Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Penyeludupan Barang Meningkat, Potensi Kerugian Negara Rp 33 M dalam 5 Bulan

- Senin, 09 Juni 2014 12:48 WIB
294 view
 Penyeludupan Barang Meningkat, Potensi Kerugian Negara Rp 33 M dalam 5 Bulan
Jakarta (SIB)- Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu), terlihat tren peningkatan penyeludupan barang yang berhasil ditindak selama 2-3 tahun terakhir.

Pada tahun 2012, sedikitnya tercatat ada sekitar 3.013 penindakan dengan jumlah potensi kerugian negara mencapai Rp 263.129.370.438. Sementara itu, di tahun 2013 tercatat ada sekitar 4.700 penindakan dengan jumlah potensi kerugian negara mencapai Rp 296.877.173.271.

Sedangkan untuk tahun 2014, untuk periode 1 Januari-31 Mei 2014, sudah berhasil ditindak sedikitnya 1.692 upaya penyeludupan dangan potensi kerugian negara hingga Rp 33.120.574.288.

Berikut daftar jenis barang yang dicoba diselundupkan:

Tekstil dan Produk Tekstil

Sembako (Gula, Beras, dan Lainnya)

Handphone dan kelengkapannya

Barang elektroniks

Biji plastik

Kendaraan bermotor

Makanan dan minuman

Perhiasan dan accesories

Senjata dan bahan peledak

Obat-obatan dan bahan kimia

Kayu dan Rotan

Pupuk

Bahan Bakar Minyak

Air soft gun

Hasil tembakau

Minuman beralkohol

Ethyl alkohol

Minyak sawit dan turunannya

Mineral dan barang tambang

Pasir timah

Pasir lainnya, tanah dan top soil

Narkotika dan psikotropika

Barang terlarang dan terbatas

Barang bekas

Produk hak kekayaan intelektual (HAKI)

Uang tunai

Barang lainnya


Direktur Jenderal Bea dan Cukai Agung Kuswandono mengatakan tren penyelundupan karena tingginya permintaan terhadap produk-produk tertentu yang seringkali merupakan produk terlarang, terbatas, atau perbedaan harga yang cukup tinggi antara produk yang diimpor resmi dengan yang diselundupkan.
Selain itu, maraknya aksi penyeludupan didukung dengan menjamurnya pelabuhan-pelabuhan target penyeludupan atau yang biasa dikenal sebagai pelabuhan tikus di hampir seluruh wilayah pesisir di tanah air.

"Pelabuhan tikus ini nggak harus melulu harus tersembunyi. Ada yang begitu (tersembunyi) ada yang memang terbuka, seperti di Pelabuhan Tangkahan. Modelnya mereka membangun rumah di atas sungai (yang mengalir ke laut), nanti perahu mereka dimasukkan di bawah rumah mereka. Jadi transaksinya di bawah rumah mereka itu," ujarnya kemarin.

Indonesia merupakan wilayah yang kerap dijadikan kegiatan penyeludupan, namun aparat yang akan menindak para pelaku penyeludup tak mudah melakukannya.

"Jumlah mereka (penyeludup) bisa ribuan, karena seluruh perumahan di sana dibangun di pinggir sungai. Seperti di Dumai, Teluk Ribung, dan banyak lagi. Mereka juga hampir setiap rumah punya perahu. Kalau di sini semua rumah punya mobil di sana semua rumah punya perahu," tuturnya. (detikfinance/f)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru