Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Defisit Neraca Perdagangan Sebabkan Rupiah Sulit Menguat

- Jumat, 06 Juni 2014 12:23 WIB
375 view
Defisit Neraca Perdagangan Sebabkan Rupiah Sulit Menguat
Jakarta (SIB)- Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menilai defisit neraca perdagangan yang terjadi pada April 2014 sangat mempengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah dan membuat rupiah semakin sulit untuk kembali menguat.

"Kalau terkait nilai tukar (yang melemah), paling sederhana kita lihat neraca perdagangan. Kalau neraca perdagangan defisit bagaimana rupiah kita mau menguat," ujar Agus di Jakarta, Kamis.

Menurut Agus, untuk memperbaiki nilai tukar rupiah ke arah yang lebih positif, perlu ada upaya ekstra agar ekspor dapat kembali meningkat.

"Ekspor non migas memang ada peningkatan, tapi ekspor mineral terjadi penurunan. Impor kita kan juga besar," kata Agus.

Selain itu, lanjut Agus, kondisi ekonomi global juga patut jadi perhatian seperti melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang merupakan salah satu negara tujuan ekspor terbesar Indonesia.

"Perlambatan ekonomi Tiongkok ini juga berdampak pada perekonomian Indonesia," ujar Agus.

Neraca perdagangan Indonesia pada April 2014, sesuai dengan publikasi BPS, mengalami defisit sebesar 1,96 miliar dolar AS, setelah pada bulan sebelumnya mencatat surplus sebesar 0,67 miliar dolar AS. Kinerja neraca perdagangan tersebut dipengaruhi oleh neraca perdagangan nonmigas April 2014 yang berbalik dari surplus menjadi defisit, meskipun defisit neraca perdagangan migas tercatat lebih rendah dibandingkan kondisi Maret 2014.

Neraca perdagangan nonmigas mencatat defisit 0,89 miliar dolar AS dibandingkan dengan surplus 2,02 miliar dolar AS pada Maret 2014, dipengaruhi ekspor nonmigas yang terkontraksi 7,09 persen (mtm) dan impor nonmigas yang meningkat 19,32 persen (mtm). Pertumbuhan negatif ekspor nonmigas terutama terjadi pada komoditas utama yang berbasis sumber daya alam seperti batubara dan minyak nabati seiring melemahnya permintaan dari Tiongkok dan India.

Di sisi lain, ekspor manufaktur (seperti mesin/pesawat mekanik, pakaian jadi bukan rajutan, dan alas kaki) masih mengalami peningkatan. Sementara itu, meningkatnya pertumbuhan impor nonmigas terutama didorong oleh kenaikan impor pada 9 dari 10 golongan barang utama seperti mesin & peralatan mekanik, mesin & peralatan listrik, dan besi baja.

Neraca perdagangan migas juga mengalami defisit pada bulan April 2014, meskipun turun  menjadi 1,07 miliar dolar AS dari 1,35 miliar dolar AS di bulan Maret 2014.  Menyempitnya defisit neraca perdagangan migas ini didorong oleh kontraksi impor migas yang lebih dalam dibandingkan kontraksi ekspor migas. Impor migas terkontraksi 7,55 persen (mtm), akibat penurunan impor hasil minyak sebesar 0,5 persen (mtm) dan minyak mentah 24,78 persen (mtm), sementara ekspor migas hanya mengalami penurunan sebesar 0,35 persen (mtm) akibat turunnya ekspor minyak mentah.

Bank Indonesia memandang defisit neraca perdagangan April 2014 ini masih sesuai dengan pola musiman antara lain terkait dengan meningkatnya permintaan menjelang bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Kondisi ini diperkirakan akan kembali membaik didorong oleh meningkatnya aktivitas ekspor sejalan dengan perbaikan ekonomi global.

"Kami masih berkeyakinan defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan tahun 2014 dapat ditekan di bawah 3 persen dari PDB," ujar Agus. (Ant/i)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru