membangun irigasi, sehingga tanah yang dulu tidak teraliri air sekarang mampu diairi dan mencetak lahan persawahan baru," jelas Uu. (Tempo.co/f)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru